Belajar dari Thailand, Berasnya Harus Dikelola Tak Hanya Ditumpuk

2 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti CORE Indonesia sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Andreas Santosa mengingatkan pemerintah untuk mengelola stok beras agar tidak menjadi kerugian negara. Andreas mengatakan, Thailand pernah berada dalam kondisi serupa ketika Perdana Menteri Yingluck Shinawatra disebut membuat stok beras Thailand menumpuk hingga 15,5 juta ton.

"Dan ini memukul ekspor beras Thailand, sehingga negara rugi USD8 miliar. Ini nanti kami ingatkan lagi, ini negara (Indonesia) nanti ada potensi rugi besar ini, si Bulog,” katanya dalam diskusi di CORE Indonesia, Selasa (20/1/2026).

Maka dari itu, lanjut Andreas, agar tidak memberikan kerugian, pemerintah perlu melakukan perhitungan pelepasan yang matang. Secara khusus, ia menekankan pentingnya kehati-hatian pemerintah dalam mengelola cadangan beras sehingga tidak terjebak pada kebijakan stok besar.

Andreas menyoroti, stok awal tahun Bulog yang menurutnya sudah cukup besar dengan 3,36 juta ton. Belum lagi, kini pemerintah masih berambisi menambah stok hingga 7 juta ton.

Untuk itu, Andreas berharap, Bulog bisa secara mandiri menghitung strategi pengelolaan stok secara profesional tanpa intervensi kepentingan lain di luar fungsi stabilisasi pangan. Alhasol, stok bisa dikelola untuk menjaga stabilitas harga serta pasokan dan tanpa menciptakan pemborosan fiskal.

"Bukan kemudian Bulog ditimbun beras sedemikian besar, enggak tahu cara menjualnya, melepaskannya," ujar dia.

Waspada Cuaca Ekstrem, Harga Pangan Berpotensi Melonjak Jelang Ramadan 2026

Sebelumnya, cuaca ekstrem yang diprediksi hingga Maret 2026 turut membayangi kenaikan harga pangan nasional. Pasalnya, stok pangan bisa berkurang imbas gagal panen di sejumlah komoditas pangan.

Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah menilai ada kekhawatiran cuaca ekstrem membuat sektor pertanian gagal panen. Akhirnya, stok menipis dan mengerek harga di tingkat konsumen.

"Setiap momen hari raya permintaan pangan cenderung naik. Tahun lalu rata-rata naik hingga 7 persen. Kenaikan ini diikuti dengan kenaikan harga yang kerap berujung inflasi yang naik pula," kata Said saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (7/1/2026).

Menurutnya, perlu ada antisipasi terhadap kondisi pertanian saat ini yang dihadapkan dengan cuaca ekstrem. Said memandang ada beberapa komoditas yang memang rentan terhadap cuaca.

"Situasi sekarang yang banyak hujan tentu dapat mempertaruhkan produksi pertanian terutama pada tanaman hortikultura juga padi. Serangan hama penyakit yang meningkat, kegagalan panen menjadi situasi yang terjadi," tuturnya.

Mengingat lagi, produksi hortikultura misalnya yang hanya terkonsentrasi di beberapa wilayah saja. Alhasil, jika terdampak cuaca ekstrem, bisa berpengaruh ke pasokan di daerah lain.

"Kelangkaan pasok ini menyebabkan harga terkerek naik. Tentu ini bisa beresiko karena di momen permintaan tinggi stok harusnya juga tinggi. Situasi ini haruslah bisa diantisipasi dengan baik. Karena produksi pertanian kita terutama Horti dan padi terkonsentrasi pada wilayah tertentu saja," beber Said Abdullah.

Pasokan Cabai Aman Jelang Ramadan

Sebelumnya, pasokan cabai dipastikan mampu memenuhi kebutuhan ramadan meski kebun petani lokal dibayangi cuaca ekstrem beberapa waktu belakangan ini. Namun, petani berharap ada bantuan biaya logistik agar harga bisa terkendali.

Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro, memastikan produksi cabai bisa mencukupi kebutuhan pada hari besar keagamaan nasional (HBKN) seperti ramadan nanti. Tingkat produksi petani, diakuinya sesuai dengan hitungan pemerintah.

"Artinya data dari lapangan maupun yang dipegang pemerintah itu tidak terlalu jauh melesetnya, kami prudent, kami optimis untuk HBKN itu akan aman," kata Tunov saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (6/1/2026).

Terdampak Cuaca

Dia mengamini ada tantangan dari cuaca ekstrem selama proses produksi cabai di berbagai wilayah. Tekanan dari cuaca ini bisa mempengaruhi harga di pasaran nantinya, termasuk di tingkat petani.

Kendati begitu, dia kembali memastikan jumlah produksi cabai bisa memenuhi kebutuhan, menyusul proyeksi panen raya cabai di awal tahun 2026 ini.

"Memang cuaca nanti akan menentukan harga. Tapi kalau secara produksi, kami petani sudah menyiapkan lebih banyak daripada kebutuhan," sebutnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |