Demi Cabut Sanksi, Iran Siap Kompromi dengan AS Terkait Program Nuklir

9 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Iran menyatakan bahwa potensi kerja sama ekonomi di sektor energi, pertambangan, hingga pembelian pesawat terbang tengah dibahas dalam rangkaian negosiasi dengan Amerika Serikat (AS). Langkah ini disebut sebagai upaya untuk mencapai kesepakatan nuklir baru yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara.

Seorang diplomat Iran mengatakan pembicaraan yang berlangsung beberapa waktu terakhir bertujuan tidak hanya meredakan ketegangan geopolitik, tetapi juga membuka peluang investasi dengan imbal hasil tinggi dan cepat bagi kedua pihak. Negosiasi lanjutan dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat antara delegasi Teheran dan Washington.

Dikutip dari CNBC, Senin (16/2/2026), Pemerintah AS, di bawah Presiden Donald Trump, disebut lebih memilih jalur diplomasi meski tetap menyiapkan opsi tekanan jika perundingan gagal. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa upaya mencapai kesepakatan dengan Iran bukan hal mudah, namun tetap akan dicoba melalui negosiasi.

Di sisi Iran, Wakil Direktur Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Hamid Ghanbari menekankan pentingnya kepentingan ekonomi bersama agar kesepakatan berkelanjutan. Ia menyebut kerja sama di ladang minyak dan gas, investasi pertambangan, hingga transaksi pembelian pesawat termasuk dalam agenda pembahasan.

Fokus pada Keuntungan Ekonomi Bersama

Iran menilai kesepakatan nuklir 2015 sebelumnya belum memberikan manfaat ekonomi langsung bagi AS. Kesepakatan tersebut kemudian runtuh setelah Washington menarik diri pada 2018 dan kembali menerapkan sanksi ekonomi terhadap Teheran.

Negosiasi saat ini berbeda karena dilakukan secara bilateral antara Iran dan AS, dengan Oman bertindak sebagai mediator. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah bertolak ke Jenewa untuk mengikuti pembicaraan tidak langsung dengan delegasi AS serta bertemu pejabat badan pengawas nuklir PBB.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht Ravanchi juga mengisyaratkan kesiapan negaranya untuk berkompromi terkait program nuklir, termasuk kemungkinan menurunkan tingkatkandungan uranium dengan imbalan pencabutan sanksi. Namun Iran menegaskan tidak akan menerima penghentian total pengayaan uranium di dalam negeri.

Tekanan Geopolitik dan Kepentingan Energi

Di tengah negosiasi, tekanan geopolitik tetap tinggi. AS disebut berupaya menekan ekspor minyak Iran ke China, yang saat ini menyerap lebih dari 80% pengiriman minyak negara tersebut. Langkah itu berpotensi memengaruhi pendapatan utama Iran jika benar-benar diterapkan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut menyoroti negosiasi tersebut. Ia menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup pembongkaran infrastruktur nuklir Iran secara menyeluruh, bukan sekadar penghentian sementara proses pengayaan uranium.

Netanyahu juga menyatakan Israel berencana mengurangi ketergantungan pada bantuan militer AS secara bertahap dalam satu dekade ke depan, seiring pertumbuhan ekonomi domestik yang dinilai semakin kuat. Ia menyebut hubungan kedua negara di masa depan diharapkan bergeser dari bantuan menuju kemitraan strategis.

Jika kesepakatan tercapai, peluang investasi di sektor energi dan pertambangan Iran berpotensi terbuka kembali bagi perusahaan internasional. Selain itu, pelonggaran sanksi juga dapat memulihkan perdagangan minyak Iran serta meningkatkan aktivitas ekonomi kawasan Timur Tengah.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |