Kartini Tangguh dari Kei Besar, Perjuangan Mantri Perempuan BRI Tembus Wilayah 3T Demi Buka Akses Keuangan

4 hours ago 7

Liputan6.com, Kei Besar - Tidak semua wilayah di Indonesia menikmati kemudahan akses layanan keuangan seperti di kota-kota besar. Di kawasan Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), tantangan geografis seperti medan berat, jarak antardesa yang berjauhan, hingga keterbatasan transportasi masih menjadi hambatan nyata bagi masyarakat untuk menjangkau layanan perbankan.

Di balik kondisi tersebut, hadir sosok-sosok yang menjadi penghubung antara layanan keuangan dan masyarakat. Salah satunya Hany Dwiningsih Ubro, tenaga pemasar mikro atau biasa disebut Mantri BRI yang bertugas di Unit Elat, Kepulauan Kei Besar, Maluku Tenggara. Ketangguhannya menjadikannya representasi Kartini masa kini, gigih membuka akses ekonomi di tengah keterbatasan wilayah kepulauan.

Dari Customer Service hingga Mantri BRI

Ia bercerita bahwa kariernya di BRI bermula pada tahun 2020, setelah lolos rekrutmen sebagai customer service dan ditempatkan di BRI Unit Masrum. Kesempatan tersebut menjadi titik awal perjalanan kariernya di dunia perbankan. Namun, Hany tidak ingin berhenti hanya sebagai customer service. Ia ingin berkembang dan mencoba tantangan baru.

Dengan tekad tersebut, ia mencoba mengikuti seleksi internal untuk posisi tenaga pemasar. Perjalanan ini ternyata tidak mudah. Berkali-kali ia harus menghadapi kegagalan. Namun kegagalan itu tidak membuat semangatnya padam. Hany terus mencoba hingga akhirnya pada tahun 2025, setelah enam kali mengikuti seleksi, ia berhasil lolos dan dipercaya mengemban tugas sebagai Mantri BRI.

Menjadi Mantri BRI berarti harus siap turun langsung ke lapangan. Bagi Hany, tugas ini membawa tantangan baru yang tidak ringan, terutama terkait kondisi geografis wilayah kerjanya.

"Saya ditempatkan di Unit Elat. Kota Elat di Pulau Kei Besar ini memiliki 115 desa dan 5 kecamatan. Beberapa wilayah di sini akses jalannya masih belum bagus. Tidak semua jalan beraspal. Di wilayah barat dan timur, jalannya masih belum beraspal. Bahkan, kalau kami bilang sangat tidak layak dilewati kendaraan baik roda dua maupun roda empat," terang Hany.

Menembus Medan Ekstrem di Kepulauan Kei Besar

Perjalanan menuju desa-desa yang menjadi wilayah tugasnya sering kali memakan waktu panjang dengan kondisi jalan yang menantang. Tidak jarang Hany harus menghadapi medan berlumpur, tanjakan curam, hingga jalan berbatu. Selain kondisi jalan, faktor cuaca juga kerap menjadi ujian tersendiri.

“Cuaca sering jadi tantangan. Pernah kehujanan hingga basah kuyup, bahkan saat menuju daerah yang harus melewati sekitar 12 desa, kami terhambat jalan rusak dan berlumpur. Hampir menyerah, namun berkat bantuan warga yang mendorong motor, kami akhirnya bisa melanjutkan perjalanan,” kisahnya.

Tidak hanya jalur darat, perjalanan melalui laut juga menjadi bagian dari rutinitasnya. Beberapa wilayah hanya bisa dijangkau menggunakan speedboat kecil.

"Pernah naik speedboat kecil, di tengah jalan ombaknya besar dan kondisi mendung. Sempat khawatir juga, tapi saya percaya dengan pengemudi speedboat, kan sudah profesional. Dan benar kami bisa sampai dengan selamat," lanjutnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |