Bos Danantara Masih Finalisasi Merger Anak Usaha Pertamina

2 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani mengaku masih memfinalisasi merger anak usaha PT Pertamina (Persero). Dia menyebut prosesnya akan rampung dalam waktu dekat.

Rosan mengatakan, penggabungan tiga anak usaha Pertamina di bisnis hilir untuk meningkatkan efisiensi. Ketiganya yakni PT Pertamina Patra Niaga, PT Kilang Pertamina Internasional, dan PT Pertamina International Shipping.

"Ya, insya Allah itu merger penggabungan untuk dalam rangka meningkatkan produktivitas dan efisiensi," ungkap Rosan, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (3/2/2025).

Kendati begitu, Rosan bilang saat ini prosesnya masih dalam tahap finalisasi. Dia menekankan prosesnya akan rampung dalam waktu dekat.

"Nanti ya, segera difinalkan. Itu sedang kita finalisasi, saya kira segera ya dalam waktu dekat," ia menambahkan.

 Proses merger ini sebelumnya disebut akan selesai pada 1 Februari 2026. Tiga subholding Pertamina akan digabung dengan tujuan efisiensi bisnis hilir BUMN Minyak dan Gas Bumi (Migas) tersebut.

Pertamina Umumkan ke Karyawan

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) bakal menggabungkan sejumlah anak usaha di sektor bisnis hilir. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono memastikan tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) atas proses tersebut.

BUMN sektor Minyak dan Gas Bumi (Migas) itu akan melakukan konsolidasi bisnis hilir di PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS). Agung bilang rencana itu sudah dikabarkan ke karyawan dari anak usaha.

"Tadi pagi kita baru announce ke karyawan dulu," kata Agung, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.

Tak Ada PHK

Ketika disinggung mengenai kemungkinan pengurangan pegawai, Agung memastikan tidak ada karyawan yang terdampak PHK. Prinsipnya, kata dia, tidak ada satupun yang ditinggalkan.

"Tadi sudah dijelaskan juga oleh manajemen ke karyawan. Prinsipnya no one left behind. No one left behind. One talent, one future," tegasnya.

Meski sudah diumumkan ke karyawan, Agung belum bicara banyak soal proses konsolidasi 3 anak usaha Pertamina itu dimulai. "Nanti akan di-announce, tapi kita sudah siap semua condition precedents-nya," katanya.

Jadi Subholding Downstream

Agung memberikan bocoran mengenai bentuk anak usaha usai merger tersebut. Nantinya, ketiga anak usaha itu akan disebut sebagai Subholding Downstream.

Perlu diketahui, Pertamina Patra Niaga, PIS, dan KPI sama-sama menjalankan bisnis hilir dalam ekosistem bisnis grup Pertamina.

"Subholding Downstream, kan tadinya ada 6 subholding. Ini 3 subholding menjadi satu Subholding Downstream," tandasnya.

Danantara: Merger BUMN Karya Mundur ke 2026

Sebelumnya, merger atau penggabungan terhadap tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya dipastikan batal pada 2025. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) bakal melanjutkan merger BUMN Karya pada kuartal I 2026.

Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menuturkan, proses merger BUMN Karya mundur karena masih banyak persoalan keuangan yang harus dirapikan sebelum merger dilakukan.

"Kita carry forward ke tahun depan, (merger) tidak selesai pada tahun ini," ujar Donny saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian di Jakarta, Rabu, 26 November 2025, seperti dikutip dari Antara Kamis (27/11/2025).

Alasan utamanya yaitu kondisi keuangan BUMN Karya yang dinilai masih rapuh. Dony mengatakan, restrukturisasi utang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum masuk ke tahapan penggabungan perusahaan.

“Teman-teman tentu tahu problematika di Karya banyak sekali, termasuk tadi restrukturisasi daripada utang-utangnya dulu. Jadi problem keuangan mereka cukup dalam di Karya-Karya ini,” kata dia.

Danantara saat ini masih berada pada tahap peninjauan menyeluruh terhadap rencana penggabungan tujuh BUMN Karya yakni Hutama Karya, Waskita Karya, Wijaya Karya, Adhi Karya, PTPP, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya. Proses ini dinilai penting mengingat kondisi keuangan sejumlah perusahaan dinilai belum siap untuk langsung digabungkan.

Dony yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN itu menuturkan, prioritas Danantara sebagai super holding adalah memperbaiki lebih dahulu perusahaan-perusahaan yang sedang menghadapi persoalan keuangan paling berat.

Langkah tersebut mencakup proses impairment, revaluasi aset, hingga penataan ulang struktur keuangan agar kondisi masing-masing entitas lebih stabil sebelum merger dilakukan.

Merger BUMN Karya Tetap Jalan

Meski mundur dari target awal, Dony memastikan merger tetap akan berjalan.

Ia menyebut beberapa skenario masih dikaji untuk menentukan bentuk penggabungan yang mampu memperkuat industri konstruksi milik negara ke depan.

"Khusus untuk karya, kita masih melakukan proses pengkajian bentuk terbaik daripada merger. Mergernya kan sudah pasti karena kita akan melakukan supaya perusahaan-perusahaan karya kita menjadi lebih kuat ke depannya. Nah, ini akan kita lakukan kajian-kajiannya," kata dia.

Ia juga menyinggung kabar mengenai rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) di sejumlah BUMN Karya pada akhir tahun.

Ia mengatakan, RUPS tersebut tidak langsung berkaitan dengan merger melainkan agenda perubahan anggaran dasar sebagai penyesuaian terhadap aturan baru.

"Hampir semua BUMN akan melakukan RUPS untuk perubahan anggaran dasar karena memang dengan adanya jadwal rapat, seluruh anggaran dasar itu akan dikoreksi, akan diubah, akan disesuaikan dengan undang-undang yang baru. Jadi makanya banyak RUPS kan. Khusus untuk Karya, kita masih melakukan proses pengkajian," ujar Dony.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |