Kemnaker Kaji Potensi PHK Imbas Perang Iran, Ribuan Buruh Terancam

5 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) buka suara terkait potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan akibat dampak kondisi geopolitik global, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Saat ini, Kemnaker tengah mengumpulkan berbagai informasi terkait hal tersebut.

Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, mengatakan pihaknya masih melakukan kajian terhadap laporan potensi PHK yang muncul. Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan pemerintah ke depan.

"Ya kami terus kumpulkan informasi-informasi tersebut, dan kami akan kaji dan analisis untuk pengambilan kebijakan yang pas," ujar Cris di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Jakarta, Kamis (20/4/2026).

Ia mengungkapkan, sudah ada sejumlah laporan dari industri terkait potensi PHK akibat meningkatnya beban operasional perusahaan imbas konflik global. Sektor yang paling banyak dilaporkan berasal dari industri plastik dan gas.

"Ada beberapa. Lebih ke yang plastik sih, termasuk gas ya," katanya.

Potensi PHK di 10 Perusahaan

Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang dipimpin Said Iqbal mengungkap adanya potensi PHK terhadap sekitar 9.000 buruh di berbagai sektor. Jumlah tersebut berasal dari sekitar 10 perusahaan yang terdampak kondisi geopolitik global.

Iqbal mengatakan, laporan tersebut diperoleh dari serikat buruh di sejumlah pabrik. Meski demikian, ia belum mengungkapkan secara rinci nama perusahaan yang berpotensi melakukan efisiensi tenaga kerja.

"10 perusahaan ini, dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan lebih, terutama di industri plastik dan industri tekstil, saat ini tercatat 9 ribu berpotensi (PHK)," ujar Iqbal dalam konferensi pers daring, Jumat (17/4/2026).

Ia menjelaskan, tekanan utama yang dihadapi perusahaan berasal dari kenaikan harga bahan baku serta biaya energi. Industri yang terdampak antara lain tekstil, garmen, plastik, hingga sebagian sektor otomotif dan petrokimia.

Tekan Biaya Tenaga Kerja

Menurut Iqbal, kenaikan harga bahan baku dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi faktor utama yang mendorong perusahaan melakukan efisiensi. Salah satu langkah yang diambil adalah menekan biaya tenaga kerja.

"Nah, pabrik-pabrik ini akan melakukan efisiensi. Karena ongkos produksi naik, efisiensinya adalah di labor cost, di biaya buruh, untuk melakukan penekanan biaya buruh adalah pengurangan karyawan, itu berarti terjadi PHK," tutupnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |