Harga Emas Antam Diprediksi Tembus Rp 2,63 Juta

4 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pada perdagangan, Senin, 12 Januari 2026, harga emas dunia berpotensi menguji level resistance pertama di USD 4.550 per troy ons.  Seiring prediksi harga emas dunia itu, bagaimana prediksi harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau harga emas Antam?

"Seandainya harga emas dunia naik di hari Senin, itu kemungkinan dari USD 4.509 itu akan bergerak tinggi di USD 4.550,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (12/1/2026).

Level ini dinilai sebagai batas psikologis penting yang akan menentukan kelanjutan tren penguatan emas dalam waktu dekat.

Apabila resistance tersebut berhasil ditembus, pasar akan menangkap sinyal bullish yang lebih kuat. Kondisi ini berpotensi mendorong minat beli lanjutan dari investor, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Menurut Ibrahim, pelaku pasar akan mencermati pergerakan harga hingga sore hari. Jika tekanan beli tetap terjaga sejak pembukaan pasar maka peluang emas untuk melanjutkan reli dinilai cukup besar.

"Jadi, ada kemungkinan besar di hari Senin, ya sampai sore,” ujarnya.

Logam Mulia Dalam Negeri Bisa Sentuh Rp 2,63 Juta

Selain itu, Ibrahim mengatakan kenaikan harga emas dunia tersebut diproyeksikan akan berdampak langsung terhadap harga Logam Mulia di dalam negeri. 

Ibrahim memperkirakan, jika emas dunia mampu bertahan di atas USD 4.550, maka harga Logam Mulia berpeluang naik ke level Rp 2.630.000 per gram.

"Itu pada saat resisten pertama di USD 4.550 harga logam mulianya itu di Rp 2.630.000,” ujarnya.

Peluang Tembus Rp 2,7 Juta Terbuka Lebar Akhir Pekan

Menurut Ibrahim, apabila tren penguatan emas dunia berlanjut hingga akhir pekan, ia memproyeksikan harga emas Antam berpeluang besar menembus level psikologis Rp 2.700.000 per gram. 

Level ini dipandang sebagai target berikutnya setelah resistance Rp 2.630.000 berhasil dilewati. Kenaikan tersebut akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan emas global menuju area USD 4.600 per troy ons.

"Sampai akhir pekan ada kemungkinan besar harga emas Dunia itu di USD 4.600 per troy ons. Kemudian logam mulianya kemungkinan akan tembus level Rp 2.700.000,” pungkasnya.

Harga Emas Dekati Rekor Tertinggi, Analis Wall Street Makin Bullish di Tengah Panasnya Geopolitik

Sebelumnya, pasar emas global mengawali 2026 dengan sentimen yang sangat kuat. Meski sempat mengalami koreksi di beberapa titik, momentum harga emas cenderung terus menguat sepanjang pekan pertama tahun ini. Kondisi tersebut membuat emas kini berada di ambang rekor tertinggi sepanjang masa yang tercatat pada bulan sebelumnya.

Dikutip dari Kitco, Senin (12/1/2026), harga emas spot membuka pekan lalu di kisaran USD 4.370 per ounce. Hanya dua jam setelah perdagangan dimulai, emas langsung kembali menembus level USD 4.400 per ounce. Harga sempat bergerak mendekati USD 4.440 sebelum turun sebentar untuk menguji level dukungan USD 4.400 pada Senin pagi.

Tak lama kemudian, harga emas kembali menguat dan membentuk puncak jangka pendek di sekitar USD 4.450 per ounce. Penguatan berlanjut saat sesi Asia dibuka pada Senin malam, membawa emas naik hingga USD 4.470 per ounce.

Momentum terus berlanjut hingga Selasa, ketika emas nyaris menyentuh USD 4.490 per ounce dan sempat berada tepat di bawah level psikologis USD 4.500.

Meski demikian, emas juga sempat mengalami koreksi berarti pertama pada pekan tersebut. Harga turun ke USD 4.444 sebelum kembali melemah ke kisaran USD 4.426. Namun, tekanan jual tidak mampu menembus level dukungan kuat di USD 4.400 per ounce, menandakan minat beli tetap solid.

Rilis Data Ekonomi

Memasuki Kamis, harga emas akhirnya berhasil menembus kembali level USD 4.470 per ounce dan bertahan di area yang lebih tinggi. Pasar kemudian bersiap menghadapi rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, yakni laporan nonfarm payrolls bulan Desember.

Data ketenagakerjaan tersebut dirilis sesuai ekspektasi pasar. Meski tidak terlalu mengejutkan, angka ini cukup untuk memperkuat keyakinan investor bahwa Federal Reserve masih berada di jalur pelonggaran kebijakan moneter. Sentimen tersebut mendorong emas menembus level USD 4.500 per ounce pada Jumat pagi.

Menjelang akhir pekan, harga emas bergerak stabil di sekitar level tersebut. Survei mingguan Kitco News menunjukkan konsensus yang hampir sepenuhnya bullish di kalangan analis Wall Street, sementara investor ritel atau Main Street tetap mempertahankan pandangan optimistis.

Bank Sentral Masih Beli Emas

“Up,” kata analis pasar senior Barchart.com Darin Newsom.

“Berdasarkan hukum pertama Newton yang diterapkan pada pasar: pasar yang sedang tren akan tetap berada dalam tren tersebut sampai ada kekuatan eksternal yang mengubahnya. Saya tidak melihat adanya perubahan dari faktor eksternal, terutama dari sisi minat beli investor dan bank sentral," tambah dia. 

Pandangan serupa disampaikan Presiden dan COO Asset Strategies International Rich Checkan.

“Up,” ujarnya.

“Kalender memang berubah dari 2025 ke 2026, tetapi fundamental pasar tidak berubah. Bank sentral masih membeli emas. Ketegangan di Ukraina, Gaza, dan Venezuela masih tinggi. Mata uang fiat masih dikelola secara buruk. Dolar AS masih lemah. Suku bunga masih rendah. Investor mencari emas sebagai aset lindung nilai," tutur Rich Checkan.

Survei Kitco ke Analis Wall Street dan Investor Ritel

James Stanley, analis senior di Forex.com, juga menilai tren kenaikan emas belum berakhir.

“Saya pikir level USD 4.500 bisa menjadi tantangan bagi pelaku pasar bullish, tetapi sejauh ini setiap koreksi selalu mendapat dukungan,” katanya.

“Saya belum melihat bukti bahwa reli saat ini sudah berakhir.”

Sementara itu, Adam Button dari Forexlive.com menyoroti dampak geopolitik global terhadap emas dan dolar AS. Ia menilai rusaknya norma dan hukum internasional di awal 2026 berpotensi membawa dampak besar.

“Dunia sedang menyaksikan banyak pelanggaran terhadap tatanan internasional,” kata Button.

“Ini membuat negara-negara mulai berpikir ulang soal ketergantungan pada dolar AS dan mendorong diversifikasi cadangan, termasuk ke emas.”

Button juga menilai keputusan Mahkamah Agung AS terkait kewenangan tarif Presiden AS bisa menjadi pemicu besar berikutnya bagi harga emas.

“Jawaban atas pertanyaan apakah masih ada checks and balances itu bisa berarti pergerakan USD 500 pada harga emas,” ujarnya.

Survei Kitco mencatat, dari 16 analis Wall Street yang berpartisipasi, 14 orang atau 88 persen memperkirakan harga emas akan naik dalam sepekan ke depan. Sementara itu, dari 268 responden investor ritel, sebanyak 69 persen memprediksi harga emas akan melanjutkan kenaikan.

Prediksi Pekan Ini

Pekan ini, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting, mulai dari inflasi, penjualan rumah, hingga data manufaktur regional AS. Meski demikian, para analis menilai faktor geopolitik dan kebijakan bank sentral masih menjadi pendorong utama pergerakan emas.

“Emas terlihat konstruktif, begitu juga dolar,” kata Marc Chandler dari Bannockburn Global Forex.

“Pendorong utama tetap geopolitik, pembelian bank sentral, dan minat beli investor ritel.”

Namun, tidak semua pihak sepenuhnya optimistis. Analis CPM Group mengeluarkan rekomendasi jual emas dengan target awal USD 4.385 per ounce.

“Emas dan logam mulia lainnya masih mengalami volatilitas tinggi,” tulis CPM Group.

“Ada kekhawatiran akan aksi ambil untung jangka pendek setelah reli kuat dalam beberapa bulan terakhir.”

Meski begitu, CPM Group menilai dalam jangka menengah hingga akhir kuartal pertama 2026, harga emas masih berpotensi kembali menguat.

“Risiko politik dan ekonomi global masih jauh dari selesai,” tulis mereka.

“Namun sebelum itu, mungkin akan ada fase pelemahan jangka pendek.”

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |