Saat Saham dan Kripto Bergejolak, ICMSS Soroti Emas sebagai Alternatif Investasi

13 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah volatilitas saham dan kripto global, ICMSS 2026 menyoroti emas sebagai alternatif investasi yang lebih stabil dan berkelanjutan bagi investor Indonesia.

Indonesia Capital Market Student Studies (ICMSS) melanjutkan rangkaian The 25th ICMSS International Capital Market Seminar di Jakarta, Kamis (6/2/2026). Acara ini bertujuan meningkatkan literasi pasar modal, khususnya bagi investor muda, dengan membahas dinamika investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Mengusung tema “The Diverged Trajectory: Reinstating Sovereignty Through Global Disparity”, seminar ini membedah perbedaan arah pergerakan instrumen investasi global. Dalam kondisi pasar saham yang fluktuatif dan kripto yang sarat risiko, emas kembali mencuat sebagai instrumen yang dinilai lebih defensif.

ICMSS sendiri mengedepankan nilai PROFGAN (Professionalism, Family, and Elegance) dan memiliki tiga agenda utama, yakni Investment Training, International Capital Market Seminar, dan Equity Research Conference. Sepanjang penyelenggaraannya, ICMSS telah menghadirkan sejumlah tokoh nasional dari sektor ekonomi dan keuangan.

Pada International Capital Market Seminar Day 2, pembahasan difokuskan pada bagaimana emas dapat berperan sebagai penyeimbang portofolio di tengah tekanan pasar modal dan ketidakpastian global.

Bullion Bank Dorong Emas Jadi Instrumen Investasi Formal

Sesi keempat seminar mengangkat tema “Bullion Banks: A Strategic Initiative for Indonesia’s Economic Strengthening”. Sesi ini menghadirkan Sandra Sunanto (Chief Executive Officer PT Hartadinata Abadi Tbk), Samahari Gumawan (Head of PVML Development Directorate), serta Ferdian Timur Satyagraha (Chief Financial & Strategy Officer PT Pegadaian).

Para pembicara menyoroti peran bullion bank dalam mengintegrasikan emas ke dalam sistem keuangan formal. Berbeda dengan saham dan kripto yang cenderung dipengaruhi sentimen pasar jangka pendek, emas dinilai memiliki karakteristik nilai yang lebih stabil dan berfungsi sebagai safe haven.

Penguatan regulasi, transparansi harga, serta peningkatan likuiditas melalui bullion bank disebut dapat memperluas akses masyarakat terhadap investasi emas. Langkah ini juga mendukung pendalaman pasar keuangan nasional dan memberikan alternatif instrumen investasi di luar saham dan obligasi.

Sebagai penutup rangkaian seminar, Sim Invest turut menghadirkan sesi spesial yang memberikan edukasi terkait fitur dan keunggulan investasi digital, termasuk pentingnya diversifikasi portofolio di tengah dinamika pasar.

Emas Dinilai Lebih Tahan Tekanan Global, Investor Diminta Tidak FOMO

Dalam sesi Doorstep Interview, Samahari Gumawan menegaskan bahwa emas tidak hanya berperan sebagai instrumen lindung nilai, tetapi juga alternatif investasi jangka panjang yang semakin relevan, khususnya bagi generasi muda.

Ia menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh terhadap produk emas, mulai dari proses perolehan, karakteristik, hingga kesesuaiannya dengan kebutuhan investor.

"Seiring masuknya emas ke dalam sistem keuangan formal, emas dinilai semakin menarik dibanding instrumen berisiko tinggi di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2/2026).

Lebih lanjut, Samahari menyoroti peran digitalisasi dalam mendorong pertumbuhan investasi emas ritel di Indonesia, dengan tetap memperhatikan manajemen risiko dan keamanan siber. Ia juga mengingatkan agar investor, khususnya generasi muda, tidak terjebak fear of missing out (FOMO).

Menurutnya, kehadiran bullion bank dapat meningkatkan transparansi harga dan keamanan penyimpanan, sekaligus membuka peluang nilai tambah dari emas yang lebih produktif. Di tengah fluktuasi saham dan kripto, emas dipandang sebagai instrumen penyeimbang portofolio yang berkelanjutan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |