BNI Kantongi Laba Rp 20 Triliun, Kredit Tumbuh 15,9% di 2025

3 hours ago 7

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan, pertumbuhan kredit sebesar 15,9% di 2025, mencerminkan kinerja intermediasi yang tetap solid di tengah tantangan ekonomi global.

"Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global," ujar Paolo.

Pengelolaan neraca BNI sepanjang 2025 difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan permodalan yang kuat. Fokus utama diarahkan pada penguatan pendanaan berbasis CASA.

Hingga akhir 2025, pertumbuhan kredit sebesar 15,9% sepenuhnya didanai dana murah dengan pertumbuhan CASA sebesar 28,9%, ditopang pertumbuhan giro 43,8% dan tabungan yang tumbuh 11,2%. 

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7%, jauh di atas ketentuan regulator, sehingga memberikan ruang yang memadai bagi BNI dalam mendukung ekspansi bisnis ke depannya serta mengantisipasi risiko.

Di kuartal IV 2025, perusahaan membukukan Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp 9,4 triliun. Pencapaian PPOP ini tertinggi dibandingkan dengan tiga kuartal sebelumnya. Akselerasi PPOP di kuartal IV ini disupport dari pertumbuhan net interest income (NII) dan fee based income (FBI).

Adapun NII dibukukan sebesar Rp 40,3 triliun di 2025, dengan loan yield yang tertekan sebagai dampak penurunan suku bunga acuan. Sementara pendapatan non bunga tumbuh 5,2% menjadi Rp 24,6 triliun, didorong peningkatan aktivitas transaksi melalui digital channel, treasury, trade finance, serta peningkatan produktivitas cabang.

Dari sisi kualitas aset, tercatat adanya perbaikan berkelanjutan yang tercermin dari penurunan rasio non-performing loan (NPL) dan Loan at Risk (LaR). NPL bruto tercatat sebesar 1,9% atau membaik 10bps, sementara Loan at Risk (LaR) 8,5% atau membaik 1,8%, mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan sudah kembali ke kondisi sebelum pandemi.

Di sisi lain, NPL coverage ratio mencapai 205,5% dan LaR coverage ratio mencapai 46,9%, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.

"Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali," jelas Paolo.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |