Kurs Dolar AS Perkasa, Rupiah Sentuh 16.819 Hari Ini 9 Januari 2026

17 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lesu pada perdagangan Jumat, (9/1/2026). Kurs dolar AS yang perkasa terhadap rupiah tersebut dipicu data pekerjaan AS yang lebih baik dari prediksi.

Rupiah merosot 21 poin atau 0,13% menjadi 16.819 per dolar AS dari sebelumnya 16.798 per dolar AS. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp 16.834 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.801 per dolar AS.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menilai, nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS imbas data pekerjaan AS yang lebih baik dari prediksi. “Rupiah masih melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat setelah data-data pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan,” kata Ariston seperti dikutip dari Antara, Jumat pekan ini.

Challenger, Gray & Christmas melaporkan pemutusan hubungan kerja menurun sebesar 8,3 persen year on year (yoy) pada Desember 2025 menjadi 35.553, level terendah sejak Juli 2024.

Sementara itu, US Initial Jobless Claims untuk pekan yang berakhir 3 Januari 2025 naik menjadi 208 ribu dari 200 ribu pada pekan sebelumnya, tetapi tetap di bawah ekspektasi pasar sebesar 212 ribu.

Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS merilis laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) bulan November 2025 yang menunjukkan lowongan pekerjaan menurun menjadi 7,14 juta, turun dari 7,44 juta dibandingkan Oktober.

Sentimen Dalam Negeri

Perubahan Ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP) juga menunjukkan penggajian swasta meningkat sebesar 41 ribu pada Desember, kurang dari perkiraan sebesar 47 ribu, tetapi menandai peningkatan yang jelas dari kehilangan pekerjaan sebesar 29 ribu pada November.

“Pelemahan rupiah ini sebelumnya juga mendapatkan dorongan dari persoalan bencana (Sumatera) dan stimulus fiskal serta moneter yang belum mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Aris.

Di samping itu, pelemahan rupiah tertahan laporan Bank Indonesia (BI) terkait keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi yang tetap kuat pada Desember 2025, sebagaimana terindikasi dalam hasil Survei Konsumen Bank Indonesia.

Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 yang berada pada level optimis atau indeks lebih dari 100, yakni sebesar 123,5.

“Kalau lihat bulannya adalah Desember, indeks kepercayaan konsumen lebih baik karena peningkatan konsumsi jelang akhir tahun,” ujar dia.

Kurs Dolar Menguat, Rupiah Melemah ke Rp 16.829 per Dolar AS

Sebelumnya, kurs dolar terhadap rupiah kembali menguat pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat, 9 November 2026. Nilai tukar rupiah tercatat melemah 31 poin atau 0,18 persen ke level Rp 16.829 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 16.798 per dolar AS.

Pelemahan rupiah ini dipengaruhi sentimen domestik, terutama terkait kondisi fiskal Indonesia. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang menunjukkan pelebaran defisit fiskal.

“Defisit fiskal melebar menjadi 2,92 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto), di atas perkiraan resmi sebesar 2,78 persen dari PDB,” ucapnya dikutip dari Antara.

Data Kementerian Keuangan mencatat realisasi sementara defisit APBN 2025 mencapai Rp 695,1 triliun hingga 31 Desember 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan target awal defisit dalam APBN 2025 sebesar 2,53 persen dari PDB.

Pelebaran defisit tersebut membuat pergerakan rupiah cenderung tertekan, seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas fiskal dan pembiayaan anggaran ke depan.

Realisasi Defisit APBN 2025

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa realisasi defisit APBN 2025 juga lebih besar dibandingkan proyeksi laporan semester yang berada di kisaran 2,78 persen dari PDB. Bahkan, posisi defisit hampir menyentuh batas maksimal yang ditetapkan undang-undang, yakni 3 persen dari PDB.

Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar terhadap aset keuangan domestik, termasuk nilai tukar rupiah. Investor cenderung bersikap lebih hati-hati, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan fiskal dan pembiayaan defisit.

Di sisi lain, pergerakan kurs dolar juga dipengaruhi dinamika global. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat memberikan sinyal beragam terkait kekuatan ekonomi Negeri Paman Sam, yang pada akhirnya berdampak pada permintaan dolar AS di pasar global.

Kombinasi sentimen domestik dan eksternal tersebut membuat rupiah bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah pada awal perdagangan hari ini.

Sentimen Eksternal

Dari sisi global, lembaga Challenger, Gray & Christmas melaporkan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat turun 8,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2025 menjadi 35.553. Angka ini menjadi level terendah sejak Juli 2024 dan mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif solid.

Sementara itu, data US Initial Jobless Claims untuk pekan yang berakhir 3 Januari 2025 tercatat naik menjadi 208 ribu, dari 200 ribu pada pekan sebelumnya. Meski meningkat, angka tersebut masih berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan 212 ribu klaim.

“Di sisi eksternal, neraca perdagangan AS pada Oktober 2025 mencatat defisit terkecil sejak 2009, menyempit menjadi 29,4 miliar dolar AS di tengah impor yang lebih lemah,” ungkap Josua.

Kondisi ekonomi AS yang relatif solid ini turut menopang penguatan kurs dolar, sehingga memberikan tekanan tambahan bagi pergerakan nilai tukar rupiah.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |