Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyoroti angka pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS). Dia menilai, ada kejanggalan dalam penyusunan data Produk Domestik Bruto (PDB), terutama jika dikaitkan dengan upaya menjaga rasio defisit fiskal.
Nailul mengatakan, sumber pertumbuhan ekonomi secara kumulatif sepanjang 2025. Ia kemudian menyoroti konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang kontribusinya mencapai 82,65% terhadap PDB, tetapi pertumbuhannya tidak melampaui angka 5,11%.
"Jika dua komponen utama itu tidak tumbuh lebih tinggi dari 5,11%, lalu sumber pertumbuhan yang membuat ekonomi bisa tumbuh 5,11% itu dari mana?” ujarnya kepada Liputan6.com, Sabtu (7/2/2026).
Menurut Huda, BPS menyebut ekspor sebagai komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 7,03%. Namun, ia mengingatkan,ekspor tidak bisa dilepaskan dari impor. Sementara itu, kontribusi net ekspor terhadap PDB hanya sekitar 8,47%.
"Net ekspor memang tumbuh, tapi kontribusinya relatif kecil. Apakah masuk akal jika itu disebut sebagai pendorong utama pertumbuhan?” kata dia.
Kejanggalan lain, lanjut Huda, terlihat pada lonjakan PMTB yang didorong oleh impor mesin dan perlengkapan. Subkomponen mesin dan perlengkapan bahkan tumbuh hingga 17,99%.
"Di satu sisi, net ekspor diklaim menjadi sumber pertumbuhan sebesar 0,74%. Di sisi lain, impor mesin melonjak tajam. Pertanyaannya, impor mesin itu ditempatkan di mana?” ujarnya.
Huda juga menilai kondisi ekonomi yang digambarkan BPS tidak sejalan dengan realisasi penerimaan perpajakan. Ia mencatat penerimaan pajak justru mengalami kontraksi, terutama dari jenis pajak yang berkaitan langsung dengan konsumsi, seperti PPN dan PPnBM.
"Secara logika, ketika ekonomi membaik, penerimaan pajak juga harusnya membaik. Tapi ini justru berkebalikan, sehingga menimbulkan pertanyaan besar,” tegasnya.
Konsumsi Rumah Tangga
Dari sisi triwulanan, Huda mengakui konsumsi rumah tangga pada kuartal IV 2025 memang meningkat menjadi 5,11%, sejalan dengan naiknya Indeks Keyakinan Konsumen. Namun ia menilai pertumbuhan ekonomi 5,39% tetap sulit dijelaskan hanya dari konsumsi.
"Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pernah lebih tinggi dari 5,11%, tapi saat itu pertumbuhan ekonomi tidak sampai 5,39%. Jadi pengungkitnya jelas PMTB, yang lagi-lagi didorong impor mesin,” katanya.Ia pun mempertanyakan pencatatan statistik BPS terkait impor mesin dan perlengkapan. “Apakah impor mesin itu masuk ke PMTB, impor, atau keduanya? Ini harus dijelaskan secara transparan,” ujar Huda.
Huda menyinggung kemungkinan keterkaitan angka PDB dengan upaya menjaga rasio defisit fiskal. Ia menyebut, dengan defisit fiskal sebesar Rp695,1 triliun dan rasio defisit 2,92%, maka PDB atas dasar harga berlaku yang dibutuhkan berada di kisaran Rp23.804 triliun.
“Angka tersebut hampir sama dengan yang diumumkan BPS. Saya sampai berpikir, apakah ini berkaitan dengan target rasio defisit fiskal?,” ujar dia.
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 atau full year mencapai 5,11%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut melenceng dari prediksi Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 di kisaran 5,2%. Namun, nyatanya di bawah prediksinya.
"Secara kumulatif ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11%," ujar Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers BPS, Kamis (5/2/2026).
Namun, prediksi Menkeu Purbaya untuk triwulan IV 2025 hampir mendekati hasil pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 yang disampaikan BPS.
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 mencapai 5,39% secara year on year atau tahunan. Sementara, sebelumnya Purbaya memprediksi di angka 5,4%, artinya hanya selisih 1 persen.
Amalia menjelaskan pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 mengacu pada ekonomi Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto pada triwulan IV 2025 atas dasar harga berlaku adalah sebesar Rp 6.147,2 triliun, atas dasar harga konstan Rp 3.474,5 triliun.
"Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 bila dibandingkan kuartal IV 2024 atau secara year on yearmengalami pertumbuhan sebesar 5,39%," jelas Amalia.
Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha
BPS mencatat dari sisi lapangan usaha pada triwulan IV 2025 secara year on year seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan.
Lapangan usaha utama yang memberikan kontribusi bsar terhadap PDB yaitu industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan.
"Di mana total share kelima usaha ini mencakup sebesar 63,09% PDB," pungkasnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4912959/original/002114200_1723122399-000_36CK6N9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429978/original/032472900_1764648614-IMG_2443__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496058/original/010781600_1770459687-word_media_image1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5462767/original/005104700_1767588776-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495915/original/081169500_1770446625-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-7_Februari_2026a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495917/original/027579000_1770446790-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-7_Februari_2026b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1043411/original/005540900_1446622303-20151104-OJK-AY-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4611754/original/081216400_1697423731-woman-carrying-cardboard-box-side-view.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495819/original/025064200_1770436877-Produk_MinyaKita.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414819/original/052620000_1763352087-ilustrasi_perak.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495794/original/037276100_1770435301-WhatsApp_Image_2026-02-07_at_09.49.12.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494850/original/078069300_1770346998-WhatsApp_Image_2026-02-06_at_08.42.37.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495749/original/036900200_1770427395-Menteri_Koordinator_Bidang_Pangan_Zulkifli_Hasan-7_Februari_2026.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5227787/original/093812800_1747821037-WhatsApp_Image_2025-05-21_at_16.41.19.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495711/original/086673500_1770398741-RDH02940.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5001180/original/085697000_1731373006-Pekerja_di_kebun_kelapa_sawit_sedang_memuat_TBS_ke_atas_truk__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4651321/original/012713000_1700126036-CPO_atau_Sawit.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4693825/original/025517000_1703131329-el_nino.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3172732/original/048313800_1594117392-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4592086/original/067091100_1695951584-WhatsApp_Image_2023-09-29_at_8.27.22_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5369177/original/054391600_1759456407-elon.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5408446/original/054909700_1762780494-71c2aa72-026f-4891-89a0-df5854c76daa.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382035/original/080562400_1760525876-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sadewa-2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5401396/original/030520700_1762166532-b0c89ad6-57fa-444a-bae3-8f293ca3c51f.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3324618/original/083189900_1608026626-20201215-Harga-emas-terus-turun-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5366177/original/014783900_1759219460-PHOTO-2025-09-30-14-39-35.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383860/original/002019600_1760696485-IMG_2666.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/976573/original/043185800_1441279137-harga-emas-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5186932/original/075074000_1744629098-20250414-Harga_Emas_Batangan-AFP_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5186928/original/035658900_1744629096-20250414-Harga_Emas_Batangan-AFP_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5387428/original/053594900_1761041499-WhatsApp_Image_2025-10-21_at_06.51.54.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1676457/original/010595500_1502453066-20170811-indonesia-property-expo-AY4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4594999/original/047400000_1696220197-Jokowi_Resmikan_Kereta_Cepat_Jakarta-Bandung_Whoosh-AFP__5_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4531309/original/096308400_1691557117-IMG-20230809-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1041287/original/081496000_1446466762-20151101-Penyimpanan-Uang-Jakarta-03.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5308549/original/077636700_1754547877-Gemini_Generated_Image_3o91z63o91z63o91.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5346012/original/090224300_1757577407-buah_3.jpg)