Sindiran Keras Purbaya ke Moody’s dan IMF: Offside Soal Outlook Ekonomi Indonesia

2 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyindir sejumlah proyeksi yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat tajam. Ia menilai sebagian analis dan lembaga telah keliru membaca arah ekonomi karena realisasi data justru menunjukkan hasil yang lebih kuat.

Menurutnya, sebelum angka resmi pertumbuhan diumumkan, berkembang pandangan bahwa ekonomi domestik akan mengalami perlambatan signifikan. Sentimen itu bahkan dikaitkan dengan perubahan outlook oleh lembaga pemeringkat global.

“Waktu kita belum mengeluarkan angka ini, orang kan berpikir ekonominya tumbuhnya akan lambat sekali, makanya Moody’s mengeluarkan outlook kita negatif, karena ada prospek pertumbuhan yang lebih lambat katanya. Taunya, tumbuhnya lebih tinggi,” kata Purbaya dalam acara Bloomberg Technoz Economic Outlook 2026, Kamis (12/2/2026).

Purbaya menyebut, setelah data pertumbuhan dirilis, sejumlah lembaga internasional justru merevisi naik proyeksi ekonomi Indonesia. Revisi tersebut dinilai mencerminkan pengakuan bahwa kinerja ekonomi domestik lebih solid dari perkiraan awal pasar.

“Habis itu langsung IMF menaikkan prediksi kita dari 4.9 ke 5.2 untuk tahun ini, JP Morgan juga sama, dari 4.9 ke 5.2,” tuturnya.

Ia pun menilai ada pihak-pihak yang terlalu cepat mengambil kesimpulan negatif terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Jadi ada yang offside kelihatannya. Biar aja, kita akan buat dia offside betulan,” tambah purbaya.

Purbaya menegaskan pemerintah akan terus mendorong stimulus fiskal, memperkuat likuiditas, dan menjaga ekspansi dunia usaha agar momentum pertumbuhan tetap terjaga. Pernyataan tersebut menjadi sinyal optimisme pemerintah kepada pelaku pasar di tengah dinamika sentimen global.

Moody’s Pangkas Sejumlah Outlook Emiten RI, Ini Daftarnya

Moody’s Ratings mengubah prospek (outlook) menjadi negatif terhadap sejumlah emiten di Indonesia. Keputusan ini diambil setelah lembaga pemeringkat tersebut menegaskan peringkat utang pemerintah Indonesia di level Baa2, sekaligus merevisi outlook sovereign menjadi negatif pada 5 Februari 2026.

Langkah tersebut turut menyeret sejumlah korporasi besar Tanah Air yang peringkat kreditnya memiliki keterkaitan erat dengan profil risiko Indonesia. Meski sebagian besar peringkat ditegaskan, perubahan outlook mencerminkan meningkatnya tekanan risiko makro dan kebijakan yang dapat memengaruhi kinerja kredit emiten ke depan.

Emiten Non-Keuangan

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)

Moody’s menilai ICBP tetap ditopang posisi dominan di pasar mi instan domestik serta ekspansi geografis yang memperkuat diversifikasi pendapatan. Profil keuangan yang konservatif dan likuiditas yang kuat juga menjadi penopang utama kualitas kredit perseroan.

PT United Tractors Tbk (UNTR)

United Tractors dinilai memiliki fondasi kuat dari bisnis alat berat dan jasa pertambangan dengan dukungan likuiditas yang sangat baik. Namun, Moody’s menyoroti kerentanan terhadap siklus industri komoditas serta risiko dari diversifikasi usaha yang dapat memengaruhi stabilitas kinerja.

PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)

Moody’s menilai Telkom memiliki kualitas kredit mandiri yang kuat, posisi pasar dominan, serta profil keuangan yang solid. Meski demikian, ruang kenaikan peringkat dinilai terbatas karena posisi rating Telkom saat ini sudah berada satu tingkat di atas peringkat Indonesia.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)

Moody’s merevisi outlook PGN menjadi negatif dari sebelumnya stabil, sejalan dengan perubahan outlook sovereign Indonesia. Lembaga pemeringkat menegaskan kembali peringkat kredit PGN di level Baa2 untuk issuer rating serta baa2 untuk baseline credit assessment (BCA).

Perubahan Outlook

Perubahan outlook ini mencerminkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia, yang dinilai mengalami penurunan dari sisi konsistensi, prediktabilitas, serta efektivitas komunikasi kebijakan dalam setahun terakhir. Jika kondisi tersebut berlanjut, dikhawatirkan dapat mengikis fondasi stabilitas makroekonomi yang selama ini menopang pertumbuhan.

Dari sisi fundamental, Moody’s menilai BCA PGN tetap didukung proyeksi kinerja keuangan yang kuat dalam dua hingga tiga tahun mendatang, posisi dominan sebagai perusahaan transmisi dan distribusi gas terbesar di Indonesia, serta rekam jejak operasional yang solid. Rasio retained cash flow (RCF) terhadap utang PGN tercatat meningkat menjadi 43% pada 2024 dari 39% pada 2023, dan berada di kisaran 42% hingga September 2025.

Bisnis inti transmisi dan distribusi gas diperkirakan tetap menjadi penopang utama, meski ada potensi tekanan dari penurunan alamiah pasokan gas serta kebijakan batas harga gas. Moody’s memperkirakan metrik kredit PGN tetap kuat berkat pengelolaan utang yang prudent dan posisi kas memadai.

Dalam jangka menengah, belanja modal PGN untuk pengembangan jaringan gas dan kapasitas LNG dinilai masih dapat dikelola, didukung pengalaman perusahaan dalam eksekusi proyek. Namun, peluang kenaikan peringkat dinilai terbatas selama outlook sovereign Indonesia masih negatif.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |