Terbongkar, Biang Kerok Rupiah Terus Melemah di Awal 2026

8 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu oleh dinamika global, terutama lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan penguatan dolar AS.

Menurut Perry, kenaikan yield US Treasury tenor 2 tahun dan 3 tahun membuat aset keuangan Amerika Serikat semakin menarik bagi investor global. Kondisi tersebut mendorong pergeseran portofolio dari negara berkembang ke negara maju, termasuk arus modal keluar dari Indonesia.

"Tentu saja kondisi global baik karena geopolitik kemudian juga kebijakan tarif Amerika tapi juga tingginya us treasury yield baik 2 tahun, 3 tahun, juga lebih rendahnya bahkan kemungkinan Fed Fund Rate turun yang kemungkinan lebih kecil," kata Perry dalam RDG Janauri 2026, Rabu (21/1/2026).

Perry menjelaskan bahwa kenaikan yield US Treasury tidak terlepas dari persepsi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Peluang penurunan Fed Fund Rate yang semakin kecil membuat investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk memegang aset dolar.

Kondisi tersebut memperkuat dolar AS secara global dan memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Perry menegaskan fenomena ini bukan hanya dialami Indonesia, melainkan terjadi di banyak negara lain.

"Di samping juga kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika. Dan tentu saja pelemahan nilai tukar itu juga terjadi di berbagai negara," ujarnya.

Arus Modal Keluar Capai USD 1,6 Miliar di Awal 2026

Seiring tekanan global tersebut, Perry mengungkapkan sepanjang awal 2026 hingga 19 Januari tercatat arus modal asing keluar (net outflow) sebesar USD 1,6 miliar. Aliran keluar ini terutama terjadi di pasar keuangan, sejalan dengan meningkatnya daya tarik aset di Amerika Serikat.

Selain faktor global, kebutuhan valuta asing dari korporasi domestik juga turut memperbesar tekanan di pasar valas. Perry menyebut permintaan valas yang tinggi datang dari sejumlah korporasi besar, termasuk BUMN sektor energi dan infrastruktur.

"Aliran modal asing keluar juga karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun juga Danantara dan juga persepsi pasar, ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur," ujarnya.

BI Siap Intervensi Besar

Menghadapi tekanan tersebut, Perry menegaskan BI tidak ragu melakukan intervensi secara agresif di pasar valuta asing. Langkah stabilisasi dilakukan melalui intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF) luar negeri, maupun DNDF di dalam negeri.

"Kami tegaskan BI tidak segan-segan kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF," ungkapnya.

Selain itu, Bank Indonesia akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat didukung oleh kondisi fundamental ekonomi yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang merendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |