Eropa Tunda Kesepakatan Dagang dengan AS, Pasar Global Waspada

22 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Merespons sengketa dagang dengan Amerika Serikat (AS), Parlemen Eropa memutuskan untuk menunda kesepakatannya dengan AS pada Juli mendatang. Dampak yang terjadi adalah ketegangan lain antara AS dan Eropa semakin meningkat.  Hal ini mengingat Donald Trump berupaya untuk mencaplok Greenland dan mengancam akan memberlakukan tarif baru kepada negara-negara Eropa yang mendukung Greenland. 

Keputusan Eropa untuk menunda kesepakatan telah mengguncang pasar keuangan. Pembicaraan tentang perang dagang semakin panas dan besar kemungkinan AS melakukan pembalasan atas langkah-langkah perdagangan Eropa.Demikian mengutip BBC, Kamis (22/1/2026).

Pada Selasa, tekanan mengakibatkan penurunan saham baik di Eropa maupun Amerika Serikat. Bursa saham Eropa mencatat kerugian berturut-turut di hari kedua. Di AS, Dow Jones merosot lebih dari 1,7%, sementara S&P 500 turun lebih dari 2% dan Nasdaq ditutup sekitar 2,4% lebih rendah.

Berbeda dengan sisi Atlantik, pasar saham kawasan Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan yang beragam pada Rabu. Saham di Jepang dan Australia cenderung lebih rendah dibanding dengan Hong Kong dan China yang menunjukkan peningkatan.

Berpengaruh ke aset save-haven, harga emas terus menguat dan naik di atas USD 4.800 (£3.570) per ons untuk pertama kalinya dan harga perak turun dari rekor tertinggi di atas USD 94 per ons.

Di tengah guncangan, dolar AS tetap stabil dibanding dengan mata uang utama lainnya setelah turun 0,5%. Penurunan tersebut termasuk penurunan harian terbesar sejak awal Desember dan sangat tajam bagi ekonomi AS tetapi sangat stabil bila dibandingkan dengan mata uang lainnya.

Kesepakatan di Lapangan Golf Turnberry

Kesepakatan AS dan Eropa yang dilakukan di lapangan golf Turnberry di Skotlandia meredakan ketegangan. Kesepakatan tersebut menghasilkan penurunan bea masuk AS barang Eropa yang awalnya sebesar 30% menjadi 15%.

Sebagai imbalannya, Eropa berinvestasi di AS dan melakukan perubahan di benua itu yang diharapkan dapat meningkatkan ekspor AS. Namun, kesepakatan tersebut masih memerlukan persetujuan dari Parlemen Eropa agar menjadi resmi.

Menurut pemimpin komite perdagangan internasional Parlemen Eropa, Bernd Langer, menunda kesepakatan adalah jalan satu-satunya karena adanya ancaman AS terkait Greenland.

"Dengan mengancam integritas teritorial dan kedaulatan negara anggota Uni Eropa dan dengan menggunakan tarif sebagai instrumen pemaksaan, AS merusak stabilitas dan prediktabilitas hubungan perdagangan Uni Eropa–AS," kata Lange.

"Tidak ada alternatif lain selain menangguhkan pengerjaan dua usulan legislatif Turnberry sampai AS memutuskan untuk kembali menempuh jalur kerja sama daripada konfrontasi, dan sebelum langkah lebih lanjut diambil," tambahnya.

Eropa Tunda Bea Masuk

Pada awalnya Eropa berencana untuk mengenakan bea masuk terhadap barang-barang asal Amerika Serikat senilai €93 miliar atau setara dengan USD 110 miliar atau Rp 1.857 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.890). Kebijakan tersebut adalah bentuk respon Eropa terhadap kebijakan tarif yang diberlakukan Trump atau yang disebut dengan “Hari Pembebasan”. 

Namun, akhir-akhir ini Eropa memutuskan untuk menunda pengenaan bea tersebut begitu pula dengan AS menunda kebijakan tarifnya. Keduanya masih berada dalam tahap diskusi untuk mengurangi ketegangan yang terjadi.

Dikabarkan penundaan tersebut akan berakhir pada 6 Februari yang artinya Uni Eropa akan memulai pemungutan suara pada 7 Februari kecuali ada beberapa pihak yang mengajukan perpanjangan lagi.

Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Presiden Prancis Emmanuel Macron berkata "akumulasi tarif baru yang tak ada habisnya." 

"Pada dasarnya tidak dapat diterima, terlebih lagi ketika tarif tersebut digunakan sebagai alat tawar-menawar terhadap kedaulatan teritorial," tambahnya.

Respons Amerika Serikat terhadap Langkah-Langkah Uni Eropa

Dalam pidatonya di Davos, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan kepada para pemimpin Eropa untuk tidak melakukan pembalasan dan menyarankan mereka agar berpikiran terbuka. 

"Saya berpesan kepada semua orang, tenanglah. Tarik napas dalam-dalam. Jangan membalas. Presiden akan hadir besok, dan beliau akan menyampaikan pesannya," kata dia.

Menteri Perdagangan Howard Lutnick dan Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan pembalasan tanpa adanya tanggapan yang jelas. 

"Yang saya temukan adalah ketika negara-negara mengikuti saran saya, mereka cenderung baik-baik saja. Ketika mereka tidak melakukannya, hal-hal gila terjadi," kata Greer melansir dari BBC, Rabu (21/01/2025).

Langkah Kanada

Tercatat hanya China dan Kanada yang teguh memberlakukan tarif kepada AS. Namun, Kanada tidak sepenuhnya konsisten, pada bulan September lalu pemerintah Kanada mempertimbangkan kembali dan secara diam-diam mencabut tindakan tersebut karena khawatir dapat merusak perekonomian negaranya.

Dalam pidatonya di Davos pada Selasa, Perdana Menteri Kanada Mark Carney mendesak "negara-negara kekuatan menengah" untuk bersatu melawan dunia persaingan kekuatan besar

"Ketika kita hanya bernegosiasi secara bilateral dengan negara hegemon, kita bernegosiasi dari posisi lemah. Kita menerima apa yang ditawarkan. Kita bersaing satu sama lain untuk menjadi yang paling akomodatif," ia memperingatkan. "Ini bukanlah kedaulatan. Ini adalah pelaksanaan kedaulatan sambil menerima subordinasi."

Di sisi lain, Mahkamah Agung masih menunda keputusan tentang keabsahan tarif yang diumumkan Trump, sah secara hukum atau tidak.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |