Harga Emas Dunia Melonjak 64% sepanjang 2025, Bakal Terulang di 2026?

15 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menutup tahun 2025 sebagai aset dengan kinerja yang menjulang tinggi. Sepanjang tahun, harga emas (XAU/USD) mencetak sekitar 50 rekor harga tertinggi baru. Lonjakan terakhir terjadi pada Boxing Day, dengan harga spot mencapai sekitar USD 4.549,71 per ons, sebelum akhirnya stabil di kisaran USD 4.300–4.310 hingga akhir tahun.

Dikutip dari Trading News, Jumat (2/1/2026), secara tahunan, harga emas mencatatkan kenaikan sekitar 64%, menjadi performa terbaik sejak akhir 1970-an. Meski pada pekan-pekan terakhir Desember terjadi koreksi seiring minimnya likuiditas libur akhir tahun dan kejenuhan tren, struktur teknikal mingguan masih menunjukkan dukungan kuat di area USD 4.000 per ons.

Kondisi ini menegaskan bahwa emas masih berada dalam tren naik yang solid, bukan fase pembalikan arah.

Penguatan harga emas ini tak lepas dari perubahan struktural di sektor keuangan global. Salah satu pendorong utama datang dari implementasi Basel III, yang kini mengklasifikasikan emas fisik sebagai aset likuid berkualitas tinggi (Tier 1) dengan nilai penuh 100% dari harga pasar.

Sebelumnya, emas hanya dihitung 50% sebagai aset Tier 3.

Bagi perbankan besar, kebijakan ini mengubah emas dari sekadar instrumen lindung nilai menjadi agunan inti yang efisien secara modal. Sejalan dengan itu, bank sentral dunia juga terus meningkatkan kepemilikan emas mereka.

Ketegangan Geopolitik dan Perdagangan Global

Setelah membeli 1.136 ton emas pada 2022, bank sentral global tetap melanjutkan akumulasi hingga 2025. Pada kuartal III saja, pembelian kembali mencapai puluhan ton dan memberi sinyal bahwa akumulasi emas akan berlanjut hingga 2026.

Kondisi ini menjadikan permintaan sektor resmi sebagai penopang struktural harga emas, sehingga level di atas USD 4.000 kini dinilai semakin kredibel secara fundamental.

Dari sisi teknikal, pergerakan XAU/USD saat ini memasuki fase konsolidasi setelah reli tajam. Harga sempat mencapai puncak di USD 4.549,71, lalu terkoreksi ke sekitar USD 4.300 dan bergerak dalam pola segitiga lebar. Proyeksi jangka menengah masih mengarah ke USD 4.800 per ons, selama harga mampu menembus zona resistensi USD 4.500–4.550.

Dukungan lainnya datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan perdagangan global. Kebijakan tarif Amerika Serikat kembali menekan mata uang dan logam industri, mendorong investor beralih ke aset lindung nilai seperti emas. Di Eropa, perdebatan mengenai kedaulatan cadangan devisa turut mengangkat emas sebagai simbol kemandirian strategis.

Jerman dan Italia tercatat memiliki sekitar 5.800 ton emas, dengan nilai mencapai USD 320 miliar pada akhir 2025. Sekitar sepertiga cadangan emas Jerman, atau sekitar 1.200 ton, masih disimpan di Federal Reserve New York. Dorongan politik untuk memulangkan emas tersebut semakin menguat.

Sistem Pembayaran Berbasis Emas

Di Amerika Serikat, kembali muncul seruan untuk melakukan audit penuh terhadap Fort Knox, yang menyimpan sekitar 147 juta ons emas. Isu ini memperkuat persepsi emas sebagai agunan kedaulatan negara.

Sementara itu, negara-negara BRICS juga mulai membahas sistem pembayaran alternatif berbasis emas, mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Dari sisi pasokan, sektor pertambangan menghadapi berbagai gangguan. Di Mali, konflik antara Barrick dan pemerintah menyebabkan penyitaan sekitar 35.000 ons emas senilai USD 117 juta, serta penghentian sementara operasi. Di Burkina Faso, pemerintah meningkatkan tuntutan kepemilikan negara di tambang baru, menambah risiko fiskal. Kondisi ini memperkuat premi kelangkaan emas fisik.

Pengalaman Zimbabwe dengan mata uang Zig juga menjadi contoh emas sebagai jangkar moneter. Mata uang tersebut didukung emas dan cadangan mineral, dengan bank sentral menerapkan kebijakan moneter ketat untuk menjaga stabilitas. Bagi investor global, eksposur terhadap tema moneter emas lebih praktis dilakukan melalui instrumen likuid seperti SPDR Gold Trust (GLD).

Ke depan, arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor kunci. Meski suku bunga telah dipangkas tiga kali pada 2025, inflasi yang masih bertahan di kisaran 3,8% membuat emas tetap sensitif terhadap dinamika suku bunga riil. Dalam kondisi volatilitas global yang tinggi, emas dinilai masih mempertahankan daya tariknya sebagai aset lindung nilai utama hingga 2026.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |