PT PAL Indonesia Jadi Lead Integrator, Konsolidasi Galangan Kapal Nasional Dipercepat

2 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - PT PAL Indonesia bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah mematangkan skema konsolidasi galangan kapal nasional. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat struktur industri perkapalan dalam negeri sekaligus membangun ekosistem maritim yang lebih berdaya saing.

Skema konsolidasi tersebut mencakup penggabungan galangan kapal milik BUMN dan swasta, pengaturan model pembiayaan, hingga penataan sumber daya manusia (SDM). Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod mengatakan pembahasan teknis saat ini terus dilakukan bersama Danantara agar program tersebut dapat segera diimplementasikan.

“Salah satunya terkait SDM. Kita akan melakukan asessmen secara total. Kita harus menghasilkan tim yang memang memiliki kapasitas dan kapabilitas, karena yang kita harapkan membangun industri maritim dan ekosistemnya,” tegas Kaharuddin usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat Komisi VI bersama Holding Industri Pertahanan Defend ID, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (12/2/2026).

Sebagai bagian dari kebijakan pemerintah, Danantara telah menugaskan PT PAL sebagai lead integrator industri perkapalan nasional. Penugasan ini bertujuan memenuhi kebutuhan kapal nasional yang diproyeksikan mencapai ribuan unit dalam 10 tahun ke depan, sekaligus menekan ketergantungan impor kapal.

Tekan Impor, PT PAL Jadi Koordinator Produksi Kapal Nasional

Kaharuddin mengungkapkan sekitar 95 persen kebutuhan kapal nasional selama ini masih dipenuhi dari luar negeri. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada tingginya impor serta terbatasnya ruang tumbuh bagi galangan kapal dalam negeri.

Melalui skema integrator, kebutuhan kapal BUMN seperti Pertamina, PLN, Pelni, ASDP, hingga entitas lainnya akan dikoordinasikan melalui PT PAL. Meski demikian, PT PAL tidak akan mengerjakan seluruh pembangunan kapal secara mandiri.

“Kami bertindak sebagai integrator yang mendistribusikan pekerjaan kepada galangan BUMN maupun swasta dengan supervisi dan pengawasan kualitas. Tujuannya menjaga standar, meningkatkan kecepatan produksi, dan memastikan efisiensi,” jelasnya.

Menurut Kaharuddin, transformasi internal PT PAL menjadi fondasi utama dalam menjalankan mandat tersebut. Pembenahan dilakukan secara paralel, mulai dari restrukturisasi keuangan, peningkatan produktivitas SDM, hingga percepatan penguasaan teknologi perkapalan dan pertahanan.

Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan industri galangan kapal nasional yang terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Percepatan Produksi Kapal dan Penguatan Ekosistem Industri

Dari sisi produksi, PT PAL mencatat percepatan signifikan, khususnya dalam pembangunan kapal perang jenis frigate. Jika sebelumnya pengerjaan di dalam dok membutuhkan waktu hingga 22 bulan, kini dapat diselesaikan dalam sekitar delapan bulan.

Bahkan, peluncuran Frigate Merah Putih yang secara kontraktual dijadwalkan pada awal 2027 telah terealisasi lebih cepat, yakni pada Desember 2025. Selain itu, PT PAL juga mengembangkan Kapal Selam Otonom (KSOT) sebagai bagian dari penugasan pemerintah, menjadikan Indonesia sebagai negara keempat di dunia yang mampu memproduksi kapal selam tanpa awak.

Kaharuddin menegaskan konsolidasi galangan kapal tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga pembangunan ekosistem industri pendukung. Dalam proyek Frigate Merah Putih, PT PAL melibatkan industri dalam negeri seperti PT Barata Indonesia untuk memproduksi komponen strategis.

“Ini bukan sekadar membangun kapal, melainkan membangun ekosistem industri nasional yang terintegrasi,” katanya.

Dengan proyeksi kebutuhan kapal yang mencapai ribuan unit dalam satu dekade ke depan, konsolidasi galangan nasional diharapkan menjadi titik balik kebangkitan industri perkapalan Indonesia.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |