Kriteria Investasi Bidikan Danantara, Tak Akan Ambil Saham Gorengan

3 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bakal masuk melakukan investasi ke pasar modal. Namun dipastikan kalau saham gorengan tidak akan masuk dalam kriteria bidikannya.

Managing Director Treasury Danantara, Ali Setiawan menuturkan pihaknya punya kriteria yang cukup ketat untuk investasi ke pasar saham. Utamanya, pada saham yang dinilai baik.

"Kalau dari saham, tadi saya udah bilang juga ya kita gak akan ke saham-saham gorengan atau saham yang P/E-nya (price to earnings ratio) luar biasa, tapi pasti kita assess dengan kriteria kita," kata Ali di Wisma Danantara, Jakarta, dikutip Sabtu (29/11/2025).

"Jadi kalo saham itu kita lihat return on equity-nya, P/E-nya, dividend yield-nya, market cap profitability-nya dan likuiditas hariannya," sambung dia.

Ali menuturkan, investasi tak sebatas menyasar pasar modal dalam negeri. Pada saatnya, Danantara juga akan melirik ke pasar modal luar demi mengincar keuntungan.

"Memang mau gak mau kita ada investasi porsi yang di luar dan ini semua sama dengan sovereign wealth fund di dunia, karena mereka udah istilahnya gemuk di dalam negerinya dan gak bisa menjadi mover and shaker of the market di dalam negeri, mau gak mau mereka harus berinvestasi di pasar modal luar," jelas dia.

Kriteria Obligasi

Ali juga mengungkap kriteria dari obligasi yang menarik untuk diambil Danantara. Obligasi terbitan pemerintah, Surat Berharga Negara (SBN) menjadi instrumen yang akan dibidik.

"Kalau asset class-nya sudah pasti di Indonesia kan boring banget kan, cuma ada apa fixed income, ya mau corporate and govies, corporate-nya gak liquid," katanya.

"Jadi kita milih-milih yang kita bisa beli, kebanyakan taruhnya di hold till maturity, udah pasti government bonds, kita lihat yang seri yang liquid kalo yang off the run, kita lihat dulu premiumnya berapa besar," sambung Ali.

Alasan Danantara Beli SBN

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengalokasikan sebagian dana kelolaannya ke instrumen obligasi pemerintah atau surat berharga negara (SBN). Selain diversifikasi, langkah ini jadi instrumen investasi yang likuid.

Managing Director Treasury Danantara, Ali Setiawan menjelaskan seluruh sovereign wealth fund (SWF) di dunia pasti mengalokasikan dana kelolaan untuk membeli obligasi pemerintah.

"Seperti Saudi, seperti Kazanah. Itu tetap ada 20-30% yang mereka keep dicadangkan ke instrumen-instrumen yang liquid. Dan di semua negara, instrumen yang liquid selain penempatan di bank, itu pasti juga instrumen pemerintahnya. In this case, government bonds issuancenya dari setiap negara tersebut," ungkap Ali di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (28/11/2025).

Pasti Dilakukan SWF Global

Pada konteks Danantara, Ali menyebut sumber dana reguler datang dari dividen BUMN, sebagiannya dialokasikan ke SBN tadi. Alasannya, sifat SBN yang likuid sehingga bisa digunakan ketika dibutuhkan.

"Itu sudah pasti 100% saya yakin, itu yang dilakukan oleh semua sovereign wealth fund. Kenapa? Karena sewaktu-waktu, sewaktu dibutuhkan dana tersebut, kita bisa liquidate," bebernya.

Dia mengisahkan, meski sifat SWF di berbagai negara berbeda, tapi bisa dipastikan obligasi pemerintah masuk dalam daftar investasinya. "Kalau di Indonesia selain penempatan di bank, apa yang liquid? Obligasi pemerintah kan? engak ada lagi," tandasnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |