Pengamat: Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Tak Terkait Pencalonan Thomas Djiwandono di BI

7 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai bukan disebabkan oleh isu pencalonan figur tertentu di Bank Indonesia. Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menegaskan, tekanan terhadap rupiah bersumber dari persoalan global yang jauh lebih kompleks dan struktural.

"Pelemahan mata uang rupiah itu bukan semata-mata karena Thomas Djiwandono ya mencalonkan diri sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah sudah terjadi sejak awal 2025 dan berlangsung konsisten hingga saat ini. Kondisi tersebut bertepatan dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik hingga perubahan arah kebijakan ekonomi negara-negara besar.

"Dari sebelum-sebelumnya rupiah ini terus mengalami pelemahan. Pelemahan mata uang rupiah ini memang dari awal dari dilantiknya Trump ya dari awal tahun 2025 ini terus mengalami pelemahan bahkan sampai saat ini pun juga mengalami pelemahan," ujarnya.

Ia menilai, mengaitkan pelemahan rupiah dengan pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia adalah kesimpulan yang keliru. Sebab, tekanan terhadap rupiah telah terjadi jauh sebelum isu tersebut mencuat ke publik.

"Orang yang mengatakan bahwa Thomas Djiwandono yang ini membuat rupiah melemah ini menurut saya tidak," ujarnya.

Geopolitik dan Perang Dagang Jadi Sumber Tekanan Utama

Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti eskalasi konflik geopolitik di berbagai kawasan dunia. Ketegangan di Timur Tengah dan Eropa menciptakan ketidakpastian global yang mendorong investor mencari aset aman, terutama dolar Amerika Serikat, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Tekanan Makin Kuat

Tekanan semakin kuat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tambahan tarif impor terhadap sejumlah negara Uni Eropa. Kondisi ini membuat pasar global semakin defensif dan berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kemudian Trump pun juga ya mengenakan tarif biaya impor sebesar 10 persen tambahan yang akan berlaku di bulan Februari menjadi 25 persen terhadap delapan negara Uni Eropa," ujarnya.

Isu BI Dinilai Hanya Berpengaruh Kecil

Ibrahim menegaskan, isu pencalonan Thomas Djiwandono di Bank Indonesia hanya memberi dampak yang sangat terbatas terhadap pergerakan rupiah.

Dia menuturkan, faktor tersebut tidak cukup kuat untuk menggerakkan pasar secara signifikan dibanding tekanan eksternal yang berskala global. Ia menilai Bank Indonesia tetap memiliki mekanisme dan kredibilitas yang kuat dalam menjaga stabilitas moneter. Oleh karena itu, masuk atau tidaknya satu figur ke jajaran BI tidak serta-merta mengubah persepsi pasar secara drastis.

"Ya karena Thomas Djiwandono dicalonkan sebagai Deputi maupun tidak rupiah masih akan tetap melemah. Karena, ada kemungkinan besar hari ini atau besok rupiah itu akan tembus di level Rp 17.000," pungkasnya.

Loyo Lawan Dolar AS, Rupiah Nyaris Tembus 17.000 per USD Hari Ini 20 Januari 2026

Sebelumnya, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini Selasa 20 Januari 2026. Kurs rupiah bergerak melemah 30 poin atau 0,18 persen menjadi 16.985 per USD dari sebelumnya 16.955 per USD.

Namun Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah berpotensi menguat seiring dolar AS yang tertekan oleh aksi jual obligasi AS.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali tertekan oleh aksi jual obligasi AS oleh investor,” katanya dikutip dari Antara, Selasa (20/1/2026).

Aksi jual ini melonjakkan imbal hasil obligasi AS dari kisaran 4,13 persen ke 4,25 persen.

Di sisi lain, penguatan diprediksi terbatas mengingat investor masih wait and see jelang Rapat Dewan Gubernur (RDB) Bank Indonesia (BI) yang diadakan pada Rabu (21/1).

Adapun perihal pengunduran diri Juda Agung sebagai Deputi Gubernur BI dinilai tak memberikan dampak yang signifikan terhadap rupiah.

“Perihal pengunduran diri Deputi BI memang bukan hal yang positif, namun apapun alasannya, dampaknya tidak akan besar dibandingkan hal-hal yang dikhawatirkan saat ini seperti defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga BI,” ungkap Lukman.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diperkirakan berkisar 16.700-Rp17 ribu per dolar AS.

Awas, Rupiah Diramal Tembus 17.000 per USD

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang rupiah akan kembali melemah pada perdagangan hari ini direntang Rp 16.950 hingga Rp 16.980.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp 16.950- Rp 16.980," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).

Adapun ada perdagangan sebelumnya, Senin (19/1) mata uang rupiah melemah dilevel Rp 16.955.

"Pada perdagangan sore (19/1), mata uang rupiah ditutup melemah 68 point  sebelumnya sempat melemah 75 point  dilevel Rp 16.955 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.896," ujarnya. 

Kekhawatiran terhadap Fiskal

Di dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni, demi mendukung agenda pertumbuhan Presiden Prabowo Subianto di tahun 2029 sebesar 8%, maka  pemerintah akan mencoba menerapkan kebijakan yang relatif tidak lazim sehingga adanya risiko jangka menengah yang lebih besar , yang dapat memicu sentimen negatif lebih lanjut terhadap rupiah. 

Selain itu, kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia kembali mencuat setelah terungkap pada 8 Januari 2026 bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum sebesar 3%, sementara penerimaan negara masih lemah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah.  

"Walaupun, Bank Indonesia melakukan intervensi untuk mengendalikan volatilitas, terdapat cukup banyak keterbatasan dari sisi kebijakan. Bank Indonesia secara rutin melakukan pembelaan terhadap rupiah baik di pasar DNDF maupun pasar NDF. Namun, toleransi Bank Indonesia terhadap pelemahan rupiah yang moderat dapat membatasi efektivitas intervensi tersebut," ujarnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |