India Lawan Balik Trump: AS juga Masih Bisnis dengan Rusia!

3 weeks ago 23

Liputan6.com, Jakarta - India menyebut ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengenakan tarif besar karena negara itu telah membeli minyak dari Rusia sebagai sesuatu yang tidak benar dan tidak masuk akal.

Presiden AS mengunggah pengumuman di Truth Social yang menyatakan akan menaikkan tarif India, dengan menyebutkan: “India tidak khawatir tentang berapa banyak orang di Ukraina yang tewas di tangan Mesin Perang Rusia.”

Dikutip dari BBC, Selasa (5/8/2025), India sudah menjadi salah satu pembeli utama minyak Rusia. Beberapa negara Eropa telah mengurangi perdagangan mereka sejak Rusia memulai invasi besar-besaran ke Ukraina pada 2022, menjadikannya pasar ekspor penting bagi Moskow.

Trump belum mengumumkan besaran tarif baru tersebut, tetapi ancaman tarif ke India tersebut muncul beberapa hari setelah ia mengumumkan tarif substansial sebesar 25 persen untuk India.

Dalam pernyataan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, mengindikasikan bahwa AS pada awal konflik dengan Rusia telah mendorong India untuk mengimpor gas Rusia, “untuk meningkatkan kesehatan pasar energi global.”

Ia mengatakan “India mulai mengimpor dari Rusia karena pasokan tradisional dialihkan ke Eropa setelah pecahnya konflik," jelas dia. 

Tindakan Amerika yang Ironis

India bahkan mengkritik AS - mitra dagang terbesarnya, atas penerapan tarif tersebut, padahal AS masih berbisnis dengan Rusia.

Meskipun ada sanksi dan tarif yang ketat, tahun lalu AS mengekspor sekitar USD 3,5 miliar (poundsterling 2,6 miliar) barang ke Rusia.

“Seperti negara besar ekonomi besar lainnya, India mengambil semua  langkah penting yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional dan keamanan ekonominya,”  ungkap pernyataan kementerian luar negeri.

“Menjadikan India sebagai target merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan dan tidak masuk akal,” lanjutnya.

Minggu lalu, Trump menganggap India sebagai seorang “teman” tetapi mengatakan tarif kepada barang AS “terlalu tinggi” dan dia memperingatkan “hukuman” yang tidak ditentukan atas perdagangan dengan Rusia.

Pada unggahan Truth Social kembali melontarkan kritik keras.

“India bukan hanya membeli minyak Rusia dalam jumlah besar, mereka juga menjual sebagian besar minyak yang dibeli di pasar terbuka untuk mendapat keuntungan yang besar,” tulis Trump.

“Oleh karena itu, saya akan menaikkan tarif yang dibayarkan India kepada AS secara substansial,” Tambahnya.

Respon India Atas Tindakan Trump

Perdana Menteri India, Narendra Modi, belum memerintahkan India untuk berhenti membeli minyak Rusia.

Menurut Ajay Srivastava, mantan pejabat perdagangan India dan kepala Global Trade Research Initiative (GTRI), sebuah lembaga riset yang berbasis di Delhi, Trump menyebarkan pernyataan menyesatkan ketika mengklaim bahwa India berdagang minyak dengan Rusia.

Menurutnya, kepada BBC, perdagangan tersebut telah terbuka dan disaksikan secara luas oleh AS.

Menanggapi sanksi Barat, yang menyebabkan gangguan pasokan, Srivastava mengatakan India meningkatkan akuisisi minyaknya dengan satu tujuan untuk menstabilkan pasar dunia, dan dalam prosesnya mencegah guncangan harga minyak global.

Ia juga menunjukkan bahwa kilang minyak publik dan swasta di India membuat keputusan untuk membeli minyak mentah di lokasi yang menawarkan harga terbaik, keamanan pasokan, dan peraturan yang mengatur kontak ekspor. Mereka tidak bergantung pada pemerintah dan pemerintah tidak memiliki suara dalam pembelian apa pun di Rusia atau di tempat lain.

“saya ‘kecewa tapi belum selesai’ dengan putin,” kata Trump dilaporkan oleh BBC.

Kata Trump soal Putin

Meskipun hubungan AS-Rusia membaik setelah Trump bertemu di Gedung Putih pada bulan Januari, presiden AS belakangan ini melunak dalam retorikanya terhadap Kremlin dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Trump berpendapat bahwa Putin adalah sosok yang cinta damai dengan Ukraina. Bahasanya yang tajam di acara Truth Social pada hari Senin, di mana ia mengatakan dengan keras bahwa militer Rusia sebagai "Mesin Perang Rusia".

Pemimpin Rusia telah membuat beberapa pernyataan bahwa ia bersedia berdamai dengan syarat Kyiv dapat mematuhi beberapa ketentuan, termasuk pengakuan atas wilayah Ukraina yang telah diduduki oleh Rusia.

Trump mengancam Moskow dengan mengenakan tarif yang berlebihan terhadap ekspor minyak dan komoditas lainnya jika mereka tidak dapat menegosiasikan gencatan senjata dengan Ukraina pada tanggal 8 Agustus.

Utusan AS Steve Witkoff akhir pekan ini akan mengunjungi Rusia dan bertemu dengan Putin.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |