Retail Elektronik dan Furnitur Asal Jepang Perluas Ekspansi Pasar Indonesia

2 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan kawasan hunian di wilayah penyangga Jakarta mendorong perubahan peta retail, khususnya untuk kategori elektronik dan perlengkapan rumah tangga. Konsumen tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pusat perbelanjaan di pusat kota, seiring tumbuhnya kawasan hunian terpadu yang memiliki kebutuhan konsumsi mandiri. 

Tren tersebut mendorong pelaku retail untuk menempatkan gerai fisik lebih dekat dengan konsumen, sekaligus mengintegrasikannya dengan layanan digital. Pendekatan ini dinilai relevan untuk menjangkau masyarakat urban yang mengutamakan efisiensi, kemudahan akses, serta pengalaman belanja yang terintegrasi. 

PT Courts Retail Indonesia (COURTS) meresmikan toko terbarunya di Bintaro Jaya Xchange Mall 1, Tangerang Selatan, sebagai bagian dari strategi tersebut. Kehadiran gerai ini menjadi langkah COURTS dalam memperkuat posisinya di kawasan hunian penyangga Jakarta yang terus bertumbuh.

CEO COURTS Indonesia Hendrianto Halim mengatakan, ekspansi ke kawasan hunian seperti Bintaro merupakan bagian dari penyesuaian strategi perusahaan terhadap perubahan perilaku konsumen.

“Kami melihat adanya pergeseran kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan akses retail yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka. Kehadiran COURTS di Bintaro merupakan bagian dari upaya kami untuk menyesuaikan layanan dengan pola konsumsi tersebut,” ujar Hendrianto., Sabtu (24/1/2026).

Kembangkan Strategi Omnichannel

Selain memperkuat jaringan gerai fisik, COURTS juga mengembangkan strategi omnichannel dengan memadukan layanan di toko dan kanal digital. Langkah ini ditujukan untuk memberikan fleksibilitas bagi konsumen dalam mengakses produk dan layanan sesuai preferensi mereka. 

COURTS Indonesia merupakan bagian dari Nojima Asia Pacific Limited yang berpusat di Jepang. Sejak beroperasi di Indonesia pada 2014, COURTS terus mengembangkan jaringan ritel elektronik dan furnitur dengan menyesuaikan pendekatan bisnisnya terhadap dinamika pasar dan kebutuhan konsumen lokal. 

Sementara itu, Bintaro Jaya Xchange Mall dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan dan gaya hidup di Tangerang Selatan yang berkembang seiring pertumbuhan kawasan hunian di sekitarnya, menjadikannya lokasi strategis bagi aktivitas ritel dan layanan masyarakat.

Industri Pengolahan Kayu Sumbang Ekspor USD 3,73 Miliar

Analis Kebijakan Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin Yulis Anggunita Kurniasih mengatakan pameran solusi desain furnitur dan alat pendukung industri kayu olahan dapat berperan dalam peningkatan produktivitas industri furnitur Indonesia.

"Industri kayu olahan dan furnitur merupakan industri hilir yang produknya memiliki nilai tambah tinggi, dan industri ini secara aktif memberi dampak positif bagi perekonomian negara melalui kinerja ekspor serta pemenuhan pasar dalam negeri," kata Yulis dalam acara pembukaan International Furniture Manufacturing Components and Woodworking Machinery Exhibition (IFMAC & WOODMAC) dikutip dari Antara, Rabu (24/9/2025).

Data Kemenperin pada tahun 2024 mencatat industri pengolahan kayu (KBLI 16) memberikan kontribusi sebesar 2,25 persen terhadap PDB pengolahan nonmigas, dengan nilai kinerja ekspor mencapai USD 3,73 miliar.

Sedangkan industri furnitur (KBLI 31), pada tahun 2024 memberikan kontribusi sebesar 1,15 perseb terhadap PDB pengolahan non migas, dengan nilai kinerja ekspor mencapai USD 1,61 miliar.

Adapun permintaan pasar terhadap produk kayu olahan di masa depan masih sangat tinggi untuk memenuhi proyek konstruksi, infrastruktur dan pembangunan industri, serta pemenuhan bahan baku untuk industri furnitur.

Tren Penggunaan Furnitur

Tren penggunaan furnitur saat ini juga berkembang ke arah furnitur ramah lingkungan, terintegrasi dengan teknologi (smart features), desain multifungsional, modular dan kostumisasi.

Pasar furnitur juga didukung oleh kebutuhan furnitur pada bisnis pariwisata dan hospitality, serta kebutuhan permukiman dan perkantoran.

"Dari sisi metode pemasaran, penggunaan teknologi 4.0 seperti Augmented Reality (AR) untuk mempermudah belanja furnitur secara online semakin meningkat. Kemudian dari sisi produksi, teknologi 3D printing juga semakin banyak digunakan untuk mempermudah proses desain dan mengurangi biaya produksi," tambah Yulis.

Namun Yulis juga menyoroti masih ada beberapa tantangan di industri ekspor furnitur Indonesia untuk bisa melebarkan ekspansinya ke luar negeri di antaranya kondisi geopolitik, kebijakan pelestarian lingkungan negara tujuan ekspor, kebijakan non-tariff barriers, tarif resiprokal Amerika (tarif Trump), meningkatnya impor furnitur, dan Isu keamanan dalam berinvestasi.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |