Harga Emas Dunia Runtuh Lagi, Sampai Kapan?

6 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia kembali melemah pada awal pekan ini, melanjutkan tekanan tajam yang terjadi setelah aksi jual besar-besaran pada akhir pekan lalu. Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS serta perubahan sentimen pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari CNBC, Selasa (3/2/2026), harga emas spot tercatat turun lebih dari 4% dan berada di kisaran USD 4.662,43 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas masih tertekan sekitar 1% ke level USD 4.694,60 per ons. Penurunan ini terjadi setelah harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi baru pekan lalu.

Tekanan di pasar logam mulia semakin kuat setelah CME Group menaikkan persyaratan margin pasca aksi jual tajam. Margin kontrak berjangka emas COMEX dinaikkan menjadi 8% dari sebelumnya 6%. Kebijakan ini dinilai mempersempit ruang spekulasi jangka pendek di pasar emas.

Analis CMC Markets, Christopher Forbes, menilai koreksi harga emas saat ini bersifat teknikal dan masih tergolong wajar. Menurutnya, penurunan tersebut merupakan koreksi klasik setelah reli yang luar biasa, bukan sinyal perubahan tren jangka panjang.

“Penurunan harga emas ini adalah koreksi klasik setelah kenaikan yang sangat kuat,” ujar Forbes.

Ia menambahkan, aksi ambil untung, penguatan dolar AS, serta perkembangan geopolitik terbaru dari Washington turut menekan minat beli.

Indeks dolar AS sendiri menguat sekitar 0,8% sejak Kamis lalu. Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang dolar menjadi kurang menarik bagi investor global. Selain itu, prospek kebijakan moneter yang lebih ketat juga meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah AS dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Dalam jangka pendek, Forbes memperkirakan harga emas masih akan bergerak tinggi namun volatil, sembari pasar menunggu kepastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

Menebak Harga Emas Pekan Ini, Cetak Rekor atau Ambles Parah?

Sebelumnya dituliskan, harga emas mengalami pergerakan yang signifikan di pekan terakhir Januari 2026 . Harga emas dunia melonjak menembus rekor harga baru hingga menyentuh USD 5.600, lalu mendadak berhenti dan anjlok lebih dalam serta lebih cepat dibandingkan periode mana pun dalam ingatan terkini.

Meski demikian, secara keseluruhan penurunan harga pada akhir pekan tercatat kurang dari 2%.

Melansir Kitco News, Senin (1/2/2026), pada awal pekan kemarin, harga emas spot dibuka di level USD 5.021,97. Sesi awal perdagangan relatif tenang, dengan pergerakan dalam rentang sekitar USD 60 hingga mendekati USD 5.100.

Sempat terjadi koreksi singkat yang menguji level support USD 5.000 per ons tak lama setelah penutupan pasar saham Amerika Utara pada Senin.

Tekanan besar akhirnya muncul pada Jumat pagi. Harga emas merosot hingga menyentuh titik terendah mingguan di USD 4.679,51 per ons. Upaya pemulihan gagal membawa harga kembali ke atas USD 5.000. Sehingga emas bergerak liar di rentang USD 4.840 hingga USD 4.900 hingga akhir pekan, menutup salah satu pekan paling ekstrem dalam sejarah perdagangannya.

Pandangan Pelaku Pasar

Survei Emas Mingguan terbaru dari Kitco News menunjukkan pelaku pasar di Wall Street terpecah dan belum mencapai kesepakatan mengenai arah emas dalam jangka pendek. Sebaliknya, investor ritel masih mempertahankan kecenderungan bullish.

Analis pasar senior Barchart.com Darin Newsom mengatakan, melihat harga emas akan sulit ditebak pada pekan ini, apakah akan naik, turun, atau mendatar.

“Mustahil untuk menebak arahnya saat ini. Pasar mulai mencatatkan rentang harian ratusan dolar, dan emas tidak sendirian karena perak dan tembaga juga melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Presiden dan COO Asset Strategies International, Rich Checkan menilai harga emas akan naik. Menurutnya, jika penurunan pada Jumat adalah akibat dari Presiden Trump yang menunjuk Ketua Federal Reserve berikutnya, ia sepenuhnya memperkirakan hal itu akan berdampak jangka pendek.

“Karena janji suku bunga yang lebih rendah baik untuk emas. Dan secara fundamental, tidak ada yang berubah,” tuturnya.

Adrian Day, presiden Adrian Day Asset Management, berpandangan tren emas tidak banyak berubah.

“Emas perlu melepaskan tekanan dan mungkin akan terus berada di kisaran tersebut selama sekitar seminggu. Namun, mari kita lihat dari perspektif yang lebih luas. Penurunan besar ini hanya membawa kita kembali ke posisi kita pada tanggal 27, dan kita berada di titik tertinggi sepanjang masa secara mingguan,” tuturnya.

Hasil Survey Kitco

Pada pekan ini, sebanyak 18 analis ambil bagian dalam Survei Emas Kitco News. Hasilnya menunjukkan pandangan Wall Street terbelah sama kuat soal arah harga emas jangka pendek, setelah pergerakan pasar selama sepekan terakhir membuka berbagai kemungkinan.

Sebanyak tujuh analis, atau sekitar 39%, memperkirakan harga emas berpeluang kembali mendekati level USD 5.000 pada pekan depan. Jumlah yang sama memprediksi harga justru akan melanjutkan pelemahan. Sementara itu, empat analis lainnya, setara 22%, menilai emas bisa bergerak ke salah satu arah tanpa kecenderungan yang jelas.

Di sisi lain, jajak pendapat daring Kitco mengumpulkan 340 suara dari investor ritel. Kelompok Main Street ini tetap mempertahankan pandangan bullish meski harga emas mengalami volatilitas tajam dan sempat merosot signifikan.

Sebanyak 249 responden, atau 73%, memperkirakan harga emas akan kembali menguat dalam sepekan ke depan. Sebaliknya, 53 orang (16%) memperkirakan logam mulia tersebut akan kehilangan tenaga. Adapun 38 responden lainnya, sekitar 11%, menilai harga emas cenderung bergerak datar pada pekan mendatang.

Sentimen Harga Emas Pekan Ini

Pekan ini akan dipenuhi agenda rilis data ekonomi penting, terutama dari sektor ketenagakerjaan. Pelaku pasar akan mencoba mencocokkan deretan data ini dengan narasi yang terus berubah mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed, terlebih dengan adanya potensi kepemimpinan baru di bank sentral tersebut.

Di saat yang sama, sejumlah bank sentral utama dunia juga dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga mereka.

Pada Senin pagi, pasar akan mencermati data PMI Manufaktur ISM untuk Januari, sementara pada malam harinya Reserve Bank of Australia dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya. Memasuki Selasa, perhatian beralih ke data lowongan pekerjaan JOLTS.

Rabu pagi akan diwarnai rilis laporan ketenagakerjaan ADP, yang hadir bersamaan dengan data PMI Jasa ISM untuk Januari.

Fokus pasar kemudian tertuju pada bank sentral di hari Kamis. Bank of England akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada pagi hari, disusul keputusan suku bunga dari Bank Sentral Eropa tak lama setelahnya. Pada hari yang sama, Amerika Serikat juga merilis data klaim pengangguran mingguan.

Rangkaian agenda padat ini ditutup pada Jumat pagi dengan rilis laporan Nonfarm Payrolls AS untuk Desember. Setelah itu, pasar juga akan menantikan hasil awal Survei Sentimen Konsumen dari Universitas Michigan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |