Bos Kadin: Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 5,4 Persen, Tapi Ada Syaratnya

2 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie meyakini ekonomi nasional bisa tumbuh semakin positif di 2026 ini. Namun, dinilai perlu ada pelibatan pengusaha swasta nasional dalam upayanya.

Anindya memproyeksikan ekonomi RI bisa tumbuh di atas 5,4 persen tahun ini. Sedikit lebih tinggi dari proyeksi tim ekonomi Kadin di angka 5,2 persen.

"Kalau saya rasa tadi dari tim ekonomi 5,2 (persen), saya berpikir yang lebih, 5,4 (persen). Tapi dengan syarat yang tadi," ungkap Anindya usai Global & Domestic Economic Outlook 2026, di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Ada beberapa syarat yang menurutnya perlu dipenuhi untuk menopang pertumbuhan ekonomi tersebut. Misalnya, konsumsi domestik gang didorong oleh belanja pemerintah.

"Bagaimana supaya belanja pemerintah ini semakin produktif, efektif. Sehingga bisa sampai kepada daerah-daerah yang tahun 2025 mungkin masih mendapatkan efek efisiensi," ujarnya.

Lalu, optimalisasi perdagangan. Ini turut merujuk pada perjanjian dagang Indonesia dengan negara-negara lain dalam rangka meningkatkan potensi ekspor. "Bahkan kalau ada adjustment di Amerika pun juga ada alternatifnya," kata Anindya.

Dia turut beharap belanja pemerintah bisa maksimal melalui pelaksanaan program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga rumah subsidi. "Nah ini benar-benar pengelontoran itu bisa jalan, san melibatkan juga pelaku-pelaku dunia usaha di riil sector," tandasnya.

Bisa Penuhi Target Investasi 2026

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memandang target investasi Rp 2.175 triliun di 2026 bisa dicapai. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) diapandang mampu meyakinkan investor.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengatakan ada dua aspek yang jadi perhatian investor sebelum mengucurkan modal ke suatu negara. Yakni, aspek pertumbuhan ekonomi dan stabilitas.

"Nah kalau pertumbuhan, kita lihat yang top three adalah Indonesia, selain daripada di situ ada India dan Vietnam. Tapi dari sisi skala ya tentu kita di atas Vietnam, hanya saja kalau bicara stabilitas, kita melihat Indonesia ini sangat stabil," ungkap Anindya usai Global & Domestic Economic Outlook 2026, di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Danantara Yakinkan Investor

Dia menilai, meski suatu negara menawarkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, investasi tak akan masuk jika stabilitas nasionalnya terganggu. Maka, Indonesia dipandang menjadi satu tempat investasi yang cukup menarik.

"Nah orang boleh bicara mengenai perekonomian yang lebih besar. Tapi kalau tidak stabil orang takut memberikan dananya," katanya.

Anindya juga memandang Danantara bisa berperan dalam meyakinkan investor. "Nah kita lihat Indonesia ini sangat besar potensinya. Apalagi dengan Danantara yang mendampingi atau de-risking dari investasi ini. Saya merasa dari Kadin, investasi ini akan terus berkembang," sebutnya.

Kejar Investasi Asing

Anindya turut melihat peluang investasi asing. Hal tersebut kemungkinan besar bisa didapat dari ajang World Economic Forum (WEF) yang akan digelar di Davos, Swiss, pekan depan.

"Nah kita juga akan lihat minggu depan di World Economic Forum ketika kita melakukan kampanye dari sisi foreign investment seperti apa, tapi kelihatannya cukup prospektif," ujarnya.

Meski demikian, dia turut mengantisipasi adanya pergeseran karakteristik tujuan investasi seiring perkembangan geopolitik global. "Tapi memang tidak boleh kita lengah karena dunia ini lagi mencari bentuk baru dengan adanya perang dagang, perang fisik dan kita mesti juga. Karena itu saya mengerti, kita semua mengerti kenapa kita juga mesti kuat di atas kaki sendiri. Terutama mengenai ketahanan pangan," tandasnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |