Liputan6.com, Jakarta - Deputi Bidang Neraca dan Analisis Wilayah BPS, Moh. Edy Mahmud mengungkapkan, konsumsi pemerintah pada kuartal II 2025 masih mencatatkan kontraksi sebesar minus 0,33 persen secara tahunan (year on year).
Edy menuturkan, kontraksi ini terjadi meskipun pemerintah telah membuka blokir anggaran. Salah satu penyebab utamanya adalah tingginya basis belanja pemerintah pada periode yang sama tahun lalu, yang dipicu oleh pengeluaran besar-besaran untuk pemilu dan persiapan pilkada serentak.
"Jadi, kalau kita me-recall memori kita di tahun lalu, pada triwulan II memang ada belanja, realisasi belanja pemerintah yang cukup tinggi. Itulah yang kemudian, tadi di Q2 ini belanja pemerintah, terutama belanja barang dan jasanya memang masih negatif," kata Edy dalam konferensi pers BPS, Selasa (5/8/2025).
Edy menjelaskan, meskipun blokir anggaran sudah dibuka oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, proses realisasi belanja tidak serta-merta langsung berjalan cepat. Masih ada tahapan administratif yang harus dilalui oleh masing-masing kementerian dan lembaga (K/L).
"Apakah tadi terkait blokir yang sudah dibuka, memang tidak serta-merta kemudian begitu blokir semua bisa belanja. Mungkin ada proses barangkali ya, nah ini memang tidak bisa disimpulkan tetapi bisa dipertanyakan barangkali nanti masing-masing di KL masing-masing," jelasnya.
Konsumsi Rumah Tangga Triwulan II-2025
Konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2025 tumbuh sebesar 4,97 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dan periode yang sama tahun lalu.
Edy, menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi ini didorong oleh melonjaknya kebutuhan primer dan meningkatnya mobilitas masyarakat.
"PKRT tumbuh lebih tinggi baik dibandingkan Q-2 2024 maupun Q-1 2025. Faktor yang mendorong konsumsi rumah tangga utamanya adalah meningkatnya kebutuhan primer dan mobilitas rumah tangga," kata Edy dalam konferensi pers BPS, Selasa (5/8/2025).
Faktor musiman seperti hari libur dan perayaan hari besar keagamaan turut memberikan dorongan signifikan terhadap belanja rumah tangga.
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II-2025
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 sebesar 5,12 persen secara tahunan atau year on year.
"Ekonomi Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-2025 atas dasar harga berlaku sebesar Rp5.947 triliun, atas dasar harga konstan Rp3.396 triliun, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 bila dibandingkan triwulan II tahun 2024 atau secara year on year tumbuh sebesar Rp 5,12 persen," ujar Edy.
Sementara, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara triwulan ke triwulan atau Q to Q pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2025 tumbuh 4,04 persen. "Pertumbuhan ekonomi q to q ini sejalan dengan pola musiman yang terjadi ditahun-tahun sebelumnya, yaitu pertumbuhan q to q di triwulan II lebih tinggi daripada triwulan I sebelumnya," ujarnya.