Bangkitnya Nilam Aceh dari Tidur Panjang, Sempat Ditinggal Kini Tembus Pasar Ekspor

5 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Di ujung barat Indonesia, ada “emas hidup” yang lama terlelap. Sejak era kolonial, tanaman ini sudah dikenal dunia. Para ahli menyebutnya patchouli. Namun masyarakat Aceh mengenalnya dengan satu nama sederhana: nilam.

Nama itu melekat karena komoditas ini dulu diolah oleh perusahaan nilam dan diwariskan secara turun-temurun kepada petani. Bagi sebagian warga, nilam bukan sekadar tanaman. Ia adalah harapan.

Namun dua dekade terakhir, harapan itu sempat nyaris padam. Harga nilam naik turun tak menentu, bahkan pernah jatuh hingga membuat petani meninggalkannya.

Ketua Kelompok Tani Seulawah Agam, Jakfar Siddiq, masih mengingat masa kejayaan itu. Nilam mulai ditanam di Desa Teuladan sejak 1998. Hampir seluruh kebun kala itu ditanami nilam karena harga pernah menembus Rp 1 juta per kilogram.

Lalu harga runtuh hingga Rp 85 ribu per kilogram.

“Di tahun 2024 ini baru muncul lagi nilam. Ini nampaknya kalau enggak bertahan harga, anjlok lagi, ini yang jadi permasalahan nilam dan akan beralih ke jagung,” ujarnya saat ditemui di lahannya di Aceh Besar, dikutip Minggu (1/3/2026).

Kini sekitar 20 hektare lahan kembali menghijau oleh nilam. Tantangan budidaya tetap ada. Tanah yang terlalu subur justru memicu pertumbuhan gulma cepat, sehingga dalam satu musim pembersihan rumput bisa dilakukan dua hingga empat kali.

Namun untuk hama dan penyakit, kondisinya kini lebih terkendali berkat penggunaan cairan khusus.

Proses panen pun tak bisa sembarangan. Dari 50 kilogram daun nilam, rata-rata dihasilkan sekitar 1,3 kilogram minyak nilam. Ketelitian menentukan kualitas, dan kualitas menentukan harga.

Masalah Bukan Pasar, Tapi Tata Kelola

Di sisi hilir, Direktur Razma Agro Jayana, Razuan, melihat persoalan nilam bukan pada permintaan global. Dunia justru masih kekurangan pasokan. Kebutuhan minyak nilam global mencapai 2.000–2.500 ton per tahun. Sementara pasokan baru sekitar 1.000–1.200 ton.

“Sekarang pembeli luar negeri tidak hanya tanya harga. Mereka tanya siapa petaninya, kapan tanamnya, bagaimana prosesnya. Semua harus jelas,” ujarnya.

Masalah klasik, menurutnya, ada pada tata kelola rantai pasok dan kepastian harga di tingkat petani.

Untuk itu, Razuan menerapkan model kontrak farming. Petani mendapat jaminan pembeli dan harga minimal, serta difasilitasi akses pembiayaan. Biaya tanam satu hektare nilam berkisar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta.

Dengan produktivitas rata-rata 200–300 kilogram per tahun, potensi pendapatan bersih bisa mencapai sekitar Rp 10 juta per bulan, tergantung harga pasar.

“Kalau satu hektare itu, meskipun hanya menghasilkan 150 kilogram per tahun, pendapatannya sudah setara upah minimum,” katanya.

Hingga 2026, Razma telah mengintegrasikan 500 petani dengan luas lahan 592 hektare di delapan kabupaten/kota melalui sistem Razma Digitalize Nilam Ecosystem. Sistem ini memastikan produksi dapat ditelusuri dari kebun hingga ekspor.

Harga Global dan Tantangan Digitalisasi

Di tingkat eksportir, Direktur PT U Green Aromatic International, Faisal Alfarisi, menyebut fluktuasi harga masih sangat dipengaruhi pasar global.

Saat ini harga minyak nilam berada di kisaran Rp 680 ribu–Rp 700 ribu per kilogram. Angka ini memang turun dibanding akhir 2024 yang sempat menyentuh Rp 1,35 juta bahkan Rp 2 juta di beberapa wilayah.

“HPP minyak nilam berada di kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 550 ribu per kilogram. Jadi secara hitungan masih ada keuntungan,” ujarnya.

Perusahaan membeli minyak dari petani lalu mengekspor ke Prancis dan Amerika Serikat. Namun harga beli tetap mengikuti pergerakan buyer internasional.

“Kalau buyer kita beli turun, kita juga harus beli dari petani turun. Tapi kalau naik, kita juga naikkan,” katanya.

Keterbatasan Literasi Digital

Dari sisi akademisi, Dosen Agribisnis Universitas Syiah Kuala, Ade Surya Mandira, menilai penguatan tata kelola kini bergerak melalui platform digital Mynila yang terintegrasi dalam Integrated Reporting Platform (IRP). Sistem ini mencatat data petani, lahan, produksi, hingga transaksi.

“Bukan karena petaninya tidak mau, tetapi memang keterbatasan literasi digital dan jaringan,” ujarnya.

Menurutnya, digitalisasi rantai pasok menjadi kunci untuk meningkatkan kepercayaan buyer global sekaligus membuka akses pembiayaan perbankan bagi petani.

Nilam Aceh mungkin pernah tertidur. Namun kini, lewat integrasi, kontrak yang lebih adil, dan digitalisasi, emas hijau itu perlahan kembali bangkit.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |