Indonesia Punya Potensi Kembangkan Geothermal, Teknologi jadi Tantangan

3 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT), terutama dari sektor geotermal yang menyimpan lebih dari 50% cadangan dunia. Namun, besarnya potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena masih terkendala teknologi dan biaya awal yang sangat tinggi.

 Asisten Profesor Universitas Nottingham, Bagus Muljadi, menilai Indonesia sejatinya memiliki modal besar untuk masuk ke ranah energi baru terbarukan. Dia menuturkan, pertanyaan utama bukan soal ada atau tidaknya potensi, melainkan seberapa besar kemampuan Indonesia memanfaatkannya di tengah persaingan global. 

"Secara potensi yang paling besar adalah geotermal. Kita harapnya memanifestasikan kurang dari 1% kapabilitas yang ada, mengingat Indonesia punya lebih dari 50% cadangan geotermal dunia,” ujar Bagus kepada Liputan6.com, dikutip Sabtu (7/2/2026).

Meski menjanjikan, Bagus menegaskan pengembangan geotermal tidak mudah. Tantangan terbesarnya terletak pada sisi teknologi, khususnya di sektor hulu. Ia menjelaskan bahwa geotermal membutuhkan investasi awal yang sangat mahal serta tingkat ketidakpastian yang tinggi.

"Bottleneck-nya adalah teknologi, terutama di daerah upstream. Geotermal itu enterprise yang sangat mahal di front end capital dan sangat sulit secara teknologi,” jelasnya.

Berbeda dengan minyak dan gas yang bersifat tangible, pengelolaan geotermal membutuhkan teknologi perpindahan panas yang kompleks. Namun di sisi lain, geotermal juga membuka peluang ekonomi baru. Bagus menyebut infrastruktur geotermal yang sudah menurun produktivitasnya bisa dimanfaatkan untuk carbon capture and storage maupun hydrogen storage. 

"Semua itu bisa menjadi nilai tambah perekonomian. Tapi lagi-lagi bottleneck-nya adalah teknologi,” ujar dia.

Selain geotermal, opsi energi lain seperti nuklir juga dinilai cukup menjanjikan. Namun, menurut Bagus, tantangan nuklir tidak hanya soal teknologi, melainkan juga risiko keamanan dan regulasi. 

“Masalahnya itu bukan hanya di bidang teknologi, tapi juga di bidang regulasi,” ujarnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |