Kilau Harga Emas dan Usaha Pantang Redup Pendulang Logam Mulia Patahan

2 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Indah, perempuan paruh baya terlihat tengah menghitung sejumlah rupiah, sebelum akhirnya melipat dan memasukan ke dalam lemari meja di depannya. Meski Jakarta mendung beriringan dengan derasnya hujan, senyum cerahnya tetap menyambut pertanyaan yang dilontarkan.

“Ada yang jual gelang atau antingnya gitu,” dia menjawab pertanyaan Liputan6,com seraya mengeraskan suara karena harus berlomba dengan gemuruh. “Tapi tidak banyak,” lanjut dia di tengah iringan hujan yang jatuh ke tanah.

Jari-jemarinya mengetuk lemari kaca yang cukup kusam, namun tetap terlihat aksesoris emas yang hanya tinggal sedikit. Bukan karena laku keras hari itu, tapi sudah lama tidak ditambahkan ke dalam etalasenya.

Sem

bari memasukan uang ke dalam tasnya, penadah emas di Jakarta Selatan ini bercerita satu atau dua orang yang datang untuk menjual emas setiap hari di lapaknya.

“Yah lumayan, ada yang bawa anting, cincin nikah, sama gelang tapi sudah agak patah gitu,” ujar dia sambil merapikan tas dan menggendong di bahunya.

“Ya saya terima saja, toh bantu-bantu orang,” diiringi salam pamit dengan lambaian tangan dan gerakan alis mengangkat sekali.

Di lokasi berbeda, Via terlihat duduk tenang di minimarket sembari berteduh di tengah derasnya hujan yang masih belum lelah menggempur langit Jakarta.

Per

empuan berusia 21 tahun mengangguk sembari menekan layar ponsel. “Tahu kok harga emas tinggi,” kemudian menunjukan layar ponsel miliknya. “Tapi saya terakhir beli bulan kemarin, masih Rp1,7 (juta per gram),” kemudian menarik handphone lagi.

Kemudian, tiga kalimat pendek dilontarkan Via, tidak dalam satu tarikan napas, tapi berbarengan dengan dua tegukan kopi gula aren dalam sebuah botol plastik.

Sebelum tegukan pertama: "Pernah jual emas"

Setelah tegukan pertama: "Anting gitu tapi tinggal satu. Hilang soalnya"

Dal

am tegukan selanjutnya: "Lumayan masih di Rp 1,5 (juta)."

Setelah meletakkan kopi pada meja besi lalu membuka handphonenya lagi, “Tahu kok harganya lagi tinggi, tapi saya enggak mau jual lagi, maunya beli lagi.”

Lanjut baca

Selang beberapa menit hari akan bersalin tarikh, ia menggenapkan sebuah visi perempuan muda yang mandiri, “Karena buat jangka panjang, pada dasarnya investasi. Engga akan turun banget dan tetap naik.”

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |