Harga Minyak Sempat Tembus USD 119 dan Gas Naik 16,5% Dampak Serangan Iran

5 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dan gas dunia melonjak tajam pada Kamis, setelah serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah memicu kekhawatiran krisis pasokan global.

Mengutip CNBC, Kamis (19/3/2026), harga minyak sempat menembus USD 119 per barel sebelum akhirnya turun tipis. Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei naik 6,6% menjadi USD 114,47 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,3% ke USD 97,59 per barel.

Lonjakan juga terjadi pada harga gas. Harga gas Eropa di hub Dutch Title Transfer Facility (TTF) naik lebih dari 16,5% menjadi 63,7 euro per megawatt-hour. Sementara itu, harga gas alam di Amerika Serikat naik sekitar 4% ke USD3,19 per juta British thermal units.

Kenaikan ini dipicu oleh serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah. Qatar mengungkapkan bahwa serangan rudal Iran telah menyebabkan “kerusakan besar” pada Ras Laffan Industrial City, fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia.

Tim darurat dikerahkan untuk memadamkan kebakaran di lokasi tersebut. QatarEnergy memastikan tidak ada korban jiwa, dan api telah berhasil dikendalikan.

Ketegangan Meningkat, Pasokan Energi Terancam

Kementerian Luar Negeri Qatar mengecam serangan tersebut sebagai “eskalasi berbahaya” dan “pelanggaran kedaulatan,” serta memperingatkan ancaman terhadap stabilitas kawasan.

Serangan ini terjadi setelah Israel membombardir fasilitas pemrosesan gas di Iran, yang kemudian dibalas dengan ancaman Iran terhadap fasilitas energi di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Sebelumnya, Qatar bahkan telah menghentikan produksi LNG sejak 2 Maret akibat serangan drone Iran. Negara ini merupakan eksportir LNG terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, dengan kontribusi hampir 20% pasokan global.

Situasi semakin diperparah dengan terganggunya jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, yang biasanya menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Risiko Harga Energi Melonjak Ekstrem

Penasihat energi senior Gulf Oil, Tom Kloza, memperingatkan pasar bisa memasuki fase yang sangat tidak menentu jika konflik meluas ke luar kawasan Teluk.

“Bisakah Anda membayangkan respons dunia jika [Iran] menargetkan sesuatu di luar Teluk Persia, seperti kilang di Rotterdam atau fasilitas di Amerika Serikat? Saat itulah situasi menjadi tidak terkendali dan harga bisa melonjak sangat ekstrem,” ujarnya.

Kondisi ini berpotensi mengubah risiko geopolitik menjadi krisis pasokan global, di mana model harga tradisional tidak lagi berlaku.

Ketakutan terhadap gangguan besar dalam proses penyulingan dan distribusi bahan bakar dapat memicu volatilitas ekstrem, dengan harga energi melonjak tajam akibat pelaku pasar berebut mengamankan pasokan.

Ancaman di Produksi

Pendiri Pickering Energy Partners, Dan Pickering, mengatakan situasi kini mulai bergeser dari sekadar masalah rantai pasok menjadi ancaman terhadap produksi energi itu sendiri.

“Kita bergerak dari masalah rantai pasok ke potensi masalah pasokan. Itu perbedaan besar. Masalah rantai pasok bisa diperbaiki dengan cepat,” ujarnya.

“Namun jika kemampuan produksi terganggu dan volume pasokan berkurang, ini adalah eskalasi serius,” tegasnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |