AS Jadi Penerima Pinjaman Terbesar dari China, Kini Mengalir ke Negara Kaya

17 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Amerika Serikat (AS) yang selama bertahun-tahun memperingatkan negara-negara berkembang agar berhati-hati terhadap jebakan utang China, ternyata menjadi penerima pinjaman terbesar dari China.

Temuan mengejutkan ini diungkapkan dalam studi terbaru AidData, laboratorium penelitian di College of William & Mary, Virginia, yang menunjukkan dalam hampir 25 tahun terakhir perusahaan-perusahaan AS telah menerima lebih dari USD 200 miliar, atau sekitar Rp 3.335 triliun (kurs USD 1 = Rp 16.660) pembiayaan dari Tiongkok.

Pendanaan tersebut mengalir ke berbagai sektor strategis, mulai dari pengembangan gas alam cair, pertahanan, pusat data, hingga pembangunan infrastruktur vital seperti terminal bandara internasional dan fasilitas energi.

Temuan ini menyoroti perubahan besar dalam strategi pinjaman Tiongkok yang selama ini dianggap lebih agresif di negara berkembang, tetapi kini justru semakin menyasar negara berpendapatan tinggi yang memiliki teknologi maju dan infrastruktur kritikal.

Pergeseran tersebut terjadi seiring prioritas Beijing untuk memperkuat pengaruh global melalui sektor-sektor bernilai strategis, terutama setelah peluncuran program ambisius “Made in China 2025” yang menargetkan kemandirian teknologi.

AidData menemukan porsi pinjaman yang dialokasikan China ke negara berpendapatan tinggi melonjak drastis dari 1% menjadi 76% dalam dua dekade.

Bahkan sebagian besar operasi pinjaman dilakukan melalui skema kompleks, melibatkan perusahaan cangkang di yurisdiksi lepas pantai hingga sindikasi bank internasional, sehingga sering luput dari radar pengawasan.

Temuan ini membuat banyak pakar menilai persaingan AS–China tidak lagi hanya terjadi di arena dagang, tetapi telah masuk ke persaingan jangka panjang dalam kekuatan ekonomi dan teknologi global.

Pinjaman China Mengalir ke Infrastruktur dan Teknologi Sensitif AS

AidData menemukan pendanaan dari China telah masuk ke sejumlah sektor strategis di Amerika Serikat, mencakup proyek-proyek energi, teknologi, hingga infrastruktur transportasi utama.

Di sektor energi, China terlibat dalam pembangunan fasilitas gas alam cair (LNG) di Texas dan Louisiana yang merupakan proyek penting dalam jaringan pasokan energi AS. Aliran dana ini menunjukkan upaya Tiongkok untuk menempatkan pengaruhnya pada infrastruktur energi yang memiliki dampak jangka panjang.

Pendanaan juga merambah pusat data di Virginia Utara, kawasan yang dikenal sebagai pusat komputasi global dan lokasi berbagai fasilitas pengolahan data sensitif milik perusahaan teknologi raksasa. Keterlibatan Tiongkok di sektor ini menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan informasi dan potensi akses terhadap teknologi penting.

Di bidang transportasi, China ikut membiayai pembangunan terminal baru di Bandara Internasional JFK dan LAX—dua gerbang udara tersibuk dan paling penting di Amerika Serikat. Investasi ini menunjukkan jangkauan finansial Tiongkok yang menyentuh infrastruktur vital AS.

China Sediakan Likuiditas ke Perusahaan AS

Selain itu, China juga menyediakan dukungan likuiditas bagi perusahaan besar seperti Amazon, Tesla, dan Boeing. Melalui skema pendanaan yang sering disalurkan lewat lembaga internasional dan perusahaan cangkang, China berhasil menjangkau inti industri teknologi dan manufaktur AS, memperkuat kehadirannya dalam sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap keamanan nasional.

Selain itu, China juga membantu perusahaan Tiongkok mengakuisisi saham di perusahaan AS yang bergerak di bidang teknologi tinggi seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, komputasi kuantum, robotika, dan semikonduktor.

Brad Parks, Direktur Eksekutif AidData, menilai bahwa pendanaan ini telah masuk ke sektor-sektor yang dinyatakan sensitif oleh Washington karena menyangkut keamanan nasional.

“Kita berbicara tentang pemberian pinjaman ke sektor-sektor yang telah ditetapkan sebagai sektor sensitif karena alasan keamanan nasional.” ucap Brad Parks.

Pinjaman China ke Negara Kaya Meningkat Drastis

Studi AidData memetakan total pinjaman dan hibah China mencapai USD 2,2 triliun, yang disalurkan ke 200 negara sejak 2000 hingga 2023.

Di 72 negara berpendapatan tinggi saja, China telah membiayai hampir 10.000 proyek dengan nilai mendekati USD 1 triliun.

Parks mengatakan banyak pihak sebelumnya berasumsi aktivitas pinjaman China di negara maju hanya skala kecil, namun data membuktikan sebaliknya.

Jangkauan Global Melebihi Perkiraan

William Henagan, mantan penasihat investasi Gedung Putih, menyebut dalam satu dekade terakhir AS memperketat screening investasi, namun risiko kompetitif tetap besar.

"Sejujurnya, saya pikir jenis risiko yang paling penting adalah, pada titik tertentu, daya saing ekonomi dan risiko keamanan yang pada akhirnya akan menentukan lintasan dan keberhasilan jangka panjang satu negara dibandingkan negara lain," tutur Henagan.

Ia menegaskan, persaingan antar kekuatan nuklir seperti AS dan Tiongkok lebih mungkin terjadi di arena ekonomi dan teknologi dibandingkan konflik fisik.

“Ketika dua kekuatan nuklir bersaing satu sama lain, konflik akan terjadi di bidang ekonomi atau teknologi, bukan di medan perang,” tegasnya.

AidData juga menyatakan, sebagian besar pinjaman China ke AS bertujuan mencari keuntungan komersial, bukan politik.

Respons China

Menanggapi laporan tersebut, Kementerian Luar Negeri China menegaskan pembiayaan luar negeri negaranya “mematuhi praktik internasional, prinsip pasar, dan prinsip keberlanjutan utang”.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |