Harga Daging Diprediksi Melonjak Segini Ramadan dan Lebaran 2026

2 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Perumda Dharma Jaya memprediksi harga daging sapi akan naik sekitar 7%-15% menjelang Ramadan dan Lebaran 2026.

"Kisaran harga pada bulan Ramadhan untuk daging sapi di angka Rp143.000-Rp146.000. Ini patokan harga daging sapi paha belakang," kata Kepala Divisi Perencanaan Korporasi dan Transformasi Perumda Dharma Jaya, Afan Wahyu dikutip dari Antara, Kamis (12/2/2026).

Kenaikan daging sapi itu paling tinggi pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Menurut dia, kenaikan harga salah satu pangan strategis khususnya di Jakarta itu karena terjadi peningkatan konsumsi baik itu di level rumah tangga, UMKM, maupun acara-acara keagamaan. Permintaan daging sapi menjelang Ramadhan dan Lebaran biasanya mencapai 58 persen, pada H-30 hingga H+7 Lebaran.

Adapun stok daging sapi di Jakarta sebanyak 90 persen berasal dari luar ibu kota melalui mekanisme kerja sama antardaerah, BUMD, BUMN, dan swasta, hingga impor. Ini mengingat Jakarta bukanlah daerah produsen.

Sementara itu, kebutuhan daging sapi di Jakarta bisa mencapai 73.100 ton dalam setahun. Sedangkan konsumsi per kapita daging sapi berada pada kisaran 2,3-5 kg per tahun.

Harga daging sapi di pasar bergerak naik justru setelah pedagang menghentikan aksi mogok selama 3 hari pada akhir Januari. Pada saat yang sama, harga daging kerbau sebagai stabilisator harga, malah jauh di atas harga acuan pembelian (HAP) konsumen Rp80.000 per kg dan sudah masuk dalam kategori intervensi pasar karena sudah 20% lebih dari HAP.

Daging Kerbau Mengkhawatirkan

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga daging sapi kualitas I dipatok Rp 143.400 per kg dan daging sapi kualitas II di harga Rp 135.600 per kg.

Naiknya harga daging sapi diakui Ketua Umum perkumpulan Bakso Wonogiri Mendunia, Maryanto.

“Pasokan aman, tapi memang harga sudah naik Rp5.000 per kg dibandingkan sebelum aksi mogok. Harga sebelum mogok Rp130.000 per kg, sekarang sudah Rp 135.000 per kg,” paparnya.

Kondisi yang mengkhawatirkan justru harga daging kerbau. Komoditas yang dibuka impornya oleh pemerintah dan dimaksudkan sebagai stabilisator harga daging agar terjangkau masyarakat, justru sudah jauh di atas HAP.

Padahal, berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) No. 12 tahun 2024, HAP di tingkat konsumen untuk daging kerbau beku adalah Rp 80.000 per kg.

Harga Daging Impor

Tingginya harga daging impor ini dikeluhkan Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA), Hastho Yulianto. Dia secara khusus menyoroti pemberian kuota impor daging sapi yang dipangkas drastis kepada pelaku usaha swasta.

“Perkembangan kebijakan terbaru terkait alokasi kuota impor daging sapi tahun 2026 sebesar 30.000 ton telah memicu perubahan struktural yang signifikan di pasar daging sapi dan industri pangan Indonesia, khususnya yang berdampak pada sektor pengolahan daging,” katanya.

Menurutnya, penurunan kuota impor untuk swasta maupun anggota asosiasi industri NAMPA, yang tahun ini hanya dapat jatah 17.000 ton, berisiko besar terjadinya kekurangan bahan baku buat industri pengolahan daging. Dengan pasokan yang makin terkonsentrasi di tangan BUMN dan menurunnya fleksibilitas swasta, maka pasar pun rentan terhadap gangguan.

“Apabila kebijakan kuota impor tahun 2026 tidak ditinjau secara komprehensif, risiko penurunan kapasitas produksi, penundaan rencana ekspansi, bahkan penghentian usaha bagi sebagian pelaku industri akan semakin nyata,” tandasnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |