Penawaran Obligasi Ritel ORI029 Mulai Hari Ini 26 Januari 2026, Segini Kuponnya

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan resmi membuka masa penawaran Obligasi Negara Ritel seri ORI029 (ORI029) yang ditujukan bagi investor individu. ORI029 ditawarkan sebagai instrumen investasi berpendapatan tetap dengan tingkat risiko rendah dan kupon tetap hingga jatuh tempo.

Plt. Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan RI, Novi Puspita Wardani, menyampaikan bahwa pembukaan masa penawaran ORI029 dimulai sejak pagi hari dan dapat diakses oleh masyarakat melalui mitra distribusi yang telah ditunjuk pemerintah.

“Pembukaan masa penawaran ORI 29, tepatnya pukul 9 tadi. Jadi sudah pukul 9 pagi, ini investor itu sudah bisa membeli ORI 29,” ujarnya dalam Media Briefing Pembukaan Masa Penawaran ORI029T3 & ORI029T6, Senin (26/1/2026).

ORI029 ditawarkan dengan dua pilihan tenor, yakni tenor tiga tahun (ORI029-T3) dan tenor enam tahun (ORI029-T6). Penerbitan dua tenor ini ditujukan untuk mengakomodasi kebutuhan investor dengan horizon investasi yang berbeda, baik investor yang menginginkan jangka waktu lebih pendek maupun investor dengan preferensi jangka panjang.

“Kalau kita lihat disini reference kuponnya disini kalau yang 6 tahun kuponnya 5,8 yang 3 tahun 5,45, artinya kalau kupon tetap ya 5,8 persen per tahun itu sampai dengan nanti 15 Februari 2032 ini akan diberikan di level ini, sementara yang tenor 3 tahun kuponnya akan tetap sampai dengan jatuh tempo,” jelasnya.

Novi menjelaskan, ORI029 menggunakan skema kupon tetap (fixed rate) yang dibayarkan setiap bulan hingga jatuh tempo. Instrumen ini juga memiliki karakteristik dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah melewati masa holding period, sehingga memberikan fleksibilitas bagi investor.

Masa Penawaran ORI

Masa penawaran ORI029 berlangsung mulai hari ini hingga 19 Februari 2026 pukul 10.00 WIB. Nominal pemesanan minimum ditetapkan sebesar Rp 1 juta dengan kelipatan Rp 1 juta, sehingga dinilai terjangkau bagi investor pemula. Adapun batas maksimal pembelian ditetapkan sebesar Rp 5 miliar untuk tenor tiga tahun dan Rp 10 miliar untuk tenor enam tahun.

Selain memberikan potensi imbal hasil bagi investor individu, penerbitan ORI029 juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperluas basis investor ritel sekaligus mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Potensi Inflow Saham Terbuka, tapi Obligasi Berisiko Tertekan

Sebelumnya, Co-Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, menilai pasar saham Indonesia masih memiliki potensi capital inflow, meskipun terdapat risiko tekanan pada pasar obligasi.

Kekhawatiran investor asing terutama berkaitan dengan proyeksi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta implikasinya terhadap penerbitan surat utang pemerintah.

“Nah, ini potensi pasar saham ya. Potensi capital inflow di pasar saham. Tapi mungkin bisa outflow di obligasi kita,” ujar Hans dalam Edukasi Wartawan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolitik dan Potensi Bubble AI, dikutip Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, apabila defisit APBN melebar, pemerintah akan menerbitkan obligasi dalam jumlah lebih besar, yang berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor tekanan bagi pasar obligasi domestik, di tengah yield yang sebelumnya berada di kisaran 6 persen dan berpeluang menyesuaikan ke level yang lebih tinggi.

Selain isu fiskal, Hans juga menyoroti kekhawatiran investor asing terhadap independensi bank sentral, menyusul pencalonan Thomas sebagai pejabat di Bank Indonesia. Meski demikian, ia meyakini independensi BI tetap akan terjaga.

“Tapi kami meyakini harusnya Pak Thomas ini bisa independen,” katanya.

Risiko Fiskal

Hans menambahkan, tekanan di pasar obligasi dipicu oleh spekulasi asing terkait risiko fiskal dan persepsi terhadap kebijakan moneter. Hal tersebut berdampak pada pelemahan harga obligasi dan kenaikan yield. Sementara itu, dari sisi pasar saham, volatilitas diperkirakan akan meningkat signifikan pada 2026.

Ia juga memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan potensi kenaikan dalam jangka menengah, meskipun disertai fluktuasi tajam akibat berbagai isu global dan domestik.

“Arah IHSG itu menuju 10.000, biarpun dengan bear case itu ke 7.500 dalam 12 bulan ke depan. Tapi, arahnya naik dengan volatilitas yang sangat tinggi,” jelas Hans.

Di sisi lain, Hans mencermati rencana perubahan metode perhitungan free float oleh MSCI yang dinilai berpotensi menekan saham-saham berkapitalisasi besar. Namun, ia memperkirakan MSCI tidak akan mengubah mekanisme tersebut dalam pengumuman pada akhir Januari.

Terkait sektor, Hans menyebut saham big cap masih menarik, dengan sektor konsumer, energi, batu bara, serta komoditas emas dan pertambangan seperti nikel dan timah diperkirakan tetap mencatatkan kinerja positif.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |