Antara KPR Mencekik dan Gaji Pas-pasan, Bisakah Gen Z Bermimpi Punya Rumah?

7 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Rumahnya terletak jauh dari pusat kota, bukan alasan hiruk pikuk dan mencari ketenangan di pinggiran yang membuat Gen Z bernama Vicky Balqis membeli rumah di sana. Perempuan yang lahir di tahun 2000 ini mengungkapkan tidak perlu sempurna untuk mendapatkan rumah pertama.

Tekad bulat Vicky disulut dengan rajin menabung untuk membayar uang muka. Niatnya membeli rumah untuk menjadi istana sendiri pun diikuti dengan menjaga kartu kredit agar tidak tercoreng dan menurunkan ekspektasi dengan memaksa lokasi harus dekat kota maupun tipe rumah yang diinginkan.

"Aku beli rumah pertama di usia 23 tahun pakai KPR,” katanya saat berbincang dengan Liputan6.com, dikutip Selasa (3/1/2026).

Pengorbanannya berlanjut dengan berubahnya gaya hidup yang harus dijalani. Sempitnya ruang untuk jajan maupun berlibur ke luar kota menjadi ganjarannya.

Vicky harus lebih mengatur keuangan di usia yang sangat belia. Belum lagi dalam waktu dekat ia akan menjalani pernikahan. Kendati demikian, ia merasa bisa berpuas diri karena sudah memiliki rumah meski masih harus mencicil dalam beberapa waktu ke depan.

“Campur aduk rasanya. Ada bangga tapi juga sadar engga semua orang punya kondisi yang sama. Jadi lebih ke bersyukur aja sih,” ungkapnya lagi dengan mata berbinar.

Bukan tanpa halangan, dengan nada rendah, Vicky mengingat betapa sibuk dirinya untuk mempersiapkan diri hingga merasa aman saat membeli rumah.

Kemudian ia mencoba untuk mendobrak dan lebih berani kepada dirinya sendiri untuk membeli rumah. “Berasa berat karena tanggung jawab tapi lebih tenang karena punya aset dan tempat tinggal sendiri,” tuturnya dengan senyum sumringah seakan sudah puas mencapai yang diinginkan.

Kenaikan Upah Tak Sebanding dengan Harga Properti

Sedikit berbeda dengan Lukman (25), yang sudah menikah dan menerima anugerah anak pertama. Lukman masih harus berjuang untuk mendapatkan istananya.

Apalagi bagi dirinya, memiliki rumah sendiri seperti merasa dalam keadaan aman dari ketidakpastian sewa, aman untuk merencanakan hidup jangka panjang, dan punya tempat pulang yang benar-benar milik sendiri.

Ia sudah merasa sulit memiliki istana sendiri semenjak masuk dunia kerja, karena penghasilan utama belum cukup untuk memiliki rumah. Belum lagi gaji dan cicilan yang terkadang masih tidak pasti. Apalagi rumah yang diambil bertipe konvensional.

Akan tetapi, semangatnya tidak pernah kendur, ia bertekad dalam satu hingga dua tahun ke depan sudah membuat perincian untuk mengambil kredit rumah. Perhitungannya harus dihadapi dengan beban yang berat karena kenaikan upah tidak sebanding dengan angka properti yang menanjak.

"Miris melihat kenaikan upah ya. Karena di tengah UMP yang naik sedikit bahkan tapi harga rumah malah semakin tinggi,” urainya kepada Liputan6.com.

Ia mengaku, pemilihan rumah akan dilakukan berdasarkan dekatnya jarak dengan tempat kerja sang istri. Pasalnya, kerjaan yang ia jalani masih bisa dilakukan di mana saja, bahkan di rumah.

"Jadi penyesuaian tempt kerja istri jadi faktor penentu disamping mencari harga yang cocok," ujar dia.

Berharap di KPR Subsidi

Ia berniat untuk memiliki rumah dengan jalur kredit atau KPR. Sayangnya, meski banyak cara untuk mendapatkan rumah dengan berbagai model cicilan tapi tetap saja properti masih melambung tinggi.

"KPR masih realistis, tapi tidak ramah,” ketusnya.

Sekali lagi, ia tidak ingin kondisi tersebut membuatnya mundur untuk memiliki tempat yang nyaman bagi keluarga kecilnya. 

Maka ia berharap penuh adanya subsidi KPR untuk kelas menengah dengan bunga rendah jangka panjang dan syarat DP yang realistis. Tentu saja, agar dirinya tetap bisa tersenyum ketika melihat angka cicilan yang harus dibayarkannya kelak.

"Apalagi ada kiasan bahwa setiap Senin harga naik,” katanya dengan gelak tawa.

Gen Z Tak Tertarik Rumah Tapak

Pengamat Properti dari Colliers Aleviery Akbar menilai, KPR tidak menjadi tujuan utama Gen Z. Hal ini disebabkan proses yang panjang dan berbelit dengan berbagai persyaratannya. Apalagi pola kerja Gen Z yang banyak dilakukan dalam skema fleksibel sangat mempengaruhi lokasi hunian.

Tidak heran, kata dia, Gen Z lebih suka tinggal bersama orang tuanya atau disewakan orang tuanya. Sementara, keinginan untuk membeli rumah tidak bisa dipungkiri harus mendapatkan dukungan finansial dari orang tua. 

"Gen Z tidak begitu tertarik dengan rumah tapak di pinggiran kota tapi lebih tertarik hunian vertikal yang dekat atau mudah di akses dengan transportasi umum,” katanya saat dihubungi Liputan6.com.

Ia meyakini akan semakin berat untuk membeli rumah pertama bagi Gen Z karena dengan backlog perumahan yang masih tinggi, sekitar Rp12 juta.

Tidak hanya Gen Z, generasi milenial juga dalam hematnya  telah mengalami pergeseran serupa dalam persepsi mereka tentang kepemilikan rumah. Lantaran, m faktor ekonomi seperti meningkatnya biaya perumahan, beban hutang ataupun kartu kredit dan perubahan gaya hidup, gaji yang stagnan, dan pasar perumahan yang kompetitif mempengaruhi keputusan mereka memiliki rumah.

“Selain itu, Generasi Z yang baru memasuki dunia kerja di tengah ketidakpastian ekonomi, semakin sulit upayanya dalam menabung untuk uang muka dan memenuhi syarat untuk mendapatkan KPR,” ujar dia.

Gen Z Pilih Hunian Vertikal

Direktur Utama Pesona Kahuripan Group, Angga Budi Kusuma mengungkapkan, Gen Z adalah target utama pasar dari pengembang. Sebagai pengembang rumah subsidi, ia belajar untuk mendalami pola pikir dari Gen Z tidak hanya sebagai manusia tapi juga konsumen. 

Sejauh ini ia menemukan Gen Z banyak ingin memiliki rumah dengan akses yang mudah, desain bagus, fasilitas mumpuni, dan murah. Semua ini masih dianggap sama dengan generasi lain yang ia temui dari riset sebelumnya.

 "semua ini ada di rumah subsidi,” ujarnya kepada Liputan6.com, Selasa (27/1/2026).

Desain rumah minimalis, mezanine, dan tidak begitu luas ia terapkan dengan pencocokan anggaran dalam membangun rumah. Semua desain itu pun didapatkan sebagai model yang diinginkan Gen Z, serta sesuai dengan biaya pengembang untuk membangunnya.

Dia menilai, Gen Z juga lebih memilih hunian vertikal dengan perbandingan 7 dari 10 orang. Baginya, para pengembang tidak akan kesulitan jika dapat memenuhi semua ekspektasi yang ia temukan saat memahami pola pikir Gen Z.

Tantangan Terbesar

Maka dari itu, tantangan yang sebenarnya bukanlah pada memenuhi ekspektasi para generasi muda itu, melainkan perizinan. Tumpang tindihnya birokrasi pusat dan daerah yang memiliki aturan sendiri.

"Tapi pengembang tidak boleh kalah dengan itu, tinggal cari daerah yang perizinannya lebih mudah diproses,” ujarnya.

Tentunya, membangun rumah untuk harga murah bisa saja menurunkan kualitas, tapi ia masih sangat meyakini banyak developer yang membangun dengan hati. Yakni, para developer yang membangun rumah sebaik mungkin dengan kualitas yang tidak ditinggalkan.

"Tapi akan lebih baik dan seimbang, ada penyesuaian harga,” ucapnya.

Ia pun kerap menemukan banyak Gen Z yang masih memilih tinggal dengan orangtua maupun kontrak hunian. Lantaran, Gen Z menganggap rumah bukanlah investasi. Ia menekankan, hal ini bukanlah sesuatu yang final karena masih ada Gen Z lain menganggap rumah adalah investasi dan suatu hal yang sangat penting. 

"Nanti akan menjadi magnet bagi Gen Z lain untuk berinvestasi di rumah,” ujar dia. 

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |