Harga Minyak Dunia Stabil Jelang Rapat OPEC+, Pasar Waspadai Risiko Geopolitik

5 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Jumat setelah transaksi minyak mentah AS kembali dibuka usai sempat terhenti akibat gangguan sistem. Pelaku Pasar kini fokus pada negosiasi damai RusiaUkraina yang masih berlanjut serta rapat OPEC+ pada Minggu mendatang, yang dapat memberikan sinyal terkait kebijakan produksi ke depan.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (29/11/2025), kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) kembali diperdagangkan setelah sebelumnya dibekukan karena masalah pendinginan di pusat data CyrusOne yang memengaruhi CME Group. Sementara itu, harga minyak Brent tetap diperdagangkan di bursa ICE.

Kontrak Brent pengiriman Januari, yang akan jatuh tempo Jumat ini, ditutup turun USD 0,14 atau 0,22% menjadi USD 63,20 per barel. WTI berakhir di USD 58,55 per barel, turun USD 0,10 atau 0,17% dibanding penutupan Rabu. Tidak ada sesi penutupan pada Kamis akibat libur Thanksgiving di AS.

Baik WTI maupun Brent menuju penurunan bulanan keempat berturut-turut—tren terpanjang sejak 2023—meskipun keduanya masih naik lebih dari 1% selama sepekan.

Potensi Surplus Minyak Dunia

Ekspektasi meningkatnya pasokan global terus menekan harga minyak dunia, meski margin keuntungan kilang yang kuat masih menopang permintaan di beberapa wilayah. Analis Rystad, Janiv Shah, menyebut bahwa potensi surplus minyak menjadi sentimen bearish yang membebani harga.

Survei kantor berita internasional terhadap 35 ekonom memperkirakan harga Brent rata-rata berada di USD 62,23 per barel pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya USD 63,15. Hingga sejauh ini, harga Brent telah mencatat rata-rata USD 68,80 per barel sepanjang 2025.

Harapan tercapainya kesepakatan damai Rusia–Ukraina sempat menekan harga minyak di awal pekan, namun pasar kembali pulih dalam tiga sesi terakhir seiring pembicaraan yang berlangsung alot.

“Kontrak berjangka sebelumnya mengantisipasi adanya semacam kesepakatan damai sehingga menekan harga. Namun saat ini masih sangat sedikit informasi, dan jika tidak tercapai kesepakatan, kemungkinan akan ada sanksi yang lebih ketat terhadap ekspor minyak Rusia,” ujar Senior Vice President BOK Financial Dennis Kissler.

Rapat OPEC+

Menjelang rapat pada Minggu, sumber mengungkapkan bahwa OPEC+ kemungkinan besar akan mempertahankan level produksi saat ini. Selain itu, grup produsen minyak tersebut diperkirakan membahas mekanisme baru untuk menilai kapasitas produksi maksimum masing-masing anggota.

Arab Saudi, sebagai eksportir minyak terbesar dunia, diperkirakan akan kembali menurunkan harga jual resmi (OSP) minyak untuk pembeli Asia pada Januari. Jika terwujud, ini akan menjadi penurunan harga kedua berturut-turut dan sekaligus level terendah dalam lima tahun terakhir. Langkah tersebut dipicu oleh pasokan yang melimpah serta prospek surplus global.

Keputusan OPEC+ dan strategi harga Arab Saudi diperkirakan menjadi penentu utama arah harga minyak dunia dalam beberapa pekan ke depan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |