Konflik AS-Iran Memanas, Industri Penerbangan Global Hindari Wilayah Udara Teheran

3 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Iran kembali membuka wilayah udara pada Kamis waktu setempat setelah penutupan sementara selama beberapa jam yang sempat memicu kekhawatiran serius di kalangan maskapai penerbangan internasional. Penutupan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik menyusul ancaman intervensi militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Pembatasan penerbangan tersebut berakhir pada pukul 03.30 UTC atau sekitar pukul 22.30 EST pada Rabu malam, setelah diberlakukan selama kurang lebih lima jam. Selama periode tersebut, sebagian besar penerbangan masuk dan keluar Iran dihentikan, kecuali beberapa penerbangan internasional dari Teheran yang telah mendapatkan izin khusus dari otoritas penerbangan sipil Iran.

Dikutip dari CNBC, Kamis (15/1/2026), meski wilayah udara telah resmi dibuka kembali, data pelacak penerbangan FlightRadar24 menunjukkan bahwa hingga Kamis pagi waktu UTC, sebagian besar maskapai masih menghindari melintasi wilayah udara Iran. Aktivitas penerbangan yang mulai terlihat baru didominasi oleh maskapai domestik Iran, sementara maskapai asing masih bersikap hati-hati.

Penutupan wilayah udara Iran tidak terlepas dari ketegangan politik antara Teheran dan Washington. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengeluarkan pernyataan keras terkait penindakan aparat Iran terhadap gelombang protes anti pemerintah yang meluas di negara tersebut. Trump bahkan menyebut akan “datang menyelamatkan” para demonstran Iran jika kekerasan terus berlanjut.

Potensi Konflik Terbuka

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik terbuka, yang berdampak langsung pada sektor transportasi udara dan logistik internasional. Amerika Serikat dilaporkan telah memindahkan sebagian personel dan peralatan militernya dari sejumlah pangkalan di Timur Tengah, menyusul ancaman Iran yang akan menyerang fasilitas AS jika terjadi serangan militer.

Namun, nada Trump kemudian tampak melunak. Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Rabu malam, Trump mengklaim telah menerima jaminan bahwa pembunuhan terhadap demonstran di Iran telah berhenti. Ia mengatakan pemerintah AS akan “mengamati dan melihat” perkembangan situasi sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

Dari sisi industri penerbangan, ketidakpastian ini berdampak signifikan. Sejumlah maskapai internasional telah membatalkan atau mengalihkan rute penerbangan ke Teheran dalam beberapa hari terakhir. Maskapai terbesar India, IndiGo, menyatakan bahwa beberapa penerbangan internasionalnya terdampak akibat penutupan wilayah udara Iran.

Negara-negara beri Peringatan

Pemerintah Jerman juga telah mengeluarkan peringatan kepada maskapai penerbangannya untuk menghindari wilayah udara Iran. Lufthansa Group menegaskan akan terus menghindari wilayah udara Iran dan Irak hingga pemberitahuan lebih lanjut, serta membatalkan sejumlah penerbangan demi alasan keselamatan.

Sementara itu, Amerika Serikat tetap memberlakukan larangan bagi seluruh penerbangan komersial AS untuk melintasi wilayah udara Iran. Maskapai besar lainnya seperti Emirates, Qatar Airways, dan Turkish Airlines juga tercatat membatalkan beberapa penerbangan ke Iran dalam sepekan terakhir.

Ketegangan politik ini berakar dari krisis ekonomi yang semakin dalam di Iran. Protes besar-besaran meletus sejak akhir tahun lalu setelah nilai tukar mata uang nasional, rial, anjlok ke level terendah sepanjang sejarah. Kondisi tersebut memperparah krisis biaya hidup dan berkembang menjadi gerakan penentangan terhadap pemerintahan Iran.

Menurut kelompok hak asasi manusia HRANA yang berbasis di Amerika Serikat, bentrokan selama gelombang protes telah menewaskan sedikitnya 2.571 orang. Situasi ini terus menjadi sorotan global dan dinilai berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap stabilitas ekonomi, perdagangan, serta industri penerbangan di kawasan Timur Tengah.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |