Industri Garmen Asal Bandung Siap Tembus Pasar Internasional

3 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Industri fashion dan garmen tidak hanya bergerak mengikuti tren visual, tetapi juga kebutuhan fungsional yang semakin spesifik. Salah satu segmen yang tumbuh signifikan adalah produk penunjang bentuk dan pemulihan tubuh, terutama bagi perempuan.

Korset, yang dulu identik dengan estetika semata, kini berkembang menjadi produk dengan fungsi kesehatan dan kenyamanan yang membutuhkan standar produksi lebih tinggi.

Di sisi lain, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap keamanan produk mendorong tuntutan akan material yang tepat, desain ergonomis, serta proses produksi yang terukur. Hal ini membuat produksi korset tidak bisa disamakan dengan pembuatan pakaian biasa. Diperlukan pemahaman anatomi, teknik kompresi, hingga kontrol kualitas yang ketat agar produk aman digunakan dalam jangka waktu tertentu.

Kondisi tersebut membuka ruang bagi pabrik garment yang berani mengambil jalur spesialisasi. Tidak banyak pelaku industri yang memilih fokus pada satu jenis produk dengan kompleksitas tinggi, karena membutuhkan investasi pengetahuan, riset, dan konsistensi produksi yang berkelanjutan.

Di tengah pesatnya kebutuhan pasar akan produk pendukung tubuh, JTS Garment, pabrik korset asal Bandung, Indonesia, mengambil posisi sebagai produsen yang memusatkan seluruh lini produksinya pada korset.

Perusahaan yang berada di bawah PT Jawara Tiga Sekawan ini dikenal sebagai pabrik yang secara khusus memproduksi korset pasca melahirkan dan korset pelangsing untuk kebutuhan brand lokal maupun internasional dengan pendekatan business to business.

“Kami tidak memproduksi banyak jenis pakaian. Fokus kami hanya korset, karena di situlah kami bisa menjaga standar dan fungsi produk secara konsisten,” ujar Direktur JTS Garment, Jujun Junaedi, Kamis (5/2/2026).

Incar Pasar Ekspor

Tak cuma mengincar pasar lokal, JTS Garment juga siap mengekspor produknya ke luar negeri. Adapun negara tujuan ekspornya yaitu negara di kawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia. Adapun target penjualan yang dipasang perusahaan sebeesar Rp 500 juta per bulan.

Dengan quality control berlapis, setiap produk dijaga konsistensinya agar sesuai dengan identitas brand pemesan.

Peran pabrik ini tidak berhenti pada proses jahit-menjahit. JTS Garment juga mendampingi pertumbuhan brand melalui konsultasi desain, efisiensi biaya, dan kesiapan produksi ulang dalam skala lebih besar. Model kerja ini menjadikan relasi dengan klien bersifat jangka panjang, bukan sekadar transaksi satu kali.

Di tengah persaingan industri garment yang semakin padat, fokus pada spesialisasi menjadi pembeda utama. Dengan menempatkan diri sebagai pabrik korset yang memahami fungsi, struktur, dan standar keamanan produk, JTS Garment menegaskan perannya dalam rantai industri korset Indonesia yang kini mulai melirik pasar global.

Pemerintah Mau Bikin BUMN Tekstil, Pengusaha Wanti-Wanti Masalah Ini

Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyarankan aspek investasi yang bisa disasar oleh BUMN Tekstil. Tujuannya untuk mengangkat daya saing industri tekstil nasional.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian, Saleh Husin mengatakan, investasi sebaiknya difokuskan pada bagian hulu dan intermediate rantai industri tekstil. Misalnya, pada sisi produksi serat sintetis, benang, dan kain.

"Selama ini, banyak pabrik garmen bergantung pada bahan baku impor karena pasokan dalam negeri terbatas atau mahal. Akibatnya, ketika impor dibanjiri produk murah, industri lokal semakin tertekan," ungkap Saleh dalam keterangan yang diterima Liputan6.com, Rabu (21/1/2026).

Dia juga menyarankan investasi diarahkan pada mesin moderen dan tekstil khusus. Seperti untuk kebutuhan kesehatan, otomotif, atau bahan industri. Aspek ini dinilai lebih menjanjikan dibandingkan hanya memproduksi pakaian jadi massal.

"Segmen ini tidak terlalu sensitif terhadap harga murah dari impor ilegal dan lebih menekankan kualitas serta spesifikasi," katanya.

Saleh memandang, dengan arah ini, industri tekstil bisa keluar dari citra sunset industry yang identik dengan persaingan harga murah dan margin tipis.

Pengusaha Sambut Baik

Sebelumnya, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) merespons rencana pemerintah membentuk BUMN Tekstil. Namun, pengusaha mewanti-wanti soal rekam jejak BUMN Tekstil yang pernah merugi hingga dibubarkan.

Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa menyambut baik rencana tersebut. Termasuk kehadiran BUMN masuk kembali ke industri tekstil Tanah Air.

"Kita menyambut baik rencana pemerintah untuk memiliki perusahaan tekstil milik BUMN," kata Jemmy saat dikonfirmasi, Rabu (21/1/2026).

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |