Siasat Pintu Belakang China: Bukukan Surplus Perdagangan di Tengah Tarif Trump

1 day ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Meski dihantam badai tarif impor dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Ekonomi China justru mencatatkan rekor surplus perdagangan sebesar USD 1,1 triliun. Data rantai pasok terbaru mengungkap bahwa China tidak hanya bertahan, tetapi "berjaya" melalui strategi pengalihan produksi ke Asia Tenggara dan penggunaan kerja paksa.

Dikutip dari CNBC, Minggu (1/2/2026), data pengiriman barang dari Vizion dan firma risiko rantai pasokan Exiger menunjukkan bahwa Beijing berhasil mengakali kebijakan proteksionisme Amerika Serikat. Dengan strategi menggunakan negara-negara tetangga, termasuk Indonesia dan Vietnam, sebagai "pintu belakang" untuk menyusupkan produk mereka ke pasar Negeri paman Sam tersebut.

CEO Exiger, Brandon Daniels, mengungkapkan bahwa surplus fantastis ini adalah hasil dari upaya masif China dalam melakukan rekayasa rute pengiriman global.

"China menciptakan zona ekonomi khusus di negara-negara ini. Kenyataannya, sebagian besar produk tetap dibuat di China, lalu dikirim ke negara-negara Asia lain hanya untuk proses perakitan akhir demi menghindari tarif," ujar Daniels dalam keterangannya kepada CNBC

Vietnam menjadi pemain utama dengan menampung 80 persen pengiriman dari perusahaan yang 100 persen dimiliki China.

Indonesia, Thailand, dan Malaysia juga mencatat lonjakan volume ekspor ke AS hingga 20 persen secara tahunan.

Salah satu contoh nyata adalah perusahaan furnitur pintar, MotoMotion China. Untuk menghindari tarif 25 persen, mereka mendirikan anak perusahaan di Vietnam. dengan ini memungkinkan barang tetap masuk ke AS dengan label "Made in Vietnam" meski komponen utamanya berasal dari Tiongkok.

Isu Kerja Paksa dan Dominasi Melalui Paksaan

Tak hanya soal rute pengiriman, laporan dari forcedlabor.ai milik Exiger mengungkap sisi gelap di balik murahnya produk ekspor China. Muncul dugaan kuat bahwa Beijing mensubsidi biaya tarif dengan menggunakan kerja paksa pada beberapa tahap manufaktur.

"PDB China tumbuh dengan menggunakan dominasi melalui paksaan," tegas Daniels.

Ia menambahkan bahwa praktik ini merupakan "penyalahgunaan keuangan" yang merusak pasar global.

Hingga tahun 2025, Satuan Tugas Penegakan Kerja Paksa AS telah memasukkan 144 entitas Tiongkok ke dalam daftar hitam. Praktik ini dilaporkan meluas di berbagai sektor, mulai dari suku cadang otomotif, alat elektronik, hingga peralatan dapur.

Dampak Bagi Amerika Serikat

Meskipun pemerintahan Trump berhasil mengumpulkan pendapatan tarif hingga $305 miliar di tahun pertama masa jabatan keduanya, dalam bentuk tarif, pajak, dan biaya, termasuk $250,9 miliar dalam pendapatan tarif. Tindakan penegakan hukum terhadap penghindaran tarif menghasilkan tambahan $1,2 miliar. Penutupan celah de minimis mengakibatkan Bea Cukai memulihkan lebih dari $1 miliar.

Para ahli memperingatkan bahwa praktik transshipment atau pengiriman ulang ini tidak hanya merugikan pendapatan negara, tetapi juga mematikan industri manufaktur domestik AS. Diperkirakan, penghindaran tarif oleh China menyebabkan hilangnya lebih dari satu juta pekerjaan di sektor perdagangan dan manufaktur Amerika.

Bakal Sulit Digoyahkan?

CEO Vizion, Kyle Henderson, melihat pola ini bukan sekadar tren sementara.

"Volume ekspor China telah menetapkan patokan baru di Vietnam, Indonesia, dan Malaysia. Ini menunjukkan adanya hubungan pengadaan yang lebih permanen di Asia Tenggara, bukan sekadar reaksi sesaat terhadap berita tarif," jelasnya.

Dengan kondisi ini, dominasi manufaktur China diprediksi tetap sulit digoyahkan, setidaknya hingga periode 2026-2027

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |