Liputan6.com, Jakarta - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman menanggapi mengenai fenomena sepinya beberapa pasar tradisional yang berdampak pada penurunan omzet pedagang.
Ia menilai, situasi ini perlu dilihat secara menyeluruh agar tidak disalahartikan. Maman menuturkan,salah satu penyebab utama adalah pergeseran pola belanja masyarakat. Dahulu, orang lebih sering berbelanja langsung ke pasar konvensional, tetapi kini banyak yang beralih ke platform digital dan e-commerce. Hal ini menunjukkan adanya perubahan kebiasaan yang harus diantisipasi dengan baik.
"Nah artinya sekarang untuk mengantisipasi itu, ya kita harus memberikan edukasi atau meng-encourage pengusaha-pengusaha yang di pasar-pasar yang metode konvensional untuk mulai beradaptasi melalui media digital. Ini yang lagi mau kita dorong," ujar Maman Abdurrahman kepada media saat ditemui Jakarta, Rabu, 2 April 2025, dikutip Kamis (3/4/2025).
Maman melihat tren digitalisasi UMKM terus mengalami peningkatan. Berdasarkan laporan Deputi Usaha Kecil, jumlah pelaku usaha yang mulai berjualan secara online terus bertambah dari waktu ke waktu.
Pembelian Parcel Lebaran juga Beralih ke E-Commerce
Ketika ditanya mengenai tren pembelian parcel Lebaran yang kini banyak dilakukan melalui e-commerce, Maman pun mengakui hal tersebut.
"Jadi lebih praktis dibandingin kita harus stock lagi di satu titik, lalu kita bawa lagi ke tempat pengirim. Kalau sekarang kan dari tempat penjual, kita langsung kirim ke lokasi," ujar Maman.
Dia mengatakan, kemudahan ini menjadi faktor utama mengapa banyak masyarakat lebih memilih belanja online dibandingkan berkunjung langsung ke pasar.
Judi Online juga Berdampak pada Daya Beli Masyarakat
Selain pergeseran pola belanja, Maman juga menyoroti faktor lain yang memengaruhi daya beli masyarakat, salah satunya adalah maraknya judi online.
"Penurunan daya beli masyarakat itu juga ada faktor lain juga. Ini tadi saya selalu bilang, faktor marah ke judi online, itu juga luar biasa loh. Itu nggak bisa dianggap remeh," tegasnya.
Maman mengungkapkan temuan dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), yang mencatat bahwa dalam satu tahun, uang yang mengalir ke judi online mencapai Rp900 triliun.
"Jadi bayangkan kalau misalnya contoh ya, ada si A, baru dapat kiriman uang dari orang tuanya, Rp2 juta. Rp500 ribu atau Rp1 jutanya dipakai untuk judi online dan lain sebagainya," ujar Maman.
Namun, dia menambahkan tren judi online kini mulai menurun sejak pemerintah gencar melakukan penertiban. Dia berharap hal ini dapat berdampak positif pada peningkatan daya beli masyarakat.
Perubahan Budaya Lebaran Juga Berpengaruh
Selain itu, Maman juga menyoroti adanya perubahan budaya dalam perayaan Lebaran. Jika sebelumnya banyak masyarakat yang memilih mudik ke kampung halaman, kini semakin banyak yang memutuskan untuk merayakan Idul Fitri di tempat mereka masing-masing.
"Ya artinya bukan karena ketidakmampuan daya beli, tapi sudah mulai berubah kultur. Jadi yang tadinya mungkin mereka memilih untuk lebaran di kampung, akhirnya lebih banyak memilih lebaran di tempat mereka masing-masing. Jadi banyak faktor kalau kita melihat itu," jelasnya.
Meskipun ada berbagai faktor yang memengaruhi perputaran ekonomi di sektor UMKM, Maman menegaskan secara keseluruhan, fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang baik.
"Jadi saya pikir, tetapi dalam secara keseluruhan sih, secara fundamental ekonomi kita masih oke, masih bagus," kata Maman.
Reporter: Siti Ayu
Sumber: Merdeka.com