Pasar Kerja Sulit, Orang Kaya Khawatir Masa Depan Anak

2 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Pasar kerja global yang semakin ketat tidak hanya membuat generasi muda dari kalangan menengah resah, tetapi juga memicu kekhawatiran mendalam di kalangan orang super kaya.

Dikutip dari CNBC, Rabu (11/02/2026), miliarder kini mempertanyakan apakah anak-anak mereka mampu bertahan dan berkembang di dunia kerja yang terus berubah. Hal ini diungkapkan Direktur Pelaksana Aligned by NewEdge Wealth, Patrick Dwyer. Adapun Aligned by NewEdge merupakan perusahaan manajemen kekayaan butik berbasis di Miami yang menangani klien dengan kekayaan bersih mulai dari USD 100 juta hingga lebih dari USD 1 miliar atau sekitar Rp 1,68 triliun (kurs USD 1 = Rp 16.810).

Menurut Patrick, banyak kliennya khawatir anak-anak mereka yang berusia antara 22 hingga 35 tahun tidak mampu mempertahankan karier di sektor yang selama ini dianggap stabil dan prestisius, seperti teknologi, hukum, dan kedokteran.

Kekhawatiran ini muncul di tengah data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan tekanan nyata bagi generasi muda. Tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi baru tercatat terus meningkat selama tiga tahun terakhir, mencapai 9,7 persen pada September 2025. Bahkan, tahun lalu menjadi periode perekrutan terlemah sejak krisis keuangan 2009, di luar masa pandemi 2020.

Fenomena ini menegaskan, tantangan pasar kerja bersifat luas dan tidak mengenal latar belakang kekayaan keluarga. Meski anak-anak orang kaya memiliki jaring pengaman finansial yang kuat, ketidakpastian karier jangka panjang tetap menjadi sumber kecemasan.

Para orang tua super kaya mulai menyadari tanpa kemampuan beradaptasi dan membangun kekayaan sendiri, generasi berikutnya berpotensi memiliki kendali hidup yang lebih kecil dibandingkan orang tua mereka.

AI dan Ketidakpastian Ekonomi Jadi Sorotan

Sejumlah pakar ketenagakerjaan menilai kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu faktor yang mempersempit peluang kerja, khususnya bagi tenaga kerja muda. Di sisi lain, meningkatnya biaya hidup dan mahalnya kepemilikan rumah membuat pekerja senior enggan berpindah pekerjaan, sehingga peluang bagi pendatang baru semakin terbatas.

Ekonom senior untuk platform penggajian dan SDM Gusto, Nich Tremper mengatakan, kondisi ini menciptakan stagnasi di pasar tenaga kerja, di mana minimnya lowongan baru membuat lulusan baru kesulitan memulai karier profesional mereka.

"Orang-orang sepertinya hanya berdiam diri. Mereka tidak mencari peran baru, mereka tidak meninggalkan peran mereka saat ini. Tanpa adanya lowongan pekerjaan baru, sulit bagi karyawan tingkat pemula untuk mendapatkan kesempatan dan memulai karier mereka," kata Nich.

Orang Kaya Mulai Ubah Pola Bimbingan Anak

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang menempuh jalur pendidikan elite dan karier korporasi mapan, banyak orangtua super kaya kini mulai mendorong anak-anak mereka mengambil jalur berbeda. Dwyer menyebut semakin banyak kliennya yang mendorong, bahkan membiayai, anak-anak mereka untuk terjun ke dunia kewirausahaan sejak usia muda.

"Klien kami menyadari bahwa ini bukan permainan yang sama seperti yang pernah mereka mainkan sebelumnya, keluarga harus memikirkan kembali... apa artinya mendukung anak-anak mereka. Dan kita tidak berbicara tentang memanjakan anak-anak Anda. Kita berbicara tentang: Bagaimana jika anak Anda membutuhkan pelatihan ulang di usia 33 tahun?” sebut Dwyer.

Meski kewirausahaan dikenal berisiko tinggi dengan jam kerja panjang dan tingkat kegagalan besar, anak-anak dari keluarga kaya memiliki ruang untuk mencoba dan gagal tanpa tekanan finansial ekstrem.

Tujuan utamanya bukan sekadar keuntungan cepat, melainkan membangun etos kerja, ketahanan mental, dan kemampuan beradaptasi—keterampilan yang dinilai semakin penting di pasar kerja modern.

Wirausaha Muda Dinilai Lebih Tangguh

Menurut Dwyer, generasi muda yang terjun ke bisnis sejak usia 20-an cenderung memiliki pemahaman luas, mulai dari pemasaran hingga keuangan. Pengalaman ini membuat mereka lebih fleksibel dan berdaya saing tinggi.

"Para wirausahawan muda ini, jika Anda duduk dan berbicara dengan mereka yang berusia 25 atau 26 tahun, mereka memahami pemasaran. Mereka memahami keuangan. Mereka memahami cara membangun bisnis,” kata Dwyer.

"Ini benar-benar sesuatu yang berharga... dan saya pikir mereka akan semakin dicari di pasar.”

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |