BI Bersama Bank Sentral Malaysia dan Thailand Perluas Pemakaian Mata Uang Lokal

3 weeks ago 27

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI), Bank Negara Malaysia (BMN) dan Bank of Thailand (BOT) menunjuk bank peserta baru Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) untuk menyelesaikan transaksi bilateral memakai mata uang lokal (Local Currency Transaction Framework/LCTF) di ketiga negara.

Bank ACCD baru itu akan turut memfasilitasi transaksi antarnegara untuk perdagangan barang, jasa, investasi langsung dan transaksi investasi portofolio. Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan harmonisasi operasional LCTF pada 17 Februari 2025.

Perluasan peserta Bank ACCD akan memperkuat jangkauan layanan kepada konsumen, meningkatkan akses likuiditas mata uang lokal dan memberikan pelaku usaha keragaman pilihan layanan pembayaran  lintas batas antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Berikut daftar bank ACCD baru pada masing-masing kerja sama LCT:

MYR-IDR LCTF

Bank ACCD Malaysia:

1.AmBank (M) Berhad

2.Bank of China (Malaysia) Berhard

3.OCBC Bank Malaysua Berhad

4.Standard Chartered Bank Malaysia Berhad

5.Sumitomo Mitsui Banking Corporation Malaysia Berhad

Bank ACCD Indonesia:

1.PT Bank Danamon Indonesia Tbk

2.PT Bank OCBC NISP Tbk

3.PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk

4.Bank of China (Hong Kong) Limited Jakarta Branch

MYR-THB LCTF:

Malaysian ACCD Malaysia:

1.AmBank (M) Berhad

2.Bank of China (Malaysia) Berhad

3.Hong Leong Bank Berhad

4.OCBC Bank Malaysia Berhad

5.Sumitomo Mitsui Banking Corporation Malaysia Berhad

Bank ACCD Thailand:

1.Bank of China (Thai) Publik Company Limited

IDR-THB LCTF

Bank ACCD Indonesia:

1.PT Bank OCBC NISP Tbk

2.Bank of China (Hong Kong) Limited Jakarta Branch

Bank ACCD Thailand

1.Bank of China (Thai) Public Company Limited)

BI Catat Transaksi LCT Melonjak hingga Sentuh Rp 191 Triliun

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi Local Currency Transaction (LCT) mencapai USD 11,7 miliar atau Rp 191,05 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 16.329) hingga pertengahan 2025. Nilai transaksi itu naik tajam dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar USD 4,70 miliar atau Rp 76,7 triliun.

Adapun transaksi LCT tersebut merupakan penyelesaian transaksi secara bilateral antarnegara dengan memakai mata uang masing-masing negara. Selain itu, BI mencatat rata-rata jumlah nasabah LCT juga melonjak sekitar 45% dibandingkan tahun sebelumnya.

"Untuk itu Satuan Tugas Nasional LCT akan terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional,” ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta dalam Pertemuan Komite Kerja Tingkat Deputi Satgasnas LCT di Bank Indonesia, Jumat (25/7/2025), yang menyepakati rencana strategis dan program kerja hingga 2026.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Negara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan menyoroti peran penting LCT dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi, di tengah dinamika global maupun domestik.

Pemerintah telah mengupayakan berbagai kebijakan baik untuk memitigasi dampak kebijakan tarif AS dan geopolitik global, melalui proses negosiasi tarif dengan AS dan juga menyepakati I-EU CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement), serta terus melakukan mitigasi risiko domestik melalui berbagai stimulus untuk menjaga daya beli dan mendorong konsumsi serta investasi.

Mengingat risiko global masih berpotensi mengganggu stabilitas nilai tukar, Ferry Irawan mengajak Kementerian dan Lembaga terkait untuk berkomitmen sesuai peranannya dalam mendorong perluasan penggunaan LCT, terutama pada sektor-sektor ekonomi potensial seperti sektor Pertambangan, Mineral, dan Migas serta sektor Pertanian dan Agroindustri.

Perkembangan Positif LCT

Perkembangan positif LCT sejalan dengan komitmen dan konsistensi Satgasnas LCT dalam melakukan penguatan sinergi antarotoritas dan mitra strategis, penyesuaian kebijakan insentif, serta sosialisasi yang targeted, terintegrasi, dan terencana, termasuk kepada pelaku usaha ekspor-impor.

Deputi Gubernur BI Filianingsih menegaskan capaian tersebut didukung oleh upaya menjangkau pemanfaatan LCT lebih luas di berbagai sektor dan wilayah, termasuk perluasan partisipan Bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Perluasan kerja sama LCT terus dilakukan dengan penambahan negara mitra baru, yaitu Korea Selatan pada September 2024 dan Uni Emirat Arab pada Januari 2025.

"Kerja sama dengan negara mitra eksisting seperti Malaysia dan Thailand, juga terus diperkuat melalui perluasan cakupan transaksi untuk mendukung investasi portofolio, yang mulai diimplementasikan Maret 2025 serta  penandatangan MoU penguatan LCT dengan Tiongkok,” ujar Filianingsih.

Perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara diharapkan dapat semakin berkontribusi nyata terhadap penguatan stabilitas makroekonomi nasional, sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar yang bersumber dari dinamika global.

Ke depan, Kementerian/Lembaga anggota Satgas Nasional LCT akan makin memperkuat koordinasi dan sinergi kebijakan, serta menyelaraskan program kerja lintas sektor, termasuk melalui asesmen, survei berkala, dan pertukaran data, untuk mengoptimalkan implementasi LCT serta memastikan dampak positifnya bagi masyarakat.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |