Harga Emas Dunia Sentuh USD 5.300 untuk Pertama Kali, Ini Penyebabnya

3 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia naik di atas USD 5.300 per ounce untuk pertama kali pada Rabu, (28/1/2026). Kenaikan harga emas dunia terjadi setelah melemahnya kepercayaan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran seputar independensi bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) sehingga meningkatkan permintaan logam mulia yang termasuk aset safe haven.

Mengutip CNBC, harga emas di pasar spot naik 1,7% menjadi USD 5.275,68 per ounce pada pukul 09.40 GMT setelah mencapai rekor USD 5.311,31. Harga emas telah naik lebih dari 3% pada sesi sebelumnya.

Di sisi lain, harga kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari bertambah 3,7% menjadi USD 5.271,70 per ounce.

"Emas naik bukan hanya karena kecemasan pasar, tetapi juga karena kepercayaan pada tatanan moneter fiskal global bergeser ke arah sikap yang lebih hati-hati,” kata Analis Senior XS.com, Linh Tran dikutip dari CNBC.

Sementara itu, dolar AS berjuang di dekat level terendah dalam empat tahun pada Rabu pekan ini setelah Presiden AS Donald Trump mengabaikan pelemahan baru-baru ini. Hal ini membuat emas batangan yang dihargai dolar AS lebih menarik bagi pembeli luar negeri.

Trump juga menuturkan akan segera mengumumkan pilihannya untuk menjabat sebagai Kepala The Federal Reserve (the Fed) dan memprediksi suku bunga akan turun setelah kepala baru menjabat.

“Yang benar adalah salah satu kandidat yang akan diusulkan mungkin akan kurang resisten daripada Powell terhadap tuntutan Trump, yang menguntungkan emas,” ujar WisdomTree Commodities Strategiest Nitesh Shah.

Prediksi Harga Emas

Emas yang tidak menghasilkan bunga, biasanya berkinerja baik ketika suku bunga rendah. The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter Januari yang sedang berlangsung.

Sementara itu, logam mulia telah naik lebih dari 20% sejak awal tahun, melanjutkan kenaikan rekor tahun lalu.

Analis Deutsche Bank menuturkan, emas dapat menguat hingga USD 6.000 per ounce pada 2026. Hal ini dengan alasan permintaan investasi yang terus menerus. Permintaan ritel di Shanghai dan Hong Konga juga tetap tinggi meskipun harga mencapai rekor tertinggi.

“Di sisi perhiasan, saya pikir harga akan menurunkan permintaan, tetapi saya rasa harga tinggi saat ini mungkin sedikit membantu investasi spekulatif dari sisi ritel,” Shah menambahkan.

Harga Emas Pecah Rekor Lagi, Diprediksi Capai Segini pada Akhir 2026

Sebelumnya, harga emas melonjak ke level tertinggi sepanjang masa pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta) karena ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang terus berlanjut mendorong investor ke logam yang dianggap sebagai aset aman.

Dikutip dari CNBC, Rabu (28/1/2026), harga emas di pasar spot naik 2,4% menjadi USD 5.136,47 per ons. Harga menembus angka penting USD 5.000 untuk pertama kalinya pada hari Senin.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup sedikit berubah pada USD 5.082,60 per ons.

Harga emas telah melonjak lebih dari 18% sepanjang tahun ini, melanjutkan reli rekor tahun lalu, didorong oleh kombinasi beberapa faktor termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, ekspektasi penurunan suku bunga AS, dan peningkatan pembelian bank sentral di tengah tren de-dolarisasi global.

Pasar terfokus pada pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve AS yang dimulai Selasa, dengan suku bunga diperkirakan tidak berubah dan investor mengamati konferensi pers Ketua Fed Jerome Powell pada hari Rabu di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang independensi bank sentral.

Harga Emas Berpotensi Sentuh Level Segini

Sementara itu, Deutsche Bank dan Societe Generale kini memperkirakan harga emas akan mencapai USD 6.000 per ons pada akhir tahun.

CME Group mengatakan pada hari Selasa bahwa kompleks logamnya mencapai rekor harian tertinggi sebanyak 3.338.528 kontrak pada tanggal 26 Januari, melampaui rekor sebelumnya sebanyak 2.829.666 kontrak yang ditetapkan pada tanggal 17 Oktober 2025.

Harga perak spot melonjak 6,9% menjadi USD 111,11 per ons setelah mencapai rekor tertinggi USD 117,69 pada hari Senin. Harga perak telah melonjak lebih dari 55% sepanjang tahun ini, setelah mencatat kenaikan 146% tahun lalu.

“Akan ada banyak volatilitas di masa mendatang, dengan risiko penurunan tajam (pada harga perak),” kata Widmer dari Bank of America.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |