Industri Nilam Aceh Bangkit, UMKM Diperkuat Lewat Sistem Digital dan Standar Global

3 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Upaya membangkitkan kembali industri nilam di Aceh terus diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital dan penguatan kapasitas UMKM. Lewat sistem keterlacakan berbasis peta lahan, pelatihan produksi parfum, hingga dukungan kewirausahaan, program ini diarahkan untuk memastikan produk nilam memenuhi standar keberlanjutan global sekaligus memperluas akses pasar ekspor ke Eropa.

Project Manager Promise II Impact dari International Labour Organization (ILO), Djauhari Sitorus, mengatakan pihaknya memperkuat UMKM nilam di Aceh melalui sistem Integrated Resource Platform (IRP) guna memastikan keterlacakan (traceability) produk ekspor.

Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan pembeli di Eropa menelusuri asal lahan nilam untuk memastikan tanaman tidak berasal dari kawasan hutan terlarang. IRP dilengkapi fitur polygon coding yang menampilkan peta lahan petani, sehingga lokasi produksi dapat diverifikasi secara digital.

“Produk ini bisa dilacak lahannya, kelihatan di peta, dan dipastikan bukan dari wilayah terlarang,” ujarnya dalam diskusi Inklusi Keuangan dan Keberlanjutan UMKM Melalui Project II Impact di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Ia menjelaskan, standar ketat seperti European Union Deforestation Regulation (UDR) mewajibkan eksportir memastikan komoditas yang dipasarkan tidak terkait deforestasi.

“Dengan IRP ini, kami membantu memenuhi standar UDR tersebut,” katanya.

Bermitra dengan Universitas

Djauhari menegaskan, mitra proyek tidak akan membeli bahan baku dari lahan yang tidak memenuhi ketentuan keberlanjutan.

“Kami memastikan, kalau lahannya tidak sesuai, kami tidak mau beli,” ujarnya.

Dalam pengembangan industri nilam, ILO juga bermitra dengan Universitas Syiah Kuala yang memiliki pusat riset atsiri dan laboratorium pengujian kualitas nilam di Banda Aceh.

Universitas tersebut menyediakan fasilitas produksi parfum serta pelatihan gratis bagi anak muda untuk menjadi peracik parfum.

Djauhari mengungkapkan, Aceh pernah menjadi produsen nilam terbesar pada 1990-an. Namun, produksi sempat menurun akibat krisis ekonomi dan konflik.

“Dalam tiga tahun terakhir, nilam mulai bangkit lagi, dan kami mendukung kebangkitan itu,” katanya.

Aspek Kewirausahaan

Ia juga menyinggung peran tokoh lokal seperti Saifulah Muhammad, peraih Green Innovator Award yang dikenal sebagai penggerak revitalisasi nilam Aceh.

Selain penguatan teknis budidaya dan peracikan parfum, ILO turut memperkuat aspek kewirausahaan, aksesori usaha, serta pembangunan sistem IRP.

Djauhari menambahkan, Pemerintah Kota Banda Aceh juga mengajak kolaborasi untuk mengembangkan industri nilam sebagai identitas daerah.

“Ibu wali kota ingin menjadikan Banda Aceh sebagai kota parfum,” tutupnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |