Mendag Getol Tak Mau Lepas Pasar Amerika Serikat, Ini Alasannya

3 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui tidak ingin melepas kerja sama dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Baginya, Negeri Paman Sam itu kerap memberikan keuntungan yang luar biasa bagi Indonesia.

Belum lagi, Busan, demikian sapaan akrabnya, dunia usaha diterpa berbagai badai dari dunia global, entah tarif respirokal maupun konflik di Timur Tengah. Maka dari itu, perdagangan dengan AS tidak boleh lepas mengingat selama ini AS menjadi negara penyumbang surplus perdagangan nasional terbesar bagi Indonesia, capai US$ 18,11 miliar sepanjang 2025 kemarin.

"Ekspor kita nomor satu tadi ke China, nomor dua ke Amerika Serikat. Tetapi surplus yang paling besar kita adalah ke Amerika baru ke India. Pasar yang besar ini enggak mungkin, enggak mungkin kita tinggalkan. Makanya kita tetap harus mempunyai perjanjian dagang dengan Amerika Serikat," ucapnya dalam Rakornas Kading Bidang Perdagangan 2026, Jakarta Selatan, Kamis (30/4/2026). 

Kini, Busan memastikan pemerintah hanya perlu menunggu perundingan dengan DPR RI agar bisa menyusun aturan terkait proses dagang antara kedua negara. Tujuannya agar memiliki dasar hukum yang lebih kuat yakni undang-undangan karena saat ini masih menggunakan peraturan presiden (perpres).

Bila terwujud, Busan menyampaikan ekspor Indonesia ke AS bisa semakin gencar karena selama ini dengan manufaktur padat karya seperti tekstil sudah cukup kuat.

"Sekali lagi saya sampaikan bahwa kita mempunyai pasar yang besar di Amerika, kita harus menyelamatkan pasar itu,” ujar dia.

Surplus Neraca Perdagangan Lanjut di Januari 2026, Terbesar dari Amerika Serikat

Sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar USD 0,95 miliar. Surplus ini ditopang oleh kinerja surplus nonmigas sebesar USD 3,23 miliar meskipun sektor migas defisit USD 2,27 miliar. Capaian itu sekaligus memperpanjang tren surplus perdagangan Indonesia menjadi 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

“Surplus pada Januari 2026 memperpanjang tren surplus Indonesia menjadi 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Konsistensi surplus mencerminkan daya tahan sektor perdagangan nasional di tengah ketidakpastian global,” ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso, Rabu (4/3/2026).

Berdasarkan negara mitra dagang, surplus terbesar pada Januari 2026 berasal dari Amerika Serikat (AS) sebesar USD 1,55 miliar, diikuti India USD 1,07 miliar, dan Filipina USD 0,69 miliar. Sementara itu, defisit perdagangan terbesar tercatat dengan Tiongkok sebesar USD 2,47 miliar, Australia USD 0,96 miliar, dan Prancis USD 0,47 miliar.

Ekspor Industri Pengolahan Naik Awal 2026

Pada Januari 2026, total ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 22,16 miliar, naik 3,39 persen dibandingkan Januari 2025. Peningkatan ini terutama didorong pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 4,38 persen (YoY) menjadi USD 21,26 miliar dari USD 20,37 miliar.

Struktur ekspor Indonesia masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi 83,53 persen terhadap total ekspor. Sektor pertambangan dan lainnya berkontribusi 10,48 persen, migas 4,03 persen, dan pertanian 1,97 persen (YoY).

Naiknya ekspor nonmigas pada Januari 2026 didorong pertumbuhan pada ekspor sektor industri pengolahan sebesar 8,19 persen. Sebaliknya, ekspor sektor pertanian turun 20,36 persen serta sektor pertambangan dan lainnya turun 14,59 persen (YoY).

“Tiga komoditas nonmigas utama dengan kenaikan ekspor tertinggi pada Januari 2026 adalah timah dan barang daripadanya (HS 80) yang naik hingga 191,38 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) naik 46,05 persen, serta nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 42,04 persen (YoY). Hal ini didorong oleh peningkatan harga ketiga komoditas tersebut di pasar internasional,” kata Mendag Busan.

Harga Timah

Pada Januari 2026, total ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 22,16 miliar, naik 3,39 persen dibandingkan Januari 2025. Peningkatan ini terutama didorong pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 4,38 persen (YoY) menjadi USD 21,26 miliar dari USD 20,37 miliar.

Struktur ekspor Indonesia masih didominasi sektor industri pengolahan dengan kontribusi 83,53 persen terhadap total ekspor. Sektor pertambangan dan lainnya berkontribusi 10,48 persen, migas 4,03 persen, dan pertanian 1,97 persen (YoY).

Naiknya ekspor nonmigas pada Januari 2026 didorong pertumbuhan pada ekspor sektor industri pengolahan sebesar 8,19 persen. Sebaliknya, ekspor sektor pertanian turun 20,36 persen serta sektor pertambangan dan lainnya turun 14,59 persen (YoY).

“Tiga komoditas nonmigas utama dengan kenaikan ekspor tertinggi pada Januari 2026 adalah timah dan barang daripadanya (HS 80) yang naik hingga 191,38 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) naik 46,05 persen, serta nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 42,04 persen (YoY). Hal ini didorong oleh peningkatan harga ketiga komoditas tersebut di pasar internasional,” kata Mendag Busan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |