Diplomasi "Pahlawan Marvel" hingga Storytelling: Rahasia Komunikasi Pemimpin Dunia di Davos

2 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Gelaran Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, kembali menjadi sorotan dunia. Bukan hanya karena isu-isu besar seperti ketegangan geopolitik, ancaman perang dagang, hingga disrupsi kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja global, tetapi juga karena cara para pemimpin dunia dan CEO raksasa bisnis menyampaikan pesan mereka ke publik global.

Dalam era media sosial dan klip video 10 detik yang viral di TikTok, kemampuan berkomunikasi kini menjadi aset strategis yang sama pentingnya dengan kebijakan ekonomi itu sendiri.

Dikutip dari CNBC, Senin (26/1/2026), konferensi utama WEF yang berlangsung pada 19–23 Januari mengusung tema “Semangat Dialog”, menandai urgensi komunikasi yang efektif di tengah ketidakpastian global.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pendiri Microsoft Bill Gates, CEO Nvidia Jensen Huang, hingga Presiden Prancis Emmanuel Macron tampil bergantian menyampaikan pandangan mereka.

Setiap gestur, intonasi suara, hingga ekspresi wajah mereka tidak hanya disiarkan langsung, tetapi juga dikemas ulang menjadi cuplikan singkat yang dikonsumsi jutaan orang di seluruh dunia dan berdampak langsung pada persepsi pasar serta iklim bisnis global.

Menurut René Carayol, pelatih kepemimpinan yang telah bekerja dengan para pemimpin dunia dan CEO Fortune 500, kunci utama komunikasi bukan terletak pada isi pesan semata, melainkan pada cara penyampaiannya.

Dalam konteks bisnis global, satu pidato yang kuat dapat membangun kepercayaan investor, memperkuat posisi geopolitik, hingga membentuk arah ekonomi lintas negara.

Macron dan Carney, Simbol Kepemimpinan yang Tegas

Carayol menyebut Presiden Prancis, Emmanuel Macron sebagai salah satu komunikator paling mencuri perhatian di Davos. Dengan gaya tegas, bahasa tubuh berwibawa, dan pesan keras soal ancaman dunia tanpa aturan, Macron berhasil membangun citra pemimpin Eropa yang berani dan tidak gentar menghadapi tekanan global, termasuk dari Amerika Serikat.

“Dia seperti pahlawan super Marvel. Dia tegak, lugas, setinggi mungkin, dan berani berbicara,” kata Carayol.

>Sikapnya “tegak, menatap ke atas, tampak berwibawa,” yang memancarkan aura “tidak takut, tidak menyesal, dan memberi seluruh Eropa keteguhan hati,” tambahnya.

Lanjut baca

Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney tampil dengan pendekatan berbeda. Tanpa ekspresi emosional berlebihan, Carney menyampaikan pesan serius mengenai perlunya negara-negara kekuatan menengah bersatu menghadapi tekanan ekonomi global. “Negara-negara besar telah mulai menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata. Tarif sebagai daya tawar, infrastruktur keuangan sebagai paksaan, rantai pasokan sebagai kerentanan yang dapat dieksploitasi,” kata Carney. Gaya tenang dan terukur ini dinilai mampu membangun rasa hormat dan kredibilitas di mata komunitas bisnis internasional. “Dia serius... dia ingin dunia tahu bahwa mereka tidak akan mundur melawan Trump tanpa pernah menyebut namanya,” kata Carayol. “Macron adalah orang yang akan Anda ingat, Carney adalah orang yang akan Anda hormati,” tambah Carayol.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |