Gandum dan Kedelai Impor Bebas Tarif ke Indonesia, Industri Makanan-Minuman Bisa Tumbuh

10 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman menyambut baik pembebasan bea masuk kedelai dan gandum impor. Industri makanan dan minuman Indonesia diprediksi semakin kuat.

Diketahui, hal tersebut tertuang dalam kesepakatan perdagangan Agreement on Resiprocal Trade (ART) yang diteken Indonesia dan AS. Adhi memandang, beban masyarakat atas produk olahan dengan gandum dan kedelai bisa berkurang.

"Alternatif beberapa bahan baku pangan dari AS yang dibebaskan bea masuknya bisa mendukung pertumbuhan industri sekaligus menurunkan beban masyarakat serta meningkatkan daya saing," kata Adhi saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu (21/2/2026).

Dia memastikan, bahan baku industri yang di impor dari AS itu tidak akan mengganggu hasil produksi lokal. Sekalipun ada, jumlahnya belum bisa memenuhi kebutuhan skala industri.

"Bahan baku tersebut memang tidak ada atau tidak cukup tersedia di dalam negeri, sehingga tidak menggangu rekan-rekan petani. Yang penting pemerintah bisa mengatur keseimbangan dengan baik," tutur dia.

Adhi juga melihat beberapa komoditas asal Indonesia yang mendapat dari 0% masuk AS. Hal itu diyakini mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Amerika Serikat.

"Kami apresiasi upaya pemerintah Presiden, Menko Perekonomian dan seluruh jajaran yang telah bekerja keras negosiasi. Bersama asosiasi bahu membahu menyiapkan bahan negosiasi. Capaian ini bisa memberi dampak positif terhadap industri pangan di Indonesia," tandasnya.

Impor Gandum-Kedelai Bebas Bea Masuk

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan ada produk pertanian Amerika Serikat (AS) yang akan dibebaskan bea masuk ke Indoneisa. Utamanya, yakni gandum dan kacang kedelai.

Dia mengatakan, hal tersebut tertuang dalam perjanjian kesepakatan tarif resiprokal AS atau Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto. 

"Indonesia juga komitmen untuk memberikan fasilitas untuk produk Amerika dengan tarif 0 persen, karena utamanya Indonesia mengimpor produk pertanian, wheat, kemudian juga soya bean," kata Airlangga dalam konferensi per daring, Jumat (20/2/2026).

Masyarakat Tak Kena Tambahan Biaya

Dia menjelaskan, gandum sendiri menjadi bahan baku untuk tepung atau mi. Sedangkan, kedelai menjadi bahan baku utama untuk tahu dan tempe. "Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat," ucapnya.

Airlangga juga mengatakan, pemerintah Indonesia akan memberikan kemudahan perizinan impor dan standardisasi barang. Meskipun, belum ada rincian lebih lengkah mengenai hal tersebut.

"Indonesia akan memberikan kemudahan untuk perizinan import dan juga standarisasi barang, baik itu industri maupun perusahaan asal Amerika.

Indonesia juga komitmen untuk mengurangi hambatan tarif dan non-tarif, dan juga memberikan kepastian terutama di sektor ICT, kesehatan, dan farmasi," jelas dia.

Minyak Sawit RI Bebas Tarif Masuk AS

Sebelumnya, Sejumlah komoditas pertanian hingga produk manufaktur asal Indonesia tak akan dikenakam tarif bea masuk ke Amerika Serikat (AS). Ada minyak kelapa sawit, kakao, hingga tekstil dan garmen RI yang dibebaskan dari tarif resiprokal AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, hal tersebut tertuang dalam Agreement of Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Total ada, 1.819 pos tarif yang diatur dalam beleid tersebut, minyak sawit, kopi hingga kakao dibebaskan dari tarif.

"Minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0 persen," ungkap Airlangga dalam konferensi pers daring, Jumat (20/2/2026).

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |