Moody's Revisi Outlook Indonesia, Ekonomi Ungkap 3 Dampaknya

5 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi, mengungkapkan dampak pernyataan lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings yang menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari stabil, terhadap rumah tangga.

"Dampak untuk rumah tangga biasanya datang lewat tiga jalur yang mudah dikenali," kata Syafruddin dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).

Dampak pertama, harga dan daya beli. Rupiah melemah menaikkan biaya impor pangan, energi, obat, bahan baku, dan barang modal. Perusahaan bisa meneruskan biaya itu ke harga jual, sehingga masyarakat merasakan tekanan pada biaya hidup.

Kedua, suku bunga kredit dan akses pembiayaan. Ketika yield obligasi dan premi risiko naik, perbankan dan perusahaan menghadapi biaya dana lebih tinggi.

"Bank cenderung menahan ekspansi kredit atau menaikkan bunga kredit. UMKM, KPR, dan pembiayaan kendaraan paling cepat merasakan pengetatan," ujar dia.

Dampak ketiga, lapangan kerja dan pendapatan. Ketidakpastian kebijakan menahan investasi. Penundaan investasi mengurangi pembukaan kapasitas produksi baru dan perekrutan tenaga kerja, sehingga pemulihan pendapatan berjalan lebih lambat.

Dampak outlook negatif Moody’s ke depan Syafruddin menyebut, dampak outlook negatif Moody's ke depan terhadap perekonomian RI yakni, dampak pertama muncul lewat biaya pendanaan. Ketika outlook memburuk, investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang risiko Indonesia. Efeknya terasa pada harga obligasi (yield naik) dan biaya penerbitan utang baru, baik untuk pemerintah maupun korporasi.

Dampak kedua, lewat nilai tukar. Outlook negatif memperkuat narasi, risiko kebijakan meningkat, sehingga permintaan aset rupiah melemah. Rupiah yang melemah dapat menambah tekanan inflasi melalui harga barang impor dan biaya produksi yang memakai input impor.

"Dampak ketiga menyentuh arus modal dan pasar saham. Outlook negatif memperkuat sikap “risk-off” investor asing, terutama saat isu transparansi dan likuiditas pasar ikut mencuat. Reuters mencatat arus jual asing dan pelemahan IHSG di awal tahun, yang menunjukkan pasar menghukum lewat harga, bukan lewat debat," pungkasnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |