Tarif Dagang Dipangkas, Indonesia Bisa Bernapas Lebih Lega di Pasar AS?

20 hours ago 9

Head of Industry and Regional Research Permata Bank, Adjie Harisandi menilai, kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) akan membuka arah baru bagi ekspor nasional, terutama dari sisi diversifikasi pasar dan produk. 

Menurut dia, Indonesia bisa meningkatkan peluang ekspor ke Negeri Paman Sam jika mendapatkan tarif khusus atau special rate dari AS. Bahkan, perjanjian ART juga berpotensi memperbaiki struktur ekspor Indonesia dari sisi produk. Selama ini, ekspor ke China didominasi oleh komoditas mentah.

"Kalau kita bisa dapat special rate dari Amerika Serikat dan memperluas ekspor ke sana, ini bagus dari sudut pandang diversifikasi pasar,” katanya.

Lantaran, ia menilai ekspor ke China kerap diwarnai dengan raw commodity antara lain batu bara, CPO, dan nikel. Sebaliknya, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat lebih banyak didominasi produk manufaktur dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Seperti elektronik, footwear, tekstil, dan garmen.

Dengan karakteristik tersebut, Adjie menilai ART dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri manufaktur nasional, sekaligus meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia.

"Tentu dengan catatan, kita juga harus melihat hasil negosiasi Amerika Serikat dengan negara lain. Tapi kalau Indonesia termasuk yang paling diuntungkan, ini bisa membuka peluang ekspor yang lebih baik,” jelasnya.

Ia menegaskan, kesepakatan ART tidak hanya soal peningkatan volume ekspor, tetapi juga arah baru ekspor Indonesia yang lebih seimbang.

“Dari sisi diversifikasi produk, kita bisa dorong ekspor manufaktur ke AS. Dari sisi diversifikasi negara, kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap China yang semakin besar dalam 20 tahun terakhir,” jelas Adjie.

Industri Padat Karya Bakal Ketiban Untung

industri padat karya Indonesia ke depan dinilai berpotensi membaik, terutama bagi sektor yang sangat bergantung pada pasar Amerika Serikat (AS) seperti footwear, garment, dan tekstil. Hal ini dinilai setelah Indonesia dan AS menandatangani kesepakatan tarif resiprokal. 

Adjie mengatakan, dampak paling positif akan dirasakan jika Indonesia memperoleh perlakuan khusus dibandingkan negara pesaing. Dalam kondisi tersebut, daya saing produk Indonesia di pasar AS akan meningkat.

“Kalau ternyata Indonesia mendapatkan special treatment dan bisa masuk dengan tarif 0%, sementara pesaing masih dikenakan tarif tertentu, itu tentu sangat mendorong ekspor dan industri padat karya kita,” ujar Adjie.

Dengan demikian, prospek industri padat karya ke depan dinilai cukup menjanjikan, namun masih sangat bergantung pada detail implementasi kesepakatan tarif serta dinamika persaingan global di pasar AS.Ia menekankan, dampak positifnya masih bergantung pada detail teknis perjanjian dan posisi Indonesia dibanding negara pesaing di pasar AS. Apalagi, tperjanjian itu disebutkan terdapat sekitar 1.800 produk yang masuk dalam skema kerja sama tarif. 

“Ini kan masih baru sekali ya. Disebutkan ada 1.800 produk, tapi kita perlu lihat lebih detail lagi produk apa saja yang masuk,” jelasnya.

Adjie mengungkapkan, pemerintah sempat memberikan sinyal bahwa sektor tekstil dan garment berpeluang mendapatkan tarif masuk 0%. Namun, skema yang digunakan bukan penghapusan tarif penuh, melainkan tarif rate quota.

“Tekstil dan garment disebut bisa 0%, tapi mekanismenya tarif rate kuota. Dugaan saya, ada kuota tertentu yang tarifnya 0%, lalu di atas kuota itu baru dikenakan tarif lagi,” jelasnya

Efek Indonesia GabungBoard of Peace

Sementara itu, Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, menilai bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace tidak bisa dilepaskan dari strategi besar pemerintahan Presiden Prabowo untuk mempererat hubungan dengan Amerika Serikat (AS). Lalu bagaimana efek-nya?

“Terkait bergabungnya Indonesia ke Board of Peace dengan adanya iuran dan komitmen tertentu, ini memang akan membebani APBN. Tapi kalau kami melihatnya, ini juga bagian dari paket perjanjian dagang dengan Amerika Serikat,” ujar Faisal dalam konferensi pers disiarkan daring, Jumat (20/2/2026).

Menurut dia, pendekatan Indonesia ke AS merupakan strategi yang logis, mengingat AS masih menjadi ekonomi terbesar di dunia. Namun, Faisal mengingatkan manfaat ekonomi dari kesepakatan ini sangat bergantung pada seberapa eksklusif perlakuan yang diterima Indonesia.

Lantaran, ia melihat kesepakatan tarif yang masih menyisakan tantangan. Sebab dalam perjanjian tersebut, sebagian besar barang impor dari AS masuk ke Indonesia dengan tarif 0%, sementara produk Indonesia ke AS masih dikenakan tarif hingga 19% untuk sejumlah komoditas.

“Yang perlu diantisipasi, apakah deal ini benar-benar memberikan keunggulan khusus untuk Indonesia, atau juga diberikan ke negara pesaing kita. Kalau tidak eksklusif, dampaknya ke ekonomi tentu terbatas,” jelasnya.

Meski demikian, Faisal menilai tetap ada peluang bagi Indonesia untuk merebut pangsa pasar AS, terutama jika produk Indonesia mampu menggantikan pasokan dari negara lain yang terkena pembatasan atau sanksi AS.

Apagi jika melihat dari sisi fiskal, Faisal ingin melihat beban militer dan iuran kemanusiaan terlihat lebih besar atau justru lebih kecil dibanding tambahan penerimaan dari ekonomi dan investasi. 

“Kalau penerimaan naik, ruang fiskal juga akan terbuka,” ujar dia.   

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |