Rupiah Kembali Melemah Dampak Perang dan Rating Fitch, Hari Ini Jadi Segini

17 hours ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Kamis pagi di Jakarta. Mata uang Garuda turun tipis 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp 16.896 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 16.892 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut membuat sentimen pasar global cenderung berhati-hati.

“Meningkatnya ketegangan, tanpa indikasi kompromi antara pihak-pihak yang terlibat, membebani sentimen pasar dan meredam risk appetite investor,” ujar Josua dikutip dari Antara, Kamis (5/3/2026).

Menurut dia, ketidakpastian yang berlarut-larut di kawasan Timur Tengah membuat investor cenderung menghindari aset berisiko dan memilih aset yang dianggap lebih aman.

Situasi ini turut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sebelumnya, sempat muncul kabar bahwa Iran mendekati Amerika Serikat untuk menjajaki kemungkinan negosiasi perdamaian.

Kabar tersebut sempat meningkatkan optimisme pasar dan mendorong minat investor terhadap aset berisiko. Namun, laporan itu kemudian dibantah oleh otoritas Iran.

Prospek Rating Indonesia Jadi Sorotan

Selain faktor geopolitik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen dari dalam negeri.

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings baru-baru ini merevisi prospek (outlook) peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meskipun peringkatnya tetap berada di level BBB.

Menurut Josua, perubahan outlook tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan kondisi fiskal Indonesia.

Penurunan prospek ini juga berkaitan dengan meningkatnya tekanan belanja pemerintah yang belum diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan negara.

“Langkah ini menggemakan sinyal peringatan sebelumnya dari Moody’s,” ungkap Josua.

Perubahan outlook ini membuat pelaku pasar semakin mencermati kebijakan fiskal pemerintah serta potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dalam jangka menengah.

Data Ekonomi AS Pengaruhi Sentimen Pasar

Selain faktor geopolitik dan domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan data ekonomi Amerika Serikat.

Data terbaru menunjukkan S&P Global US Services PMI turun menjadi 51,7 pada Februari 2026, dari sebelumnya 52,3, serta berada di bawah ekspektasi pasar yang juga sebesar 52,3.

Namun, indikator lain menunjukkan hasil yang lebih positif.

ISM Services Index justru naik secara tak terduga menjadi 56,1 dari sebelumnya 53,8, melampaui perkiraan konsensus sebesar 53,5.

Sementara itu, kondisi pasar tenaga kerja AS juga menunjukkan perbaikan.

Data ADP Employment Change tercatat meningkat menjadi 63 ribu pada Februari 2026, dibandingkan 11 ribu pada bulan sebelumnya, dan lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 50 ribu.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Josua memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp16.975 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |