Sarawak Ingin Genjot Energi Hijau hingga Investasi Semikonduktor ASEAN

3 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Premier Sarawak, Datuk Patinggi Tan Sri Abang Abdul Rahman Johari Abang Openg menegaskan Pulau Borneo memiliki posisi strategis untuk mendorong kontribusi nyata bagi pembangunan ASEAN, terutama melalui kolaborasi energi hijau dan pengembangan industri semikonduktor.

Sebagai pulau terbesar ketiga di dunia yang dihuni oleh tiga negara ASEAN yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, yang dinilai menyimpan potensi besar yang perlu digarap bersama.

Abang Johari mengatakan, kerja sama lintas negara di Pulau Borneo, khususnya antara Indonesia dan Sarawak, membuka peluang besar dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT). Menurut dia, isu krisis iklim global membuat kerja sama energi hijau menjadi semakin penting, tidak hanya untuk kebutuhan domestik tetapi juga untuk menopang kebutuhan kawasan.

"Kalau kita dapat bekerjasama dalam rangka kolaborasi, kita dapat memberikan sumbangan dalam pembangunan ASEAN. Kita punya potensi energi hijau dan surplus energi yang boleh kita kongsi dengan negara-negara ASEAN,” ujar Abang Johari dalam acara Indonesia Economic Summit, Selasa (3/2/2026).

Selain energi hijau, ia juga menunjukkan minat serius dalam pengembangan teknologi tinggi, khususnya semikonduktor. Ia mengungkapkan telah diundang Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto untuk terus memperkuat kerja sama dengan Indonesia dalam menyiapkan generasi berikutnya di sektor semikonduktor.

Di Sarawak, kata Abang Johari, pemerintah daerah telah mengembangkan Sarawak Microelectronics Design (SMD) serta menjalin kerja sama pendidikan internasional, termasuk dengan Cardiff. Saat ini, Sarawak juga tengah mengembangkan AI power chip yang masih berbasis analog sambil menunggu sertifikasi hak kekayaan intelektual (intellectual property/IP).

"Kita sedang menunggu sertifikat IP. Nantinya chip ini boleh digunakan untuk sektor kesehatan, otomotif, hingga industri luar angkasa,” jelasnya.

Sektor Baru bagi Sarawak

Menjawab pertanyaan mengenai minat investasi Sarawak di sektor semikonduktor Indonesia, Abang Johari menegaskan bahwa industri ini merupakan sektor baru bagi Sarawak, tetapi Malaysia telah memiliki pengalaman kuat, terutama di Pulau Pinang.

"Pulau Pinang sudah lama bekerjasama dengan perusahaan Amerika Serikat seperti Intel. Selama ini memang banyak di assembly, tetapi sekarang kita harus mulai berinvestasi di fasilitas riset berkelas dunia dengan tenaga kerja ahli berkelas dunia," ujar dia.

Ia juga menilai arah ekonomi global pada 2030 akan semakin condong ke ekonomi digital. Digitalisasi akan menjadi tulang punggung berbagai sektor, mulai dari smartphone hingga transportasi publik.

“Ekonomi masa depan akan bergantung pada digitalisasi. Sekarang kita membangun ART, bukan hanya membutuhkan energi terbarukan, tetapi juga chip di dalam sistem transportasi tersebut,” pungkas Abang Johari.

Sasar Pemasukan Rp 603 Triliun, Danantara dan PLN Jajaki Peluang Investasi Energi Hijau

Sebelumnya, Danantara melalui Danantara Investment Management (DIM) menandatangani Head of Agreement (HoA) dengan PT PLN (Persero) untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) alias energi hijau di Indonesia.

Adapun dalam proyeksi penambahan pembangkit EBT berkapasitas 20 GW pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, PLN mengestimasikan total investasi mencapai USD 36 miliar, atau setara Rp 603 miliar (kurs Rp 16.750 per dolar AS).

DIM akan menjajaki peluang investasi pada proyek-proyek pembangkit listrik berbasis EBT yang dikembangkan melalui anak usaha PLN, yaitu PLN Nusantara Renewables (PLN NR) dan PLN Indonesia Power Renewables (PLN IPR).

CEO Danantara Pandu Sjahrir mengatakan, kerjasama antara pihaknya dengan PLN ini dapat berperan penting dalam tujuan Indonesia mencapai swasembada energi. Seraya menyikapi kondisi perubahan iklim (climate change) yang semakin mendesak.

Sektor Kunci

"Energi baru terbarukan merupakan sektor kunci dalam memastikan sistem energi yang lebih sehat, bersih, dan berkelanjutan. Penandatanganan HoA ini menjadi tonggak awal dalam menjajaki kebutuhan investasi strategis yang besar, mendorong pengembangan EBT yang andal, serta memperkuat posisi Indonesia dalam swasembada energi, transformasi hijau, serta menyikapi kondisi perubahan iklim yang kita alami bersama," ujarnya, Senin (22/12/2025).

Sementara Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan, transisi energi membutuhkan kolaborasi yang erat dan dukungan pembiayaan berkelanjutan, lantaran tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri.

"Kehadiran Danantara Indonesia memperkuat langkah PLN dalam mengembangkan energi terbarukan secara lebih terstruktur. Sekaligus memastikan proyek-proyek hijau yang tercantum dalam RUPTL dapat berjalan tepat waktu dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat serta sistem ketenagalistrikan nasional," ungkapnya.

Tahap Awal Kolaborasi Danantara-PLN

Penandatanganan HoA ini merupakan tahap awal dari rencana penjajakan kerja sama investasi antara Danantara Indonesia dan PLN. Rincian lebih lanjut mengenai bentuk dan struktur investasi bakal diumumkan pada waktunya, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku serta hasil proses uji tuntas yang dilakukan oleh para pihak.

Dalam konteks ini, CEO Danantara Pandu Sjahrir juga menekankan pentingnya eksekusi yang selaras, serta kolaborasi lintas institusi dalam mempercepat pengembangan energi terbarukan.

"Kami tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga berperan aktif dalam mengidentifikasi dan membantu mengatasi berbagai tantangan pengembangan proyek, menghadirkan akses permodalan yang kompetitif, serta mendukung penciptaan lapangan kerja hijau," tuturnya.

"Dengan pendekatan ini, kami ingin memastikan pengembangan EBT dapat berjalan lebih terstruktur, tepat waktu, dan terintegrasi dengan kebutuhan sistem kelistrikan nasional," kata Pandu.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |