Pemimpin Dunia Menahan Diri Memanfaatkan Cadangan Minyak

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Perang yang semakin meluas di Iran telah menghentikan kapal tanker minyak, menjadikan kilang minyak sebagai target. Hal itu membuat investor khawatir akan dampak berantai dari kenaikan harga energi. Lalu bagaimana langkah pemimpin dunia?

Mengutip AP, Selasa (10/3/2026), tampaknya meski ini adalah waktu ideal untuk menggunakan cadangan minyak darurat dunia, pemimpin dunia sejauh ini menanggapinya dengan enggan. Berikut adalah gambaran tentang persediaan energi yang dimiliki negara-negara dan kapan menggunakannya dikutip dari AP.

Banyak negara memiliki cadangan minyak

Sejak perang meletus di Timur Tengah pada 28 Februari 2026 dengan serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, arus kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz hampir berhenti, memutus jalur vital untuk sejumlah besar minyak dunia. Hal itu telah menyebabkan harga minyak melonjak.

Harga minyak Brent, standar internasional melonjak hingga hampir USD 120 per barel pada Senin, sekitar 65% lebih tinggi daripada saat perang dimulai sebelum kembali turun menuju USD 90.

Negara-negara di seluruh dunia menyimpan cadangan minyak dalam jumlah besar yang dapat mereka gunakan jika terjadi krisis, termasuk AS, yang menyimpan pasokan darurat besar-besaran, yang dikenal sebagai cadangan minyak strategis, di Texas dan Louisiana.

Hal ini seiring minyak merupakan komoditas global dan membanjiri pasar dengan pasokan baru secara tiba-tiba memiliki implikasi internasional, negara-negara sering kali saling berkomunikasi sebelum memanfaatkan cadangan. Hal itu termasuk berkoordinasi dengan Badan Energi Internasional atau International Energy Agency, sebuah organisasi yang dibentuk setelah krisis minyak pada 1973.

Namun, memilih untuk menggunakan cadangan minyak bukanlah perhitungan yang sederhana, terutama ketika dikaitkan dengan perang dengan parameter yang terus berubah dan tanpa garis waktu yang jelas.

“Pertanyaan kunci tentang penggunaan cadangan ini tetaplah, berapa lama konflik ini akan berlangsung?,” ujar Energy Finance Professor Texas Christian University, Tom Seng dikutip dari laman AP.

"Dan, yang lebih penting, berapa lama Selat Hormuz akan tetap terblokir?,” kata dia.

Menentukan Waktu Pelepasan Itu Rumit

Cadangan minyak telah dimanfaatkan ketika pasar menghadapi gangguan besar pada masa lalu, termasuk perang di Irak, Libya dan yang terbaru di Ukraina.

Direktur Senior Rice University, Kenneth Medlock menuturkan, ini bukan masalah apakah konflik saat ini cukup serius untuk memerlukan intervensi, tetapi apakah momen yang tepat telah tiba.

"Harganya naik tetapi bisa memburuk,” kata Medlock.

"Apa yang terjadi jika ini berlarut-larut selama dua, tiga bulan? Maka Anda akan menghadapi situasi di mana Anda kehilangan cadangan,” ia menambahkan.

Masing-masing dari 32 negara anggota IEA berjanji untuk memiliki cadangan setidaknya setara denga napa yang diimpor dalam 90 hari. Amerika Serikat (AS) mengekspor lebih banyak daripada mengimpor, mempertahankan cadangannya meskipun tidak ada persyaratan.

Akan tetapi, bagi negara lain, penggunaan cadangannya pada akhirnya akan mengakibatkan mereka perlu mengisi kembali apa yang telah diambil.

“Karena itu, negara-negara cenderung menyimpan cadangan untuk skenario pilihan terakhir, jika gangguan berlangsung lama,” ujar Energy Executive Stanford University Hydrogen Initiative, Maksim Sonin.

Enggan Memakai Cadangan Minyak

Sejauh ini, pemimpin enggan memakai cadangan. Pada akhir pekan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meremehkan gagasan untuk beralih ke cadangan minyak strategis. Ia menuturkan, persediaan cukup dan harga akan segera turun.

Sementara itu, perwakilah dari Kelompok Tujuh Negara atau G7 membahas masalah ini pada Senin, tetapi juga memutuskan untuk tidak menggunakan cadangan strategis.

"Kita belum sampai di sana,” kata Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure setelah memimpin pertemuan G7.

Namun demikian, ia mengatakan, kepada wartawan di Brussels, kelompok tersebut "siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan terkoordinasi untuk menstabilkan pasar, seperti penimbunan strategis."

Direktur eksekutif IEA, Fatih Birol ikut serta dalam pertemuan tersebut, dan setelahnya mencatat "risiko signifikan dan terus meningkat bagi pasar."

Negara-negara anggota IEA memiliki lebih dari 1,2 miliar barel minyak darurat, kata organisasi tersebut.

Meskipun para pemimpin sejauh ini menahan diri untuk tidak menggunakan cadangan mereka, pakar energi Brenda Shaffer mengatakan, faktanya bahkan membahas opsi tersebut dapat meredakan pasar.

"Selama pasar terus mendengar tentang kemungkinan-kemungkinan ini," kata Shaffer, profesor di Naval Postgraduate School.

 “Saya pikir itu akan memiliki efek menenangkan pada pasar minyak global,” ia menambahkan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |