Miliarder hingga Raksasa Teknologi China Janji Beri Bantuan Jutaan Dolar AS Usai Kebakaran Hong Kong

8 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran di kompleks apartemen Wang Fuk Court di Hong Kong menewaskan sedikitnya 94 orang dan ratusan orang belum ditemukan. Seiring bencana kebakaran itu, miliarder hingga perusahaan-perusahaan swasta China menjanjikan puluhan juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk mendukung upaya penyelamatan dan bantuan setelah kebakaran hebat itu.

Mengutip CNBC, ditulis Sabtu (29/11/2025), grup Alibaba dan afiliasinya Ant Group bersama-sama berkomitmen memberikan 30 juta dolar Hong Kong atau Rp 64,21 miliar (asumsi dolar Hong Kong terhadap rupiah di kisaran 2.140).

Pendiri Alibaba sekaligus miliarder, Jack Ma juga menjanjikan 30 juta dolar Hong Kong melalui yayasan amalnya untuk menyediakan bantuan darurat bagi mereka yang terdampak.

Selain itu, produsen pakaian olah raga Anta yang memiliki merek Jack Wolfskin dan Fila akan menyumbangkan 30 juta dolar Hong Kong dalam bentuk tunai dan peralatan.

Selain itu, Xiaomi Corp dan ByteDance masing-masing menjanjikan 10 juta dolar Hong Kong untuk membantu upaya penyelamatan dan membantu korban kebakaran. Tencent yang awalnya menyumbangkan 10 juta dolar Hong Kong, kemudian meningkatkan komitmen menjadi USD 30 juta.

Berdasarkan laporan the Paper, lebih dari 40 perusahaan swasta telah berkomitmen memberikan lebih dari 600 juta dolar Hong Kong dalam bentuk sumbangan untuk upaya penyelamatan hingga Rabu pekan ini.

Upaya penyelamatan kebakaran juga telah menarik dana sebesar 10 juta dolar Hong Kong dari perusahaan ekuitas swasta China, HongShan Capital Group yang sebelumnya dikenal sebagai Sequoia Capital China.

Pengusaha China Meningkatkan Komitmen Amal

Sementara itu, Jean Eric Salata, Chairperson EQT Asia menjanjikan 10 juta dolar Hong Kong melalui family office Central Cove untuk bantuan psikologis dan duka, sumber daya pendidikan bagi anak-anak terlantar dan bantuan keuangan bagi keluarga korban.

Gelombang donasi ini menyusul pernyataan Presiden China Xi Jinping yang mendesak upaya maksimal untuk mengurangi korban jiwa dan menggalang otoritas serta pihak terkait untuk memberikan dukungan yang diperlukan.

Para pengusaha China telah meningkatkan komitmen amalnya dalam beberapa tahun terakhir untuk  memenuhi seruan China agar mengutamakan tanggung jawab sosial di atas keuntungan, dan di tengah pengawasan regulasi yang semakin ketat terhadap sektor swasta.

Salah satu pendiri Xiaomi, Lei Jun, telah menyumbangkan lebih dari 1,7 miliar yuan (USD 240 juta atau Rp 3,99 triliun) sejak meluncurkan yayasan filantropisnya pada 2019 untuk mendukung pengembangan teknologi mutakhir dan memberikan bantuan keuangan kepada siswa dari keluarga berpenghasilan rendah.

Pada 2021, pendiri Meituan, Wang Xing, menyumbangkan saham senilai sekitar USD 2,3 miliar atau Rp 38,31 triliun kepada yayasan filantropisnya, yang mempromosikan pendidikan dan penelitian ilmiah. Zhang Yiming dari ByteDance juga telah menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk kegiatan amal.

Kebakaran Terburuk sejak 1948

Kantor Berita Xinhua melaporkan jumlah korban meninggal telah naik menjadi 94 orang, berdasarkan data pemadam kebakaran. Ini adalah kebakaran paling mematikan di kota itu sejak 1948, ketika kebakaran gudang menewaskan 176 orang.

Kebakaran terbaru melanda Wang Fuk Court, sebuah kompleks perumahan umum delapan menara di Hong Kong utara, yang dihuni 4.600 orang di 2.000 apartemen, menurut Reuters.

Pada Kamis pagi, Reuters melaporkan, mengutip pihak berwenang, kebakaran di empat dari tujuh blok yang terdampak telah berhasil dikendalikan hampir sehari penuh setelah kebakaran dimulai. Petugas pemadam kebakaran masih berupaya memadamkan api di area yang tersisa.

Para pejabat mengatakan api kemungkinan bermula dari perancah bambu yang membungkus kompleks tersebut, kemudian menyebar ke bangunan lain melalui tiang kayu dan jaring pelindung, yang memicu pengawasan publik terhadap standar perumahan kota.

Kepolisian Hong Kong menuding sebuah perusahaan konstruksi yang "sangat lalai" karena menggunakan material busa, lembaran jaring pelindung, dan plastik yang "sangat mudah terbakar" yang mungkin tidak memenuhi standar keselamatan kebakaran. Tiga pria dari perusahaan konstruksi tersebut telah ditangkap atas dugaan "pembunuhan tak disengaja".

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |