Rupiah Hari Ini 10 Maret 2026 Menguat terhadap Dolar AS Berkat Komentar Trump

6 hours ago 8
  • Mengapa nilai tukar rupiah menguat pada 10 Maret 2026?
  • Berapa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan tersebut?
  • Faktor apa saja yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah ke depan?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa, (10/3/2026). Rupiah melesat 86 poin atau 0,51% menjadi 16.863 per dolar AS dari penutupan sebelumnya 16.949 per dolar AS.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menguat ke level 16.879 per dolar AS dari sebelumnya 16.974 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menuturkan, penguatan rupiah dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump kalau konflik dengan Iran sudah mendekati penyelesaian.

"Pernyataan tersebut membantu meredakan sebagian kekhawatiran investor terhadap potensi konflik berkepanjangan yang sebelumnya dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan energi global serta menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia,” ujar dia dikutip dari Antara.

Mengutip Kyodo, Trump menuturkan, perang dengan Iran yang hingga kini masih berlangsung diperkirakan akan "segera berakhir", tetapi membantah berakhir pada pekan ini.

Pernyataan Trump muncul setelah Iran memilih Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru mereka setelah sang ayah, Ayatullah Ali Khamenei, gugur dalam gelombang pertama serangan gabungan AS-Israel.

Mojtaba Khamenei dikenal karena kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Naiknya Mojtaba ke tampuk kekuasaan menimbulkan kekhawatiran di sebagian besar negara bahwa perang, yang memasuki pekan kedua, dapat semakin menggoyahkan kawasan Timur Tengah dan langsung berdampak pada ekonomi global.

Kendati bersikeras AS telah mencapai keberhasilan militer yang "belum pernah terjadi sebelumnya", Trump mengaku "kecewa" dengan terpilihnya pemimpin tertinggi baru Iran. "Kami pikir ini hanya akan menyebabkan masalah yang sama untuk negara ini," katanya.

“Koreksi pada indeks dolar AS memberikan ruang bagi sejumlah mata uang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil dan cenderung menguat,” ujar Amru.

Sentimen Rupiah Lainnya

Pasar juga tengah mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, terutama setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang masih relatif kuat. Jika inflasi dan pasar tenaga kerja AS tetap solid, ia mengatakan, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan meningkat dan berpotensi memperkuat dolar AS.

Saat ini, pasar turut menantikan rilis data inflasi AS yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

Melihat sentimen domestik, kenaikan harga minyak dunia akibat potensi gangguan pasokan energi juga menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Amru menambahkan, lonjakan harga energi menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah dan memicu tekanan inflasi domestik.

“Apabila konflik geopolitik berlangsung dalam jangka panjang, volatilitas pasar keuangan global berpotensi meningkat dan dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah,” ujar dia.

Pembukaan Rupiah

Sebelumnya, nilai tukar rupiah bergerak menguat 63 poin atau 0,37 persen hari ini Selasa 10 Maret 2026. Kurs rupiah dipatok Rp16.886 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.949 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan ruang penguatan rupiah masih sempit seiring pasar akan sangat sensitif terhadap berita baru dari Timur Tengah dan arah harga minyak.

"Untuk perdagangan hari ini, rupiah masih cenderung bergerak dalam tekanan, tetapi pelemahannya diperkirakan dalam kisaran 16.825 sampai 16.975 per dolar AS. Level Rp17 ribu per dolar AS sekarang menjadi ambang penting, karena sejumlah proyeksi pasar juga menempatkan level itu sebagai batas tekanan terdekat bila sentimen belum membaik," ungkapnya kepada Liputan6.com, Selasa, (10/3/2026).

Dia menerangkan sentimen global saat ini masih menjadi penekan utama bagi rupiah.

Konflik di Timur Tengah atau Asia Barat membuat harga minyak melonjak tajam, hingga sempat menyentuh di atas 115 dolar AS per barel dalam sesi Asia dan kembali menembus 100 dolar AS per barel pada Senin (9/3/2026).

Dalam kondisi ini, dolar AS menguat karena dipandang paling aman ketika ketidakpastian meningkat dan pasar mulai mengurangi perkiraan penurunan suku bunga bank sentral AS.

Di kawasan Asia, lanjutnya, pola yang terlihat juga seragam, yaitu mata uang kawasan melemah karena harga minyak lebih tinggi, dolar AS lebih kuat, dan kehati-hatian pelaku pasar meningkat.

Kekhawatiran terhadap Fiskal

Melihat sentimen dalam negeri, tekanan datang dari kekhawatiran terhadap fiskal setelah defisit anggaran Februari 2026 melebar menjadi 0,50 persen dari produk domestik bruto (PDB), imbal hasil surat utang negara naik, kepemilikan asing atas surat utang negara turun, dan keyakinan konsumen sedikit melemah.

Di sisi penahan, kata Josua, Bank Indonesia (BI) masih memprioritaskan kestabilan rupiah sehingga ruang penurunan suku bunga menjadi terbatas dan stabilisasi nilai tukar tetap dijaga.

"Jika perang terus berlanjut dalam jangka panjang, dampaknya terhadap rupiah bisa lebih berat daripada tekanan saat ini, karena pasar sejauh ini pada dasarnya masih menganggap gangguan tersebut belum permanen," ujar dia.

Harga Energi

Potensi peperangan dalam jangka panjang dinilai akan membuat harga energi berisiko bertahan tinggi, biaya impor dan logistik naik, tekanan inflasi dalam negeri membesar, neraca eksternal dan fiskal menjadi lebih rentan, serta arus dana asing ke pasar keuangan domestik bisa makin tertahan.

Jika itu terjadi, maka rupiah berisiko menembus Rp17 ribu per dolar AS dan bertahan lemah lebih lama, sementara BI cenderung masih bakal mempertahankan tingkat suku bunga acuan dan mendorong stance kebijakan moneter yang pro stabilitas agar kestabilan nilai tukar tetap terjaga

"Dengan kata lain, arah rupiah ke depan sangat ditentukan oleh dua hal, yaitu seberapa lama perang berlangsung dan apakah harga minyak dapat turun kembali secara meyakinkan," kata Josua.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |