Dari Tukang Antar Pizza Bergaji Rp 70 Ribu per Jam, Pria Asal Pakistan Ini Kini Miliki 270 Restoran

1 day ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Kisah inspiratif datang dari seorang imigran asal Pakistan yang kini menjadi raja bisnis pizza di Amerika Serikat. Nadeem Bajwa (58) membuktikan bahwa kerja keras dan tekad kuat bisa mengubah nasib seseorang secara drastis.

Pada 1991, Bajwa pertama kali menjejakkan kaki di Tanah Paman Sam dengan membawa mimpi besar. Ketika itu, pria yang masih berstatus mahasiswa di Indiana ini terpaksa bekerja sambilan untuk membiayai kuliah dan kehidupannya. Demikian mengutip dari CNBC, Jumat (29/8/2025).

Salah satu pekerjaan yang dijalaninya adalah menjadi tukang antar pizza di Papa John's dengan upah yang sangat minim, yakni USD 4,25  atau sekitar Rp 70 ribu per jam (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.474).

Namun siapa sangka, lebih dari tiga dekade kemudian, Bajwa justru menjadi salah satu pemilik usaha waralaba terbesar Papa John's di Amerika Utara. Kini dia menguasai lebih dari 270 gerai pizza yang tersebar di seluruh negeri.

Tidak hanya itu, Bajwa juga menjadi CEO Bajco Group yang didirikannya bersama kedua saudaranya. Perusahaan ini memiliki portofolio bisnis yang sangat beragam, mulai dari konstruksi, teknologi, akuntansi, hingga jaringan Papa John's miliknya.

Reporter: Sekar F

Perjuangan Keras di Negeri Orang

Perjalanan menuju puncak kesuksesan ternyata tidak mudah bagi Bajwa. Di usia 20-an, dia menjadi orang pertama dalam keluarganya yang nekat pindah ke Amerika Serikat. Berbagai tantangan berat langsung menyambutnya begitu tiba di negeri Paman Sam tersebut. 

“Penerbangan ke AS adalah penerbangan pertama saya. Saya belum pernah naik pesawat sebelumnya," kenang Bajwa. "Hanya untuk masuk pesawat saja saya gugup, apalagi pesawatnya penuh dan saya berangkat sendirian. Saat itu sangat cemas, tapi saya bertekad harus berhasil."

Pria kelahiran Pakistan ini mengaku kesulitan menyesuaikan diri dengan budaya Amerika Serikat dan terkendala komunikasi karena belum fasih berbahasa Inggris. "Kadang-kadang ketika jauh dari keluarga dan sendirian, rasanya sangat berat," ungkapnya.

Ambil Berbagai Pekerjaan Sambilan

Untuk membiayai kuliah, Bajwa terpaksa mengambil berbagai pekerjaan sambilan.

"Musim panas pertama, saya kerja di tiga tempat sekaligus. Pagi cuci piring saat waktu sarapan, siang antar pizza, dan malam kerja di Taco Bell," cerita Bajwa kepada CNBC Make It.

"Waktu itu saya tinggal di Fort Wayne, Indiana. Saya mulai antar pizza untuk Papa John's ketika mereka buka cabang di kota itu. Dari situ saya mulai menyukainya, plus tip yang diberikan lumayan, hal itu sangat membantu," ia menambahkan.

Kerja keras Bajwa tidak sia-sia. Karier Bajwa di Papa John's terus menanjak dengan cepat. Ketika lulus kuliah pada 1996, posisinya sudah berubah dari pengantar pizza biasa menjadi manajer wilayah.

Setelah lulus, Bajwa sempat melamar di beberapa posisi perusahaan besar karena memang itulah cita-citanya sejak awal kuliah.

Berkecimpung di Bisnis Pizza

“Saya mencoba melamar beberapa posisi di pekerjaan korporat. Namun, hati kecil saya agak berharap agar saya tidak mendapat pekerjaan korporat. Tapi saya tetap coba karena tidak mau menyesal nantinya, karena sepanjang hidup saya pikir untuk kerja di perusahaan besar," jelasnya.

"Tapi ternyata, tidak ada pekerjaan korporat yang menawarkan gaji lebih besar dari yang sudah saya dapat di Papa John's," lanjut Bajwa.

Karena itulah, dia memutuskan tetap berkecimpung di bisnis pizza. Setelah mengelola beberapa toko, akhirnya pada Juli 2002 Bajwa memberanikan diri membuka gerai Papa John's sendiri di East Liverpool, Ohio, dengan bantuan keluarga dan pinjaman bank.

"Saya beli peralatan bekas dengan harga murah. Waktu itu biaya bangunannya hanya setengah harga normal karena banyak yang saya kerjakan sendiri," ungkapnya. "Prinsip saya, buka toko dengan modal seminimal mungkin, sisanya untuk biaya iklan."

Total biaya yang dihabiskan untuk membangun gerai pertamanya ialah sekitar 150.000 dollar AS atau setara dengan Rp 2,3 miliar.

Guru Terbaik Bernama Kegagalan

Seperti pengusaha sukses lainnya, perjalanan Bajwa tidak selalu mulus. Berbagai kesalahan pada awal karier justru menjadi pelajaran berharga yang mengantarkannya ke puncak kesuksesan.

Kesalahan pertama terjadi saat akan membuka restoran perdana. Bajwa terlalu bersemangat melakukan promosi untuk grand opening hingga lupa mempersiapkan hal-hal teknis yang penting.

"Saya terlalu berlebihan dalam promosi, di hari pertama toko buka, setengah karyawan pergi karena situasinya sangat kacau," ujar Bajwa.

"Terlalu banyak pelanggan yang datang karena iklan yang berlebihan, kesalahan saya adalah saya lebih fokus melakukan promosi ketimbang melatih karyawan membuat pizza. Dari situ saya sadar betapa pentingnya persiapan yang matang.”

Puncak Kesulitan

Enam bulan kemudian, melihat omzet toko pertama melampaui target, Bajwa memberanikan diri membuka satu cabang lagi. Setelah berhasil mengelola dua toko, dia semakin yakin dan langsung membuka tiga cabang sekaligus. Namun ternyata, keputusan terburu-buru ini nyaris membuatnya bangkrut.

“Setelah sukses dengan dua toko, saya pikir akan mudah bila langsung membuka cabang ke tiga. Namun yang terjadi saya malah kewalahan karena karena tim yang saya punya kurang mumpuni," ungkapnya dengan nada menyesal.

Puncak kesulitan terjadi pada 2008 saat krisis ekonomi global melanda. Ekspansi terlalu cepat membuat kondisi keuangan perusahaannya terpuruk.

"Kami tumbuh kelewat cepat dan akhirnya jatuh. Krisis 2008 benar-benar masa kelam," kenangnya.

Namun Bajwa tidak menyerah. Berbagai kegagalan justru membuatnya lebih bijak dalam mengelola bisnis. Dia belajar pentingnya tetap rendah hati meski sudah meraih kesuksesan.

“Kita harus tetap rendah hati. Kalau sudah merasa paling jago, justru di situlah kehancuran akan dimulai," filosofinya.

Kerja Keras Buahkan Hasil Gemilang

Kini, kerja keras Bajwa membuahkan hasil gemilang. Pada 2024, Bajco Group meneken kesepakatan dengan Papa Johns International untuk membuka 50 restoran baru hingga 2028. Target akhirnya adalah 500 gerai di seluruh Amerika.

Tidak hanya itu, dari bisnis pizza, Bajwa juga mengembangkan sayap ke berbagai sektor. Mulai dari call center, konstruksi, layanan akuntansi, hingga teknologi.

"Kami punya call center, divisi konstruksi, layanan akuntansi offshore, dan divisi teknologi untuk mendukung portofolio Papa Johns. Sekarang semua jadi bisnis terpisah yang melayani klien dalam dan luar Papa Johns," paparnya.

Merenungkan perjalanan panjangnya, Bajwa masih tidak percaya bisa mencapai kesuksesan sebesar ini.

Saya tidak pernah bermimpi akan mencapai kesuksesan sebesar ini. Saya hanya fokus bekerja maksimal dan terus belajar dari setiap kesalahan yang pernah saya buat. Sisanya terjadi dengan sendirinya," refleksi Bajwa. "Siapa sangka semua pencapaian ini bermula dari pekerjaan mengantar pizza?"

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |